
Barra, Deena, Farel, Alina, Alvan dan Haura kembali ke rumah. Bulan madu di Pulau Pohon meskipun sangat menyenangkan tapi ada tragedi yang cukup menegangkan. Untung mereka mampu melewatinya. Tak hanya itu misteri dipulau itu jadi terpecahkan. Penduduk Pulau Pohon bisa hidup dengan tenang. Rehan dan Cinta menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Mereka semua berkumpul diruang keluarga.
"Gimana bulan madunya?" tanya Rehan penasaran.
"Alhamdillah Pa, menyenangkan," ucap Barra. Padahal mereka baru saja masuk ke alam liar dengan aturan adat yang aneh dan hampir mati kalau bukan karena bantuan kera-kera syantik.
"Walaupun ada sedikit kendala," ucap Farel. Tak bisa dipungkiri, selain bulan madu yang romantis, hal aneh dan menakutkan terjadi pada mereka saat berada di Pulau Daun.
"Kendala apa?" Rehan semakin penasaran.
"Penduduk pulau memiliki kepercayaan kalau orang sakit itu harus diikat di pohon sampai sembuh atau mati karena penyakitnya," ucap Farel.
"Aneh juga," ucap Rehan. Dia tak menyangka ada aturan semacam itu.
"Untung saja kita tahu ternyata itu semua ulah ketua suku di sana," ucap Alvan.
"Papa pernah denger soal itu, Papa pikir hanya rumor. Ternyata benar, maaf ya Papa sudah merekomendasikan kalian kesana," ucap Rehan
"Tidak papa Pa, justru kita membantu orang pulau mengungkap kebenarannya," ucap Alina.
"Tempatnya juga menyenangkan," ucap Haura.
"Penuh tantangan Pa," ucap Deena sambil mengelus perutnya. Mengingat kemarin sempat melihat kera-kera berjoget, dia geli mengingat semua itu.
"Syukurlah kalau begitu, Papa jadi gak enak tadinya," ucap Rehan.
"Santai aja Pa," ucap semuanya.
"Yaudah istirahatlah ke kamar kalian masing-masing, pasti lelahkan?" tanya Cinta.
"Oke Ma," ucap semuanya.
Akhirnya semua pasangan pergi ke kamar mereka masing-masing. Beberapa hari bulan madu cukup melelahkan dan menguras energi. Mereka butuh istirahat.
Ditempat yang berbeda, Leo sedang menemani Zara yang sedang berbaring karena sakit. Tubuhnya demam, dia hanya memegang tangan Leo terus. Suaminya duduk diranjang tanpa henti menyemangati Zara.
"Kek, kalau aku dipanggil duluan. Kau harus merawat dirimu baik-baik, jangan lupa makan, olahraga dan istirahat teratur," ucap Zara.
"Apa sih nek, jangan bicara seperti itu, kita akan melihat buyut-buyut kita lahir ke dunia," ucap Leo.
"Aku juga berharap seperti itu, tapi umur manusia tidak ada yang tahu kapan berakhir," ucap Zara.
Leo menangis. Bukan karena takut sendirian tapi dia takut ditinggalkan Zara. Puluhan tahun bersama melewati suka dan duka bersama, sudah melalui semua ujian yang Allah berikan. Rasa cintanya pada Zara membuat Leo ingin sehidup semati bersamanya.
__ADS_1
Zara menyeka air mata di pipi Leo. Sudah lama sekali Zara tak melihat Leo menangis, kali ini dia menyaksikan Leo menangis untuknya.
"Kek, inget waktu SMA, saat-saat yang takkan pernah terlupakan."
Leo memeluk Zara. Sudah sangat lama masa-masa indah itu berlalu, walau banyak dukanya tapi itu kenangan manis yang tak terlupakan. Mereka masih ingat semuanya meskipun usia mereka sudah sangat tua.
"Zara kalau kau pergi, aku ikut. Aku tidak bisa sendirian tanpamu."
"Aku juga tidak bisa tanpamu Leo."
"Kau ingat saat kita bertemu pertama kali?"
Zara mengangguk. Pertemuan yang tak disengaja. Menjadi pengikat mereka berdua.
Kini mereka menjadi dua sejoli yang selalu bersama dan tak terpisahkan.
Leo berbaring di samping Zara mencium keningnya dan memeluknya. Tiada wanita yang lebih baik dari Zara. Wanita yang selalu tegar dan berada di sisi Leo dari Leo masih bukan siapa-siapa, hanya anak SMA yang tak memiliki uang seperakpun dan kini jadi salah satu orang terkaya di negaranya. Wanita yang sangat hebat berada di belakang Leo untuk menyemangatinya, mendukungnya dan mendoakannya.
"Leo aku rindu anak-anak, saat mereka masih kecil, sayangnya Cinta tidak bersama kita saat itu."
"Iya sayang, banyak kenangan saat kau hamil, melahirkan dan merawat anak-anak."
Zara mendekatkan dirinya di dada Leo, tal lama suaranya mengilang.
Zara tidak menyahut ucapan Leo, karena itu Leo melihat ke arah Zara yang sudah tenang di dekatnya.
"Zara ...."
***
Sore itu Raka dan Azkia menyiapkan seserahan untuk melamar Lilia. Farhan sudah setuju untuk menikahi anak perempuannya Zhafira. Kania yang sudah rapi membantu kakaknya mengenakan dasi. Dia terus meledek kakaknya yang terlihat tampan bak pangeran. Farhan tersenyum malu-malu saat adiknya memujinya.
"Cie yang mau nikah nih ye," ucap Kania.
"Iya dong, enggak kayak kamu jomblo terus," ucap Farhan.
"Huh dasar kakak liatin aja, aku juga udah punya pasangan tuh," ujar Kania.
"Masih kecil sekolah aja dulu," ucap Farhan.
"Kecil-kecil juga udah ngerti tahu arti cinta," ucap Kania.
Farhan mengusap-usap kepala Kania. Adik kecilnya aku sudah mulai remaja. Kini dia sudah mulai memahami arti pasangan.
__ADS_1
"Ayo udah belum? nanti kesorean," ucap Azkia.
"Udah nih Kak Farhan, pakai dasi aja nggak bisa," ucap Kania.
"Itu sebabnya Farhan harus nikah, biar istrinya yang memakaikan dasi," ucap Azkia.
"Papa jadi ingat waktu Farhan SMP dulu, kesiangan cuma gara-gara nggak bisa makai dasi," ucap Raka.
"Pakai dasi di tali pita, emangnya mau jadi pelayan restoran," ledek Kania.
Kania tertawa mengingat masa kecil kakaknya yang tidak bisa memakai dasi.
"Biarin daripada kamu kalau lagi haid pakai rok sampai double tiga," balas Farhan.
"Trend tahu kakak, temen sekelas aja juga gitu," sahut Kania.
"Udah ya jam berapa nih, nanti Nona cantiknya kelamaan nungguin," ucap Azkia.
"Baik Bos," ucap Farhan dan Kania.
Mereka berempat hendak berjalan menuju pintu ruang tamu, suara handphone Raka berdering. Segera Raka mengambil handphone di sakunya dan melihat panggilan yang masuk.
"Papa," ucap Raka.
"Telepon dari siapa Pa?" tanya Azkia.
"Dari Papa," ucap Raka sambil memegang handphone di tangannya.
"Penting mungkin, cepat angkat Pa," ucap Azkia.
"Oke, aku angkat dulu ya Ma," ucap Raka.
Azkia mengangguk. Raka berjalan menuju sudut ruangan, dia mengangkat telepon dari Leo.
"Assalamu'alaikum," sapa Leo.
"Wa'alaikumsalam Pa," balas Raka.
"Ada apa Pa?" tanya Raka.
"Mamamu ...," ucap Leo ragu.
"Mama kenapa Pa?"
__ADS_1