ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Part 73


__ADS_3

Dokter Daniel mengendarai mobilnya menuju ke rumahnya. Dia turun diparkiran rumahnya itu. Kirana yang masih tertidur dibopong Dokter Daniel masuk ke dalam rumah. Dia memasukkan Kirana ke kamarnya, lalu membaringkan Kirana diranjang kamarnya. Kirana terbangun dan melihat Dokter Daniel yang begitu tampan itu memandangnya.


"Kau tampan sekali, aku mau kamu"ucap Kirana.


"Sepertinya kau masih mabuk Nona"ucap Dokter Daniel.


"Kemarilah aku mau kamu"ucap Kirana.


"Aku ambilkan obat dulu ya"ucap Dokter Daniel.


Baru mau berdiri, Kirana yang masih bamuk itu menarik Dokter Daniel kepelukannya. Dia langsung mencium Dokter Daniel.


"Apa? gadis ini main cium aja"batin Dokter Daniel.


Dokter Daniel melepas ciuman itu dan berbicara pada Kirana.


"Nona, aku ini seorang lelaki normal, jangan memancing keinginanku, aku tidak bisa menahan jika kau terus menyerang"ucap Dokter Daniel.


Dokter Daniel berusaha melepas pelukan Kirana.


Tapi Kirana malah menubruk Dokter Daniel hingga berbaring diranjang. Kirana menyerang Dokter Daniel sampai dia kesulitan.


"Nona....hentikan.....jangan membuat dirimu rendah seperti ini, kau pasti tidak pernah mabuk jadi begini"ucap Dokter Daniel berusaha menghindar dari serangan Kirana.


Kirana tak menggubris dan terus menyerang.


"Nona lepas.....kau akan menyesali perbuatanmu setelah kau sadar nanti"ucap Dokter Daniel.


Dokter Daniel menangkap Kirana yang menyerangnya itu.


"Nona tenanglah, jangan lakukan ini, aku sangat menghargai kehormatanmu"ucap Dokter Daniel.


"Kehormatanmu hanya untuk suamimu kelak, jika kita memang harus berjodoh biarkan ini terjadi pada waktunya"ucap Dokter Daniel.


Dokter Daniel membawa Kirana ke toilet dan memandikannya dalam kondisi mengenakan pakaian.


"Semoga setelah mandi kau segar ya dan cepat sadar, kalau tidak bisa mabuk sebaiknya jangan lagi pula tidak baik mabuk apalagi untuk wanita"ucap Dokter Daniel.


Kirana hanya terdiam tidak berbicara apapun. Setelah itu Dokter Daniel menganduki Kirana hingga tubuhnya kering.


Dokter Daniel membawanya ke ruangan kamar lagi. Kirana duduk diranjang, lalu Dokter Daniel mengambil pakaian untuk Kirana.


"Nona gantilah pakaianmu dengan pakaian milik ibuku, ini masih baru"ucap Dokter Daniel.


Dokter Daniel meletakkan pakaian itu didekat ranjang lalu dia keluar kamar agar Kirana berganti pakaian. Dokter Daniel membuatkan Kirana teh hangat dan bubur kacang hijau. Ibu Rita menghampirinya yang sedang memasak didapur.


"Daniel, apa gadis itu sudah sadar sekarang?" tanya Ibu Rita.


"Dia hanya diam saja Bu, mungkin dia masih butuh waktu untuk memulihkan semua kesadarannya"ucap Dokter Daniel.


"Dia artis sinetron yang sering ibu tontonkan ya?"tanya Ibu Rita.


"Iya Bu"ucap Dokter Daniel.


"Apa dia punya masalah ya sampai seperti itu?"tanya Ibu Rita.


"Mungkin Bu, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya"ucap Dokter Daniel.


"Kalau begitu cepatlah membuat buburnya, dia mungkin saja lapar setelah tadi mabuk tidak jelas"ucap Ibu Rita.


"Iya Bu"ucap Dokter Daniel.


"Jangan lupa ganti pakaianmu yang sobek dan penuh lipstik itu, dia akan malu jika tahu tadi menyerangmu tanpa sadar"ucap Ibu Rita.


"Iya Bu"ucap Dokter Daniel.

__ADS_1


"Hampir saja keperjakaanmu direngut gadis cantik itu, lebih baik cepatlah menikah. Jangan berzina, itu dosa"ucap Ibu Rita.


"Bu, dia tidak sadar melakukannya. Kami juga tak saling kenal. Mungkin saja jika dia sadar pasti malu dan akan menyesal dengan perbuatannya tadi"ucap Dokter Daniel.


"Baiklah, intinya jangan berzina, menikah itu mencegah Zina. Jika kalian tak mampu menahan keinginan maka menikahlah"ucap Ibu Rita.


"Iya Bu"ucap Dokter Daniel.


Ibu Rita mendorong rodanya keluar dari dapur itu.


Setelah bubur itu selesai dimasak, Dokter Daniel membawa teh hangat dan bubur kacang hijau itu ke kamarnya. Dia melihat Kirana sudah berganti pakaian.


"Nona minumlah teh hangat ini dan bubur kacang hijaunya"ucap Dokter Daniel.


"Maaf aku jadi merepotkan Anda"ucap Kirana.


"Tidak masalah"ucap Dokter Daniel.


Kirana meminum teh hangat itu.


"Makanlah bubur kacang hijaunya biar perutmu terisi"ucap Dokter Daniel.


"Anda baik sekali saya semakin tidak enak"ucap Kirana.


"Lebih tidak enak lagi jika Nona tidak memakannya"ucap Dokter Daniel.


"Terimakasih"ucap Kirana.


"Sama-sama"ucap Dokter Daniel.


Kirana memakan bubur kacang hijau itu sampai habis.


"Apa ini masakan ibu Anda?"tanya Kirana.


"Bukan, ini masakanku"ucap Dokter Daniel.


"Hanya beberapa masakan"ucap Dokter Daniel.


"Namaku Kirana, Anda siapa?"tanya Kirana.


"Daniel"ucap Dokter Daniel.


"Aku manggilnya Kak Daniel boleh nggak?"tanya Kirana.


"Boleh"ucap Dokter Daniel.


"Aku akan segera pergi, maaf merepotkan"ucap Kirana.


"Menginaplah disini, kau sedang ada masalahkan. Sebaiknya jangan membawa dirimu pada masalah yang baru, tenangkan dirimu dan jika kau seorang muslim sholatlah, itu bisa menenangkan pikiranmu"ucap Dokter Daniel.


"Apa aku tidak akan merepotkan Kak Daniel?" tanya Kirana.


"Tidak, ibukulah yang menyuruhmu menginap semalam, dia tak ingin kau seperti tadi lagi"ucap Dokter Daniel.


"Terimakasih, tolong sampaikan rasa terimakasihku pada Ibu Kak Daniel"ucap Kirana.


"Iya, sekarang beristirahatlah, ini kamarku kau boleh tidur disini, kalau butuh sesuatu bilanglah padaku ya"ucap Dokter Daniel.


"Iya, terimakasih"ucap Kirana.


"Sama-sama"ucap Dokter Daniel.


Dokter Daniel keluar dari kamar itu. Tinggal Kirana yang berada dikamar itu. Dia memperhatikan semua sudut ruangan itu. Semua barang-barang tersusun rapi dikamar itu. Bahkan banyak buku-buku di kamar itu. Dia juga melihat foto tampan Dokter Daniel yang terpajang didinding, lelaki ramah dan baik itu begitu berkharisma hingga mampu meluluhkan siapapun saat mengenalnya lebih dalam.


"Dia begitu baik dan ramah, sangat menghormati wanita, baru kali ini bertemu orang seperti dia" ucap Kirana tersenyum memandangi foto itu.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi memikirkannya, mungkin saja dia sudah punya calon istri atau pacar, lelaki seperti dia pasti banyak yang suka mana mungkin masih sendiri"ucap Kirana.


Kirana berbaring diranjang sambil tersenyum.


Dia tak menyangka akan dipertemukan dengan Dokter Daniel yang baik hati dan ramah itu.


***********


Rehan mengendarai mobilnya menuju Markas Api. Dia terus cemas sepanjang perjalanan. Dia tidak tahu apa yang diinginkan ayahnya itu. Sampai di Markas Api, Rehan turun dari mobilnya. Dia berjalan masuk ke markas itu. Baru masuk kedua tangannya sudah dipegang anak buah Pak Theo dari kanan dan kiri.


"Apa-apaan ini Pa?"tanya Rehan.


"Bawa dia ke ruang hukuman"ucap Pak Theo.


"Baik Bos"ucap Anak buah Pak Theo.


Rehan belum melawan karena belum tahu permasalahannya. Sampai diruang hukuman kedua tangannya dirantai hingga dia tak mampu menggerakkan tangannya untuk melawan.


"Pa, apa yang terjadi, apa aku melakukan kesalahan?"tanya Rehan.


"Cambuk dia"ucap Pak Theo.


"Baik Bos"ucap Anak buah Pak Theo.


Ceter.....ceter.....ceter.......


"Aw...........aw .......aw......."Rehan kesakitan saat dicambuk meski menahan rasa sakit itu.


Dulu saat dia melakukan kesalahan Pak Theo tak segan mencambuknya.


"Pa, aku sudah mendapat hukumannya, lalu apa masalahnya katakan"ucap Rehan.


Pak Theo menghampiri Rehan dan mencekik lehernya.


"Kau sudah lancang menikahi anak Leo Ariendra" ucap Pak Theo.


"Darimana Papa tahu"batin Rehan.


"Iya, aku memang menikahi anak Leo Ariendra" ucap Rehan terbata-bata.


Pak Theo melepas cekikannya lalu berbicara pada Rehan.


"Kau sama saja melawanku, dan bersekutu dengan Leo Ariendra"ucap Pak Theo.


"Aku tidak bersekutu dengan Leo Ariendra. Aku benar-benar mencintai Cinta, dan menganggap Leo Ariendra sebagai mertuaku"ucap Rehan.


Prooook.......proooook........proooook......


"Sungguh menggelikan, kau mengatakan hal menjijikkan itu. Ingin rasanya aku menghabisi Cinta istrimu itu"ucap Pak Theo.


"Pa jangan berani menyakitinya, karena aku akan benar-benar melawan Papa jika kau melakukan itu"ucap Rehan.


"Ha...ha....ha....lucu, bertahun-tahun lamanya aku berusaha membalas Leo Ariendra tapi kau malah menjalin hubungan dengannya"ucap Pak Theo.


"Aku tidak tahu kenapa Papa begitu membencinya"ucap Rehan.


"Aku punya alasan kenapa ingin menghancurkan Leo Ariendra, dan kau harus patuh padaku"ucap Pak Theo.


"Aku tidak akan patuh padamu, jika kau berani menyakiti Cinta ataupun keluarganya"ucap Rehan.


"Aku menciptakanmu untuk mesinku menghancurkan Leo Ariendra, tapi kau malah justru membelanya"ucap Pak Theo.


"Pa katakan padaku, apa masalahmu dengan Leo Ariendra hingga kau membencinya"ucap Rehan.


"Kau ingin tahu pengkhianat?"tanya Pak Theo.

__ADS_1


"Ya katakan"ucap Rehan.


"Dengarkan aku"ucap Pak Theo.


__ADS_2