ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM


__ADS_3

Namaku Aara Amelia. Aku seorang gadis yatim piatu. Hidup sendirian, tinggal dikosan dan berjualan macam-macam keripik setiap hari. Aku murid terbodoh disekolah. Dua kali nunggak kelas. Naik kelas itupun atas dasar rasa kasihan para guru dan kepala sekolah. Entahlah padahal sudah belajar tapi semuanya hanya angin yang mondar mandir tanpa tujuan dikepalaku.


Aku sudah biasa dapat nilai nol. Bahkan murid yang selalu kena remedial hampir disemua pelajaran. Tapi aku tidak malu dan pede saja toh aku sudah berusaha. Wajahku cantik tapi otakku kosong. Aku sering berjualan keripik dengan segala cara bahkan trik ini itu ku lakukan. Maklum tak ada pekerjaan yang sesuai denganku. Setiap pekerjaan yang ku lakukan selalu gagal total dan merugikan orang.


Beberapa hari lalu aku menemukan bayi. Aku tak tahu bayi siapa. Awalnya aku tak mau mengurusnya. Aku taruh dia didepan pintu rumah orang tapi aku ambil lagi. Aku taruh dikursi taman tapi aku ambil lagi. Sampai aku taruh ditoilet umum ujung-ujungnya aku ambil lagi. Semua itu karena aku tak tega. Meskipun hidup sendiri saja sudah susah ditambah merawat bayi, hidupku semakin sengsara. Penghasilan dari jualan keripik tak seberapa.


Aku menamai bayi itu dengan nama Bobo. Karena dia lebih sering bobo dari pada bangun. Bobo termasuk bayi yang anteng. Aku ajak kesana sini jualan keripik dia tak pernah rewel. Tapi masakahnya aku jadi belum bisa sekolah karena bingung menitipkan Bobo pada siapa.


Malam itu susu formula Bobo habis. Aku tak punya uang. Aku harus membeli susu untuknya kalau tidak dia bisa kelaparan dan rewel. Aku berjalan bolak-balik dikamar kosanku.


"Aduh gimana caranya dapat uang cepat? jualan keripik malem-malem gini nanti dikira setan. Tapi kalau melambai ditepi jalan dikira jablay. Aku harus gimana?"


"Aku punya ide..." pekikku.


Aku menggendong Bobo diranselku yang ku desain sendiri dengan tambahan kain jarit. Maklum aku tak punya uang membeli gendongan masa kini. Sambil menggendong Bobo dibelakang, aku berjalan ditepi jalan. Untuk naik bus saja aku tak punya uang.


"Tidak, aku harus semangat, nilai nol saja aku tak patah arang. Selama masih ada hari esok masih ada harapan, maju terus siapa tahu besok nilaiku +1" ucapku pede.


Aku tak pernah berharap nilaiku sepuluh maklum sudah mengukur kemampuan diri. Malam itu aku pergi ke sebuah klub malam yang cukup ramai. Baru mau masuk penjaga keamanan klub menghadangku, bisa dibilang mereka sekuritinya tapi tubuhnya tinggi besar dan kekar.


"Hei kau mau ngapain kesini bocah kecil?"


"Ngamen Om" ujarku tanpa rasa bersalah, polos deh.


"Ngamen? ini bukan tempat ngamen. Dibus saja"


"Nah itu dia masalahnya Om, bus sepi, malah kaya nyanyiin para setan yang pada naik bus" ucapku jujur pada lelaki tubuh kekar itu.


"Ngamen depan ruko sana"

__ADS_1


"Itu masalah keduanya Om, ruko tutup"


"Lalu ngapain kamu ngamen disini?"


"Hanya di klub malam yang ramai Om" ucapku dengan senyuman manis berharap dikasihani.


"Disini bukan ajang ngamen, pergi sana!"


Aku segera memohon pada lelaki kekar itu. Hanya klub malam ini harapanku satu-satunya ditengah malam yang masih ramai orang.


"Om anakku harus minum susu, aku tak punya uang hik hik hik....suamiku kabur nikah lagi sama janda gatel. Aku yatim piatu hidup sebatang kara, gelandangan dan kelaparan. Ngantri beras jatah gak kebagian hik hik hik...terkadang aku harus mengais makanan sisa ditempat sampah hanya demi bertahan hidup tapi bayiku tak bisa makan-makanan sampahkan? dia butuh susu hik hik hik...." Aku membual, hanya trik ini supaya mereka kasihan.


"Hik hik hik baper banget, bawangnya banyak sih"


Kena juga prankku, selagi mereka berdua baper, masuk ah. Maafkan aku Om kekar, hanya disini rejekiku berada. Dolar I Coming.


Crik...crik...crik...


"Mas-mas, Mba-mba, harap dengarkan saya menyanyi. Permisi atuh saya mau ngamen dulu, mohon buka telinganya jangan buka bajunya saya masih belum cukup umur" ucapku memberi sepatah dua kata pembukaan.


"Siapa dia?" Semua orang melihat ke arahku.


"Orang gila apa?"


Sebagian orang mengira aku gila. Tapi tenang aku tak mudah sakit hati. Mentalku baja, meskipun aku wanita. Aku sudah biasa dihina, dimaki dan dicaci.


"Pada suatu hari kodok bertemu ular. Mereka berdua gak pacaran loh. Ingat hukum alam. Kodok adalah makanan ular, betul tidak Mas-mas dan Mba-mba" ucapku bernyanyi sambil memainkan icrik milikku.


"Huh...nyanyi apa dongeng sih"

__ADS_1


"Lumayanlah hiburan dikala gabut"


"Tenang, Mas, Mba, saya gak narifin tapi sumbang seikhlasnya biar berkah. Tapi tolong uangnya harus hasil bekerja halal. Tidak boleh hasil curian, merampok, menipu, menjual diri ataupun uang nilep. Saya butuh recehan yang halal ya" Aku dengan pedenya menentukan uang yang harus mereka berikan padaku.


"Huh..." Mereka bersorak.


Beberapa orang melempariku dengan uang ribuan. Lumayanlah bisa untuk membeli susu Bobo. Aku mengambil selembar demi selembar. Tak tahu malu memang tapi hanya ini cara urgent ku mendapat uang.


"Eh...dia bawa bayi"


"Kasihan ya"


Beberapa orang mengasihaniku. Tapi aku bukan orang yang ingin dibelas kasihani. Aku hanya mengambil hasilku ngamen tadi. Tiba-tiba dua sekuriti itu datang. Kabuuur....mereka udah gak baper, alamat nih harus out. Mereka mengejar-ngejarku ke sana sini. Aku berlari supaya tak tertangkap. Masuklah aku kedalam ruang VIP diklub malam itu. Mereka semua sedang berjudi dan minum alkohol.


"Punten nyak, saya teh mau ngamen tapi malah masuk sini. Oya Om-Om sekalian jangan berjudi dan minum minuman keras itu dosa. Ingat hidup didunia hanya sementara. Mana tahu beberapa menit kemudian kalian is dead. Eh tunggu is dead itu apa ya? kata-kata yang sering diucapkan difilm, saya nyontek doang"


"Siapa bocah kecil itu?" Mereka semua terkejut melihatku dan mendengar ucapanku.


"Itu dia, tangkap!" Sekuriti itu masuk ke ruangan tempatku berada.


"Kabuur" Aku berlari lari keluar dari ruangan itu dikejar kedua sekuriti kekar itu.


Seorang lelaki tampan memakai setelan jas lengkap duduk dibelakang para penjudi diruangan VIP itu, dia bertanya pada sekretarisnya.


"Berikan dia uang!" perintah lelaki tampan itu pada sekretarisnya.


"Baik Bos"


Sekretaris lelaki tampan itu keluar dari ruangan itu. Dia mencari keberadaanku.

__ADS_1


__ADS_2