ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 27


__ADS_3

"Tadi ada yang menolongku, tapi sekarang orangnya sudah pergi," ucapku.


Aku tidak ingin memberitahu mereka kalau buaya itu yang menolongku, mereka bisa tanya ini itu. Apalagi si buaya menciumku dua kali, memalukan. Mau ditaruh di mana mukaku, Ami dan Dodokan masih polos, tercemar otak mereka kalau aku menceritakan yang sebenarnya.


"Untung kau selamat Aara, kalau tak, apa jadinya Bobo makan kepala ikan asin tiap hari," ujar Ami.


"Ngenes nasib Bobo kalau sama Ami, penurunan level gizi," ucap Dodo.


Aku tertawa bersama Dodo dan Ami. Tiba-tiba Axel memelukku. Aku terkejut.


"Lemot aku senang masih bisa bertemu denganmu, hampir saja aku mengutuk diriku karena tak bisa menyelamatkanmu," ungkap Axel.


Aku ingin melepas pelukan itu tapi tangan Axel memelukku erat, gimana ini?


"Axel ... Axel ..., aku gak bisa nafas," ujarku mencari alasan agar Axel melepas pelukannya.


"Eh iya, maaf ya," sahut Axel. Dia melepas pelukannya dariku.


Huh, untung saja buaya tak melihat ini, kalau tak dia bisa ngomel dan menindasku lagi.


"Loh Ami mana?" tanyaku pada Dodo yang menggendong Bobo.


"Tuh di bawah, pingsan lihat lo dipeluk Axel," ucap Dodo menunjuk ke bawah.


Benar kata Dodo, Ami pingsan. Namun bukan Ami kalau pingsan masih saja tawar menawar harga ikan asin di pasar.


"Ya elah Bang, goceng aja apa, kalau ikan asin yang udah jamuran dikit gak apa-apa," ucap Ami yang pingsan sambil ngoceh sendiri.


Aku dan yang lainnya tertawa dengerin Ami nawar ikan asin, eh karena gak turun harga dia milih yang jamuran dikit.


"Perut kita mah Bang udah kebal makan yang jamuran, yang basi aja masih enak, ada asem-asemnya gitu," ucap Ami.


"Yang pakai borak lebih murah? yaudah lah selama tidak membuat kami jadi mumi gak masalah," ucap Ami.


Kami tertawa. Tak ku sangka Ami gokil juga.


"Ternyata biasa makan borak, pantes miskinnya awet," ujar Dodo.


"Kribonya juga kaku, efek kebanyakan borak nih," ucapku.


"Lemaknya juga keras, kaya batu, boraknya udah beranak pinak kali ya," kata Axel.


Bukannya bantuin Ami bangun kami malah berspekulasi sesuka hati. Biarin Ami mengkhayal tanpa batas, sampai batu digigit juga.


"Do, gak papa si Ami makan batu tuh?" tanyaku.


"Gak papa, dari pada makan borak, perutnya dah biasa teraniaya," jawab Dodo.

__ADS_1


"Kasih kecebong aja lebih enak dari pada batu," ucap Axel yang mulai ikut konyol.


"Tar ketagihan makan kecebong, ikan asin di pasar siapa yang beli kalau bukan Ami?" ujar Dodo.


Aku dan Axel mengangguk. Teori yang benar. Tak perlu dibantah lagi. Tak lama Ami bangun, dia masih sedikit belum waras.


"Kita sudah sampai bulan?" tanya Ami.


"Udah, mau beli ikan asinkan? silahkan lurus masuk sungai, lalu mati," jawab Dodo.


Plaak ..


Ami menampar lengan Dodo.


"Woi, gara-gara borak nih gue jadi korban," ujar Dodo.


"Enak aja lo bilang gue mati Do? tanpa gue sepi hidup lo," ungkap Ami.


"Iya ya, siapa yang bakal bagi jawaban walau salah semua juga," ucap Dodo.


"Ha ha ha." Kami semua tertawa.


Setelah itu kita pulang ke rumah masing-masing. Aku pulang ke rumah. Membuka pintu rumahku. Bau harum masakan yang baru dimasak tercium di hidungku. Perutku mulai meronta, cacing-cacing sudah mengadakan orasi besar-besaran.


"Harum banget masakannya, apa Kak Gerry lagi masak ya?" ucapku.


Sore ini sepertinya aku harus dagang sampai malam. Waktuku tak banyak. Aku harus segera membayar SPP. Bobo mulai mengantuk. Dia tertidur, pipinya kembul, lucu banget bikin gemes. Aku mencium Bobo yang sudah tidur nyenyak.


"Bobo anak Mamy, sehat terus ya, montok, dan lucu. Mamy sayang Bobo," bisikku pada Bobo.


Aku keluar dari kamar. Melihat ke meja makan, ada banyak lauk pauk di meja, ternyata bau harum tadi berasal dari rumahku, tapi siapa yang memasak sebanyak ini?


"Gak usah dipikirin, yang penting makan," ucapku.


Aku berjalan dengan semangat. Duduk di kursi lalu mulai memakan semua makanan yang ada. Rasanya enak. Nambah lagi dan lagi sampai habis semua makanan di meja.


"Alhamdulillah," ucapku bersyukur.


"Kau makan kaya kuli bocah," ucap Albern menghampiriku.


"Tuan buaya kenapa kau ada di rumahku?" tanyaku.


Albern mendekatiku, merangkulku dari belakang.


"Menurutmu siapa yang menyediakan makanan ini? kalau bukan aku yang masuk ke rumahmu? apa ada jin tomang yang keluar dari lampu ajaib?" tanya Albern.


"Eh iya ya, ha ha ha," jawabku.

__ADS_1


Albern duduk di sampingku. Dia menatapku.


"Kenapa Tuan melihatku seperti itu?" tanyaku.


"Aku melihat istriku, apa tidak boleh?" tanya Albern.


"Jangan formal seperti ini, kita tak sedekat itu, kau jahat aku baik, beda alam," ucapku.


Albern membelai rambut panjangku yang tergerai di pundakku.


"Berarti kita bisa saling mengisi, seimbang, lagi pula kita sudah menikah, apapun itu kau milikku," ungkap Albern.


"Sebenarnya bisa tidak kita bercerai saja, siapa tahu saat besar nanti aku bertemu seseorang yang ku cintai, dan tidak buaya sepertimu," ucapkku.


"Enak saja, kau sudah dipatenkan milikku, tak bisa kabur apalagi lepas dariku," kata Albern.


"Diktaktor, kolonial, kejam dan bossy," ucapku.


Albern tertawa. Dia memegang pipiku sebelah kanan.


"Aara kau istriku, mulai hari ini dan seterusnya kita akan bersama-sama," ujar Albern.


"Aku tidak tahu, selama ini aku belum pernah mencintai siapapun, apalagi menjadi seorang istri," ucapku.


"Bocah jalani semua ini apa adanya, mengalir seperti air, aku tidak akan memaksa, tapi jangan harap aku menceraikanmu, selamanya kau istriku," ujar Albern.


"Huh ...," ucapku.


Albern mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah gelang silver dengan berlian dibeberapa bagian, dia memakaikannya di tanganku.


"Ini apa?" tanyaku.


"Tanda cinta untuk istri kecilku," ucap Albern.


"Gimana nih, buaya mulai membuayai ku, aman gak nih, jangan-jangan ini mengandung pelet semacamnya atau alat hipnotis untuk melumpuhkan mangsanya," batinku.


"Bocah otak kecilmu tak perlu berpikir ke mana-mana, aku sudah tahu," ucap Albern.


"Ini gratis, tak ada penindasan atau kerja rodi tanpa batas, atau pun tanam paksakan?" tanyaku.


Albern tertawa terbahak-bahak.


"Kau memang unik, itu yang membuatku jatuh hati padamu," kata Albern.


Aku malu, menundukkan kepala. Albern mendekati wajahku, menciumku. Tiba-tiba suara tangis Bobo membuat kami melepas ciuman itu.


"Bobo nangis," ucapku langsung berdiri lalu meninggalkan Albern dengan muka merahku yang malu. Ku langkahkan kaki secepatnya masuk ke kamar..

__ADS_1


__ADS_2