ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 39


__ADS_3

"Raina," sapaku.


"Aara," sahut Raina.


Ku hampiri Raina dengan senyuman seperti biasanya.


"Kau ada di sini juga?" tanyaku.


"Iya sayang, kemarin aku menemukan Raina pingsan di jalan jadi ku bawa pulang ke rumah," jawab Albern. Dia tak ingin aku curiga, menjelaskan kejadian yang sebenarnya untuk menghindari kesalahfahaman.


"Benar, kemarin aku pingsan," timpal Raina.


"Oh, jangan-jangan kau sakit?" tanyaku.


"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Raina.


Aku mengangguk.


Kami naik ke lantai atas meninggalkan Albern, melangkah memasuki kamarku. Di dalam ku baringkan Bobo. Raina antusias, dia mengajak Bobo bermain.


"Aara, Bobo sepertinya Bobo pup," ujar Raina.


"Aku siapin popok gantinya," sahutku.


"Biar aku yang menggantikannya ya?" tanya Raina.


Ku anggukkan kepalaku tanda persetujuan. Semua yang dibutuhkan untuk mengganti popok Bobo ku siapkan. Dengan telaten Raina membersihkan pup Bobo hingga memakai popok.


"Bobo ... Bobo...," sapa Raina pada Bobo yang sedang mengoceh.


Aku tersenyum. Raina sepertinya sangat menyukai Bobo. Terlihat dari apa yang dilakukannya untuk Bobo, Raina terlihat senang saat bersamanya.


Aku berganti pakaian lalu menghampiri Raina, duduk bersama di ranjang. Ada yang ingin sekali ku tanyakan padanya. Ku beranikan diri untuk bertanya, semua ini demi hubunganku dengan Albern.


"Raina, bolehkah aku berbicara hal pribadi denganmu?" tanyaku. Harus ku pastikan Raina mau bicara denganku. Jangan sampai dia tersinggung karena hal kecil yang ku ucapkan.


Raina mengangguk.


"Raina, aku sudah tahu apa yang dilakukan Albern padamu, dia memang salah, brengsek, pasti sudah membuat hidupmu menderita," ujarku.


Raina terdiam. Air matanya mengalir di pipinya. Mungkin saja dia teringat peristiwa menyakitkan yang dialaminya dulu. Jujur aku kasihan padanya. Mungkin jika aku di posisinya, hatiku pasti sakit, bagaimana tidak si buaya sudah mengancurkan masa depanku.


"Aku hidupmu, masa depanmu pasti hancur akibat perbuatannya, pasti kau marah dan membencinya," ucapku.


Raina masih menangis. Aku merasa iba, kenapa wanita sebaik dia harus mendapatkan nasib yang tidak baik namun semua itu sudah takdir. Sebagai manusia kita hanya bisa ikhlas, bersabar dan tawakal.


"Maafkan Albern ya," ucapku.


"Aku butuh waktu untuk memaafkannya," ujar Raina.


"Baiklah, aku paham," jawabku.

__ADS_1


Kami kembali bermain dengan Bobo dan mengakhiri pembicaraan. Bobo mulai haus, dia rewel seperti biasanya.


"Aara, bolehkah aku menyusui Bobo?" tanya Raina.


"Boleh," jawabku.


Raina menggendong Bobo, menyusuinya. Dia seperti ibunya Bobo. Aku ingin tahu kenapa Raina bisa menyusui, apa dia memang hamil dan melahirkan anaknya Albern. Haruskah aku bertanya? Apa momennya pas?


Usai menyusui Bobo, Raina kembali membaringkannya di ranjang. Bobo anteng lagi, tersenyum menggerak-gerakkan tangannya.


"Aara, Bobo bukan anakmukan?" tanya Raina.


"Bukan," jawabku.


"Apa dia anak saudaramu?" tanya Raina.


"Bukan, Bobo bayi yang ku temukan di tempat pembuangan sampah," jawabku.


"Jadi Bobo anak buangan?" tanya Raina.


Aku mengangguk. Itu memang faktanya. Bahkan saat ku temukan Bobo sakit karena kedinginan dan kelaparan. Untung saja saat itu aku melewati tempat pembuangan sampah saat jualan keripik sepulang sekolah.


"Kasihan Bobo, tega sekali orangtuanya membuangnya" ucap Raina.


"Iya, itulah sebabnya aku merawatnya. Meskipun untuk hidup sendiri saja aku sulit, belum lagi aku masih sekolah, aku kesulitan menjaga Bobo sambil sekolah," ujarku.


Raina terdiam sesaat melihat ke arahku.


"Iya, berbagai hinaan datang padaku di awal-awal aku nembawa Bobo ke sekolah, tapi sekarang sudah tidak, karena mereka juga menyukai Bobo yang lucu dan menggemaskan," sahutku.


"Kau hebat, baik hati, aku salut padamu," ucap Raina.


Aku hanya membalasnya dengan senyuman, karena semua yang ku lakukan atas dasar ikhlas dan aku tidak ingin Bobo bayi yang tidak bersalah jadi korban.


"Raina, apa kau hamil anak Albern?" tanyaku.


Raina langsung menatapku karena terkejut dengan peetanyaanku yang mendadak pribadi dan spontan.


"Aku tahu ini pribadi tapi aku ini semuanya terungkap dan terselesaikan dengan baik," ujarku.


"Iya, aku memang hamil anaknya Albern," jawab Raina.


Aku terdiam. Jawaban ini sudah ku duga sebelumnya. Aku memang harus siap dan menerima semuanya.


"Di mana anakmu sekarang?" tanyaku.


"Anakku sudah meninggal," jawab Raina.


"Meninggal?" tanyaku terkejut.


Raina mengangguk.

__ADS_1


"Meninggal kenapa?" tanyaku.


Raina terdiam. Dia mengingat anaknya yang sudah meninggal.


"Anakku bernama Arkan Baskara. Saat usianya satu bulan dia menderita hepatitis B. Tak lama setelah divonis, Arkan meninggal," ujar Raina sambil menangis.


Aku ikut bersedih. Air mataku menetes tanpa ku sadari. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan Raina sebagai seorang ibu yang kehilangan anaknya.


"Aku rindu Arkan, tapi dia sudah pergi, terkadang melihat Bobo aku teringat putraku," ujar Raina.


Aku memeluk Raina, berbagi rasa sedih dengannya. Mungkin dengan pelukanku bisa meringankan sedikit kesedihannya.


"Menangislah, biar hatimu lebih lega," ucapku.


Raina mengangguk. Dia menangis sepuasnya. Aku tak pernah menyangka beginilah yang dirasakan seorang ibu jika kehilangan anaknya, untung saja aku bisa bersama Bobo.


Setelah beberapa menit, Raina sudah membaik. Dia kembali tersenyum seperti biasa.


"Aara, kenapa kau ada di rumah Albern?" tanya Raina.


Aku tercengang. Pertanyaan yang membuat bulu kudukku berdiri.


"Aku ... aku ...," jawabku ragu.


"Apa Albern suamimu?" tanya Raina.


"Apa?" ucapku terkejut.


"Di rumah ini banyak fotomu yang di pajang di dinding. Albern juga terlihat perhatian padamu. Caranya menatapmu penuh cinta. Dan aku melihat itu juga padamu," ujar Raina.


"Iya, aku dan Albern sudah menikah, semua itu karena pernikahan dadakan yang terpaksa kami lakukan," ujarku.


"Selamat ya, semoga kau bahagia dengannya," ujar Raina.


"Kau tak marah atau ...? tanyaku.


"Untuk apa marah?" tanya Raina balik.


"Bukannya seharusnya Albern menikahimu, dia sudah membuatmu seperti ini," ujarku.


Raina tersenyum.


"Aku sudah menikah Aara," sahut Raina.


Apa? Aku terkejut. Raina sudah menikah, tapi dengan siapa? Hatiku terus bertanya-tanya.


"Kau sudah menikah?" tanyaku ulang, memastikan kebenarannya.


Raina mengangguk.


"Menikah dengan siapa?" tanyaku.

__ADS_1


__ADS_2