ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 74


__ADS_3

Malam itu seorang lelaki paruh baya duduk di sofa. Dia adalah pemilik Perusahaan Kaizen. Namanya Roberto Abraham. Dia menatap lelaki muda yang mirip dengan Albern. Lelaki itu menundukkan kepalanya ke bawah.


"Apa kau sudah melakukan tugasmu?" tanya Roberto.


"Sudah, sesuai yang anda mau," jawabnya.


"Tetap di posisimu sampai semua membaik, aku ingin tahu siapa yang ingin mencelakai cucuku," ujar Roberto.


"Baik," jawabnya.


"Aku akan memberimu bonus setelah semuanya selesai," ujar Roberto.


Lelaki itu mengangguk. Tak banyak kata yang keluar. Tatapannya juga dingin. Dia hanya bisa menurut dan melaksanakan tugasnya.


Setelah itu, lelaki itu meninggalkan lelaki paruh baya. Dia berjalan ke luar. Menaiki mobilnya. Mengendarainya memecah keramaian di jalan raya. Terus melaju. Hingga berhenti di lampu merah. Dua orang anak kecil meminta-minta sambil membawa kaleng kosong sambil bernyanyi seadanya. Melihat itu, kaca mobil diturunkan. Lelaki itu memberi uang pada anak kecil itu dengan selembar seratus ribuan.


"Om ini kebanyakan," ujarnya.


"Ambil saja, Om sedekah."


"Kalau begitu Om mau didoakan apa sebagai terimakasih saya pada Om?" tanya anak kecil itu.


"Doakan aku, biar secepatnya berkumpul dengan orang yang ku cintai," jawab lelaki itu.


"Baik Om," sahut anak kecil itu.


Segera lantunan doa dipanjatkan untuknya. Kemudian lampu hijau menyala. Kaca kembali ditutup, mobil kembali melaju.


Sampai di depan rumah cukup besar. Ke luar seorang gadis cantik dan seksi. Gadis itu berlari menghampirinya dan hendak memeluknya namun segera ditahan olehnya.


"Sayang kenapa sih? Baru pulang dari luar negeri kok sombong," ujarnya.


"Kita belum menikah jadi bersikaplah wajar," ujar lelaki itu.


"Oke, kau mendadak jaim semenjak tambah tampan," sahutnya.


"Katanya mau belanja?" ujar lelaki itu.


"Sayang pengertian banget sih," jawabnya.


Lelaki itu berjalan memasuki mobil. Dia menyuruh gadis itu masuk ke dalam. Gadis itu tersenyum dan masuk ke dalam mobil. Mereka pergi ke sebuah Mall.


Gadis cantik dan seksi itu bernama Natasya Ayunda. Kekasih Martin Wilmer. Cucu dari Robberto Abraham. Mereka sudah pacaran 10 tahun dan berencana menikah.


"Martin kenapa sih kau jadi pendiam? Apa aku tak cantik lagi?"


"Kau cantik."


"Makasih sayang."


Di dalam mobil Natasha berdandan memastikan dandanannya menor agar Martin terpesona padanya.


"Sayang, aku cantik gak?"


"Cantik."


"Kau suka aku dandan tidak?"


"Aku suka semuanya."


"Sayang manis banget, aku suka kata-katamu." Natasha menggandeng lengan Martin. Bergelayut di tangan kirinya.


"Lepas! Aku sedang menyetir!" pekik Martin.


"Oke-oke," sahut Natasha. Dia melepas tangannya dari lengan Martin. Kembali ke posisinya. Duduk dengan tenang.


Sampai di Mall Anggrek, Martin dan Natasha turun dari mobil masuk ke dalam Mall. Natasha langsung berlari menuju butik baju branded. Memilih-milih sedangkan Martin hanya duduk bosan menunggunya. Dia melihat ke kaca. Keramaian di luar kaca mengusik matanya untuk ke luar. Saat itu aku dan Mama berjalan di luar kaca. Mata Martin terus melihat ke arah kami hingga kami masuk ke dalam butik baju branded itu. Sekilas aku tak sengaja melihatnya. Namun aku langsung membuang muka. Malas bertemu lelaki sombong itu.


"Aara ayo pilih bajumu, kau harus pakai baju terbaik," ujar Alina.


"Iya Ma," sahutku.


Aku membuang muka. Berjalan menuju baju-baju yang dipajang. Mama membantuku memilih baju. Dia sangat antusias menemaniku belanja. Mungkin karena banyak waktu yang terlewatkan di antara kami.

__ADS_1


"Ini bagus Nak, yang ini juga, beli semuanya," usul Alina sambil memilih-milih baju.


"Gak kebanyakan Ma?" tanyaku.


"Semua bajumu harus diganti yang terbaik, selama ini hidupmu pasti sulit, Mama ingin menebus semuanya," ujar Alina.


Aku mengangguk. Ku tahu Mama melakukan ini karena sayang padaku. Jadi apa salahnya menurutinya agar dia senang. Ku ambil beberapa baju. Mama memintaku masuk ruang ganti untuk mencoba baju-baju itu. Ya sudah, aku menurut saja. Berjalan memasuki ruang ganti. Tiba-tiba lelaki sombong itu ikut masuk dan mengunci pintu.


"Kau!" pekikku.


"Aku ingin bicara berdua denganmu," ujar Martin.


"Ke luar! Aku tak ingin bicara denganmu," perintahku.


Tiba-tiba lelaki yang mirip Albern itu mencium bibirku. Aku yang tadinya ingin melawan justru terbuai menikmati ciuman itu. Rasanya familiar.


"Albern," batinku.


Perlahan ciuman itu dilepas. Mata kami bertautan. Penuh cinta. Matanya yang ku lihat dingin kemarin, terlihat hangat dan penuh cinta.


"Sayang, ini aku," ucapnya.


"Suamiku?" ujarku.


Dia mengangguk. Membelai pipiku. Aku tak bisa menahan rasa bahagiaku. Ku peluk Albern. Rindu sekali. Aku hampir tak bisa move on karena kehilangannya. Alhamdulillah ternyata Albern masih hidup. Kita bisa bertemu kembali.


"Aku rindu," ujarku.


"Aku juga rindu sayang," sahut Albern.


"Kenapa kau sombong kemarin?" tanyaku sambil menangis.


"Aku tak bisa menceritakan semuanya padamu saat ini, ku harap kau mengerti," ucap Albern.


Aku mengangguk.


"Waktuku sekarang tak banyak, aku akan kembali menemuimu, setelah aku ke luar, anggap kita orang asing untuk sementara waktu," ujar Albern.


"Tapi ...," sahutku.


Aku tidak tahu situasi apa yang sedang dihadapi Albern. Aku harus memberinya kepercayaan padanya. Ku yakin semua ini demi kebaikan kami ke depannya.


Aku mengangguk. Memeluk Albern sekali lagi. Masih rindu tapi bagaimana lagi.


"Tunggu aku. Aku pasti kembali," ujar Albern.


"Aku akan menunggu, aku mencintaimu suamiku," ujarku.


Meski berat. Pelukan ini harus terlepas. Waktu dan jarak akan memisah kita kembali. Aku berusaha tersenyum. Rasanya baru bertemu, rindu belum usai.


Albern ke luar dari ruang ganti. Aku hanya bisa mengikhlaskannya pergi. Berharap dia segera kembali ke pelukanku.


Aku kembali mencoba baju-baju yang dipilih Mama. Melupakan kesedihanku dan tersenyum kembali. Jangan sampai Mama tahu soal ini. Pada saatnya aku akan cerita pada orangtuaku tentang pernikahan kami.


Setelah selesai. Aku ke luar. Menghampiri Mama yang sedang menungguku di kursi tunggu. Tepat di samping Mama, Albern sedang duduk mengenakan kaca mata dan acuh padaku.


"Gimana Nak, kau suka?" tanya Alina.


"Iya Ma, bagus semua," jawabku.


Aku dan Mama berbincang mengenai baju yang ku pilih dengannya. Sedangkan Albern sibuk melihat gawai di tangannya. Tak lama datang seorang wanita cantik menghampirinya. Dia terlihat manja pada Albern. Apa itu yang membuatnya harus jauh dariku. Apa wanita itu? Tidak, tadi aku sudah janji untuk percaya padanya. Mungkin nanti Albern akan menceritakan semuanya. Namun rasa cemburu tetap mengusik hatiku.


"Sayang, cantik gak?" tanya Natasha sambil menunjukkan dress minim berwarna hitam yang dipakainya.


"Cantik," jawab Albern singkat.


"Lihat, bagian sini seksi gak?" tanya Natasha menunjuk ke dadanya.


Albern tetap fokus melihat gawainya tanpa melirik ke arah yang diminta wanita genit itu.


"Sayang," panggil Natasha.


"Seksi," ujar Albern.

__ADS_1


"Kau sukakan?" tanya Natasha.


Albern mengangguk. Meskipun dia tak suka dengan Natasha dan sikap genitnya.


"Makan yuk sayang, laper," ujar Natasha.


Albern langsung berdiri. Berjalan meninggalkan Natasha, melewati sampingku. Kami tak sama sekali melirik. Seolah tak mengenal satu sama lain. Rasanya menyakitkan tapi keadaan ini yang harus kita jalani saat ini.


"Sayang, kok ditinggal?" tanya Natasha.


"Katanya mau makan," jawab Albern.


"Eh iya sayang," sahut Natasha. Dia berlari menghampiri Albern. Menggandeng lengannya di depanku. Rasanya sakit. Apalagi sikap Albern sangat berbeda, seperti tak mengenalnya.


Albern melepas tangan Natasha, dia berjalan duluan tapi Natasha tetap mengejarnya. Dan genit padanya.


Tidak. Albern pasti kembali. Pasti kembali. Aku masih merindukannya. Sangat. Sangat. Ku ingin seperti dulu lagi.


"Nak ... Nak ...," panggil Alina.


"Iya Ma?" sahutku. Kembali dari kesedihan ke dunia nyata. Kembali tersenyum menatap Mama seolah tak ada apapun yang terjadi.


"Kita beli handphone, supaya mudah untuk komunikasi dengan semua orang," ujar Alina.


"Iya Ma," sahutku.


Aku berjalan dengan Mama ke luar dari butik baju brended itu. Menuju konter handphone. Memilih handphone yang ku mau. Habdphone yang dulu mungkin hanya ku lihat di televisi atau koran. Sekarang ku pegang dan miliki. Handphone ke luaran terbaru dan termahal di konter handphone itu. Hidupku berubah seketika tapi tidak ada Albern di sisiku. Seandainya dia ada, rasanya hidupku sempurna.


***


Sore itu aku mengemasi semua buku mata kuliahku. Sambil merapikan semua alat tulisku. Duduk di meja belajar. Sesaat memikirkan Albern.


Meskipun tadi hanya bertemu sebentar tapi sudah membuatku bahagia setidaknya suamiku masih hidup. Walaupun situasi kami tak menguntungkan.


"Yang penting Albern masih hidup, itu lebih penting dari segalanya," ucapku.


Kembali pada meja di depanku. Sebuah handphone baru yang tadi ku pelajari bersama Mama. Membuatku penasaran dan ingin memainkannya lagi.


Ku ambil handphone milikku. Menyalakan layarnya. Aku baru ingat Axel dan Raina. Mereka kan punya handphone yang dipegang Axel. Aku ingin menelpon. Kangen Bobo. Beberapa hari ini aku sibuk belum bertemu Bobo gemoy-ku.


Ku tekan nomor telpon Axel. Menekan tombol hijau. Menunggu Axel mengangkat telpon. Selang beberapa menit Axel mengangkat telpon dariku.


"Assalamu'alaikum," sapaku.


"Wa'alaikumsallam," sahut Axel.


"Aara?" tanya Axel.


"Iya aku," jawabku.


"Ini nomormu?" tanya Axel.


"Iya, nomor baruku," sahutku.


"Kebetulan aku baru saja ingin memberitahumu sebuah kabar," ujar Axel.


Aku penasaran kabar apa yang akan Axel sampaikan padaku.


"Bobo ulang tahun besok, kau akan datang?" tanya Axel.


"Oya Bobo ulang tahun, aku pasti datang," jawabku.


"Kami mengadakan ulang tahun kecil-kecilan, syukuranlah lebih tepatnya, mengundang tetangga," ujar Axel.


"Wah pasti seru, jadi gak sabar," sahutku.


"Kau wajib datang Aara," ujar Axel.


"Oke, bolehkah aku membawa oranglain?" tanyaku.


"Boleh, yang penting kau datang," sahut Axel.


"Oke, Insya Allah," jawabku.

__ADS_1


Kami masih berbincang perihal Bobo. Raina dan Bobo juga ikut dalam percakapan kami. Untungnya ada video call. Meskipun jarak memisah tapi aku masih bisa melihat Bobo, Raina, dan Axel. Aku belum memberi tahu mereka tentang Albern. Ku rasa apa yang sedang terjadi mengharuskan aku menjaga rahasia untuk sementara waktu sampai Albern menceritakan semuanya.


"


__ADS_2