
"Pa bukannya anak kita pergi ke Puncak Serbabu" ucap Cinta.
"Iya Ma" ucap Rehan.
Air mata Cinta langsung membasahi pipinya.
"Pa ayo kita kesana Pa, susul mereka hik hik hik" ucap Cinta.
"Tenang Ma, sabar. Kita akan kesana menyusul mereka" ucap Rehan coba menenangkan istrinya.
"Iya Pa hik hik hik" ucap Cinta.
Rehan dan Cinta keluar dari rumah. Mereka naik mobil pribadi menuju Puncak Serbabu.
*************
Barra dan Deena terjebak di lapisan terbawah wisata bawah tanah. Mereka berada di sungai bawah tanah. Sebuah sungai yang mengalir dari air terjun yang berasal dari dalam tanah. Karena sungainya terbendung bebatuan dan tanah, air sungai meluap ke permukaan.
"Sayang air sungai meluap" ucap Barra.
"Iya, kita harus keluar dari sini kalau tidak ruangan ini dipenuhi air" ucap Deena.
"Pintu keluar tertimbun reruntuhan tangga" ucap Barra.
"Apa ada jalan keluar lain?" tanya Deena.
"Satu-satunya jalan keluar hanya itu" ucap Barra.
"Kita harus menyingkirkan reruntuhan itu" ucap Deena.
Barra mengangguk. Mereka berdua berusaha menyingkirkan reruntuhan tangga. Air mulai naik setinggi betis.
"Kita harus cepat" ucap Barra.
Deena mengangguk. Mereka terus menyingkirkan reruntuhan itu. Air semakin naik dan naik hingga setinggi perut.
"Ayo sayang semangat, I Love You" ucap Deena.
"I Love You Too" ucap Barra.
Mereka berdua tersenyum, semakin semangat menyingkirkan reruntuhan itu. Air terus meninggi hingga ke dada mereka.
"Sayang I Love You" ucap Barra.
"I Love You Too" ucap Deena.
Mereka menyemangati satu sama lain dengan ucapan cinta. Reruntuhan itu mulai berkurang dan berkurang. Mereka mengerahkan seluruh tenaga untuk menyingkirkan reruntuhan. Air semakin meninggi hingga leher.
"Sayang cayo" ucap Deena.
"Cayo" ucap Barra.
Mereka terus menyingkirkan reruntuhan itu. Tangan Barra terkena bongkahan bangunan yang runcing hingga tangannya berdarah.
"Aw........"ucap Barra kesakitan.
Darahnya menetes diair.
"Tanganmu" ucap Deena mengambil tangan Barra yang luka.
Deena mengikat tangan Barra dengan sapu tangan yang dibawanya.
"Makasih sayang" ucap Barra.
Cup
Sebuah ciuman mendarat dipipi Deena. Seketika tangan Deena menampar pipi Barra.
Plaaaak ......
"Aw.....sakit sayang" ucap Barra.
"Jangan cabul, belum mahrom" ucap Deena.
__ADS_1
"Segera aku akan jadi mahrommu dan sepuasnya bermesraan denganmu" ucap Barra.
Deena melotot dan mengepalkan tangannya.
"Ampun sayang, jinak nih" ucap Barra.
Mereka kembali menyingkirkan reruntuhan tangga itu. Karena darah dari luka ditangan Barra terjatuh diair, memancing kedatangan biawak yang bersarang dilubang-lubang sungai itu. Mereka naik ke permukaan sungai berenang mencari sumber darah itu. Tiba-tiba kaki Barra digigit seekor biawak yang berukuran cukup besar.
"Aw....." ucap Barra.
Barra masuk ke dalam air melihat apa yang mengigit kakinya.
"Biawak" ucap Barra.
"Sayang ada apa?" tanya Deena.
Deena masuk ke dalam air. Dia menghampiri kekasihnya itu. Barra menunjuk ke arah depan dengan telunjuknya. Deena melihat kemana arah telunjuk Barra menunjuk.
"Biawaknya banyak juga" batin Deena.
Mereka berdua melihat ke arah biawak yang berjumlah cukup banyak. Mereka berdua diserang biawak-biawak yang lapar. Barra dan Deena melawan penyerangan dari biawak-biawak itu. Mereka menggunakan bongkahan reruntuhan untuk melempar ke arah biawak. Mereka juga memukul, menendang biawak-biawak itu. Hampir saja mereka digigit, secepatnya mereka menghindar.
Mereka berenang ke permukaan untuk bernafas terlebih dahulu.
"Hah...hah...hah..." Barra dan Deena bernafas.
"Sayang air semakin tinggi, ruangan ini akan dipenuhi air. Aku akan melawan biawak-biawak itu. Kau singkirkan reruntuhan sisanya" ucap Barra.
"Tidak, kau saja yang menyingkirkan reruntuhannya, biar aku yang melawan biawak-biawaknya" ucap Deena.
"Oke" ucap Barra.
Barra menyingkirkan reruntuhan sisanya. Sedangkan Deena melawan biawak-biawak itu.
Dug.....dug....dug.......
Bluuuug......bluuuug.....bluuug.......
Suara Deena melawan biawak-biawak itu hingga mereka terbentur ke dinding ruangan itu. Barra berhasil menyingkirkan semua reruntuhan itu dan Deena berhasil melawan biawak-biawak itu. Lalu mereka berenang melewati tangga yang rusak naik ke atas mengikuti air yang semakin naik ke atas. Sampai diruangan atas mereka berjalan menuju ke ruangan diatasnya. Mereka melihat sebuah ruangan tertutup bebatuan. Terdengar suara minta tolong dari ruangan itu.
Suara minta tolong itu diselingi suara bebatuan yang bergesek.
"Sayang didalam ruangan ini pasti ada orang yang terperangkap" ucap Barra.
"Iya, aku juga berpikir seperti itu" ucap Deena.
"Ayo kita singkirkan bebatuannya" ucap Barra.
Deena mengangguk. Mereka berdua menyingkirkan bebatuan yang menutup pintu keluar ruangan itu. Sedikit demi sedikit batu berhasil disingkirkan. Terlihat wajah Alvan dari dalam ruangan itu.
"Alvan" ucap Deena.
"Deena" ucap Alvan.
"Bantu aku menyingkirkan bebatuannya, Haura pingsan" ucap Alvan.
"Haura?.....oke" ucap Deena.
Secepatnya Barra dan Deena menyingkirkan bebatuan dengan seluruh tenaga mereka bersama Alvan dari dalam. Akhirnya bebatuan itu bisa disingkirkan. Barra dan Deena membantu Alvan dan Haura. Ketika Deena melihat Haura tak mengenakan pakaian atas bagian luarnya, Deena langsung memakaikan kembali pakaiannya.
"Biarkan aku menggendong Haura" ucap Alvan.
"Apa kau yakin? tubuhmu masih lemas" ucap Deena.
"Aku kuat" ucap Alvan.
"Baiklah" ucap Deena.
Alvan menggendong Haura dipunggungnya. Barra dan Deena berjalan didepan mereka berdua. Mereka semua berjalan menuju ke ruangan atas.
Sampai diruangan atasnya beberapa orang ketakutan dan beberapa orang meninggal. Barra dan Deena membantu mereka yang masih hidup.
"Kita harus segera keluar sebelum oksigen semakin berkurang" ucap Deena.
__ADS_1
"Air dari bawah juga semakin naik" ucap Barra.
Mereka semua mencari tangga untuk naik. Untung saja tangganya utuh hanya tertutup tanah. Barra, Deena, Alvan dan orang-orang yang masih hidup berusaha menyingkirkan tanah yang menutupi jalan keluar agar mereka bisa melewati tangga. Tanahnya bisa disingkirkan berkat kerja sama mereka semua.
"Ayo keluar! air mulai naik ke ruangan ini" ucap Barra.
Semua orang mengangguk. Mereka semua naik ke tangga sampai ke ruangan diatasnya. Mereka terus berjalan dan menyingkikan semua hal yang menutupi jalan keluar. Hingga sampai diruangan atas. Rafael dan Alina sedang duduk bersama. Deena dan Barra menghampiri mereka.
"Alina" ucap Deena.
"Rafael" ucap Barra.
"Deena" ucap Alina.
"Kak" ucap Rafael.
Mereka semua berdiri dan saling menatap.
"Kita semua harus keluar dari tempat ini, air dari sungai dibawah terbendung hingga meluap naik ke atas permukaan. Ruangan ketiga sudah mulai dipenuhi air. Kemungkinan ruangan ini juga akan dipenuhi air" ucap Barra.
"Kita harus segera naik ke atas" ucap Deena.
Alina dan Rafael mengangguk. Mereka semua menyingkirkan tanah yang menutupi jalan keluar.
Air mulai memasuki ruangan itu.
"Kita harus lebih cepat lagi" ucap Barra.
Mereka semua mengangguk. Lalu kembali menggali untuk menyingkirkan tanah yang menutupi jalan keluar. Tangan mereka terus mengambil tanah dan menyingkirkannya sedikit demi sedikit. Haura mulai sadar. Dia melihat Alina yang memangkunya.
"Alina" ucap Haura.
Haura melihat air sudah ada diruangan tempatnya duduk.
"Kita ada dimana?" tanya Haura.
"Kita berada diwisata bawah tanah" ucap Alina.
Haura melihat semua orang diruangan itu berusaha menyingkirkan tanah yang menutupi jalan keluar.
"Ayo kita bantu mereka Alina" ucap Haura.
Alina mengangguk. Mereka bergabung dengan yang lainnya. Air semakin meninggi hingga setinggi leher.
"Semangat, kita pasti bisa keluar" ucap Barra.
"Semangat, kita harus berusaha untuk selamat" ucap Alvan.
"Berusahalah sampai titik terakhir" ucap Rafael.
Barra, Rafael dan Alvan berusaha menyemangati orang yang ada diruangan itu. Mereka semua terus berusaha hingga air setinggi bibir. Beberapa orang kesulitan bernafas. Termasuk Alina kesulitan bernafas. Rafael menghampirinya dan membantunya mengalirkan nafas buatan pada Alina lewat mulutnya.
"Alina kau harus bertahan, aku mencintaimu" ucap Rafael.
Rafael memeluk Alina yang sulit bernafas.
"Aku mencintaimu, bertahanlah ku mohon" ucap Rafael.
"Kakak...kakak...." ucap Alina.
Rafael kembali memberinya nafas buatan.
"Aku mencintaimu Alina" ucap Rafael.
Alvan hanya melihat Alina. Dia tahu kakaknya lebih dibutuhkan Alina dari pada dirinya. Haura menghampiri Alvan.
"Alvan jika aku harus mati hari ini, aku ingin mengatakan ini. I Love You" ucap Haura.
Alvan terkejut gadis cerewet itu memgatakan cinta padanya. Dia memegang pipi Haura.
"Aku ingin mendengarnya lagi" ucap Alvan.
"I Love You" ucap Haura.
__ADS_1
"Aku akan belajar mencintaimu gadis cerewet" ucap Alvan.
Haura tersenyum dengan ucapan Alvan. Mereka kembali menggali membantu yang lainnya. Tanah itu berhasil disingkirkan tapi hanya sebesar bulatan yang bisa dilalui satu orang. Deena dan Barra menyuruh orang-orang duluan. Mereka satu persatu keluar. Tinggal Alvan, Haura, Deena, Barra, Rafael dan Alina.