
Setelah sholat subuh kami kembali memadu cinta. Biasa pengantin baru stok lama tapi malam pertamanya baru dibuka jadi masih booming. Kalau kata anak sekarang masih anget-angernya baru netes. Yang sekarang lebih nyaman dan menikmati karena rasa sakit sudah dihempaskan ke ujung kulon. Tak ada lagi teriakan kini berganti nyanyian dan syair-syair merdu yang memenuhi ruangan. Albern jangan ditanya staminanya joss. Maklum mantan buaya jadi sudah kawasannya hal semacam ini. Beberapa kali, akhirnya kami beristirahat. Kami tertidur bersamaan. Satu jam kemudian. Suara ketukan pintu terdengar dari luar.
Tuk ... tuk ... tuk ...
Aku terkejut dan langsung bangun. Menyadari ada yang mengetuk pintu, aku membangunkan Albern. Ku tepuk lengannya beberapa kali.
"Suamiku ... suamiku ...," panggilku.
Albern membuka mata perlahan. Masih malas namun aku menepuk kedua pipinya dengan tanganku agar dia sadar.
"Apa sayang?" tanya Albern masih malas.
"Pintu ...," ujarku.
"Aku buka pintu?" tanya Albern yang nyawanya belum ngumpul sepenuhnya. Otaknya belum konek. Mungkin sambungannya belum terpasang.
"Bukan itu ada ...," ujarku panik.
"Ada hantu?" tanya Albern.
"Aduh ..., bukan tapi Mama," jawabku.
"Mama?" Albern masih bingung.
Aku memberitahunya tentang kamarku, tadi malam dan pagi ini padanya yang masih terlihat belum sepenuhnya sadar.
"Eh ... iya, aku kan ada di rumah Keluarga Ariendra," ujar Albern panik. Begitupun denganku.
Di luar suara Mama memanggilku.
"Aara ... Aara ... bangun ... sekolah sayang."
Dari dalam aku segera menyahut dulu biar Mama tak curiga.
"Iya Ma," sahutku sambil memikirkan di mana Albern harus disembunyikan. Kami lari sana sini mencari tempat persembunyiaan yang tepat.
Ternyata Mama kembali memanggil.
"Aara Mama bau bicara," ujar Mama.
"Iya Ma, sebentar," sahutku.
Segera aku meminta Albern masuk ke dalam toilet. Aku kembali mengenakan pakaian kemudian berjalan menuju pintu. Membuka pintu menatap Mama dengan senyuman manis.
"Selamat pagi Ma," ujarku.
"Pagi Nak," sahut Mama.
Aku pikir Mama mau antar sarapan ternyata matanya melirik ke dalam kamarku.
__ADS_1
"Kita bicara di dalam," ujar Mama.
Aku mengangguk.
Kami masuk ke dalam kamar. Aduh aku lupa merapikan kamarku. Berantakan. Semoga Mama tak curiga. Namun mata Mama melihat ke sana sini bikin aku mati kutu takut Mama tahu.
"Kamarmu kok berantakan banget, semalam bukannya rapi?" tanya Mama.
"Itu Ma, tadi malam aku mencari handphone-ku yang ilang. Udah terlanjut acak sana sini, ternyata ada di bawah ranjang," ujarku. Hanya ini alasan yang masuk akal. Semoga Mama gak berpikir aneh-aneh.
"Ooh ..., biarin nanti Bi Siti yang beresin," ujar Mama.
Huh, aku bernafas lega. Mama percaya juga. Tapi itu baju Albern masih di lantai. Mati aku. Mama akan tahu itu bukan bajuku. Segera amankan.
"Ma itu di atas lampunya kok gak terang ya," ujarku mengalihkan pandangan Mama ke atap.
"Masa sih, perasaan ini udah terang, apa ada lampu kecilnya yang putus," ujar Mama memindahkan tatapan matanya ke atas. Saat itu aku geserkan baju Albern ke bawah ranjang dengan kakiku.
Selesai. Aku sudah menyingkirkan baju Albern. Aman Mama takkan tahu.
"Biar nanti minta maintenance menggantinya," ujar Mama.
"Iya Ma," sahutku.
"Kamu belum mandi?" tanya Mama.
"Eee ...," ucapku bingung.
Aduh bener juga. Penampilanku acak-acakan. Habis di acak-acak sama Albern.
"Itu lehermu kenapa?" tanya Mama menunjuk ke arah leherku yang ada bekas merahnya.
Tidak. Aku sendiri tak sadar. Benarkah ada bekas merah. Aduh Mama pasti curiga nih.
"Kemarin aku makan udang Ma di acara ulang tahun anak temenku, eh malemnya alegi. Gatel banget jadi ku garuk sampai merah gini," ujarku berkilah. Maaf Ma untuk saat ini aku belum bisa memberi tahu Mama statusku.
"Biar Mama olesin kayu putih ya?" tanya Mama.
"Gak usah Ma, banti habis mandi pasti hilang, mungkin karena belum mandi jadi masih gatal," ujarku.
"Kalau gitu Mama siapin air hangat di tambah ramuan kecantikan untuk mandi ya?" tanya Mama.
Aduh. Jangan. Albern ada di dalam toilet. Bakal ketahuan dong.
"Gak usah Ma, nanti merepotkan Mama, Aara bisa sendiri," ujarku.
"Gak papa, Mama justru seneng. Dulu waktu kecil banyak waktu yang terlewatkan, jadi biarkan Mama lakukan ini," ujar Mama sambil berjalan menuju toilet. Aduh gawat. Aku mengikuti Mama berusaha membujukknya agar tak jadi.
"Ma-Ma, gak usah. Aku bisa sendiri, nanti Mama capek," ucapku.
__ADS_1
"Gak papa, ini pekerjaan mudah," sahut Mama yang semakin dekat dengan pintu. Hendak memutar gagang pintu toilet namun aku segera menghentikannya.
"Ma, tadi katanya mau bicara hal yang penting," ujarku.
"Eh iya, jadi lupa Mama," ujarnya.
Huh. Aku bernafas lega. Mama tak jadi membuka pintu toilet. Kami berjalan ke ranjang. Duduk dan mulai berbicara.
"Papa dan Mama sudah lama merawat Rangga. Dia seperti anak kandung kami. Rangga walaupun tingkahnya aneh, dia anak yang baik," ujar Mama.
Aku mengangguk mendengarkan apa yang dikatakan Mama. Rangga memang baik meskipun tingkahnya aneh dan unik.
"Kami tak ingin kau bersama pada orang yang salah, Kami akan merasa tenang kalau kau bisa bersama orang yang tepat," ujar Mama.
Aku masih mendengarkan Mama bicara.
"Nak, kami ingin menjodohkanmu dengan Rangga," ujar Mama.
Deg
Aku terkejut. Bagaimana ini. Papa dan Mama menjodohkanku dengan Rangga. Aku tahu semua ini karena mereka ingin aku bersama orang yang tepat. Tapi. Aku sudah menikah dengan Albern.
Gimana aku menjelaskan pada Mama.
"Ma aku ...," ujarku ragu.
"Sudah, tak perlu dijawab sekarang. Pikirkan dulu. Yang jelas Papamu sudah setuju kalau kau dan Rangga akan menikah," ujar Mama.
"Ma ...," ucapku bingung.
"Udah, pikirin dulu, Rangga itu tampan dan pintar, casingnya aja begitu," ujar Mama.
Aku terdiam. Bagaimana aku jelaskan semuanya. Aku khawatir Papa dan Mama tak bisa menerima Albern yang usianya di atasku dan pernikahanku.
"Mama harap kau akan setuju," ujar Mama.
Aku masih diam.
"Ya udah, Mama ke luar dulu. Pikurkan baik-baik. Ini demi masa depanmu," ujar Mama. Kemudian ke luar dari kamarku.
Aku masih terdiam lemas. Satu sisi aku ingin menolak tapi di sisi lain aku tak berani mengatakannya. Aku baru saja bertemu mereka. Gimana caranya aku bicara dengan benar tak melukai hati mereka. Apalagi sebelum masalah yang dihadapi Albern selesai kami harus merahasiakan identitas Albern dan pernikahan kami.
Tiba-tiba suara Albern memecah keheninganku. Dia duduk di sampingku. Melihatku yang terdiam. Albern menepuk bahuku pelan.
"Sayang kenapa?" tanya Albern.
Aku masih diam. Rasanya berat mengatakan ini padanya.
"Ada masalah? Cerita padaku," ujar Albern.
__ADS_1
Aku menoleh ke samping menatap Albern dengan mataku yang sudah berkaca-kaca.