
Sore itu aku menggendong Bobo ditemani Albern membawa keripik dan daleman berjualan di tepi jalan. Tanpa malu Albern membantuku mempromosikan daganganku. Dia berteriak sepertiku memanggil pembeli. Wajah tampannya menarik para pembeli kaum hawa. Mereka semua membeli dagangan kami. Bukan hanya Albern yang membawa daya tarik usahaku tapi Bobo juga, sering kali ibu-ibu beli sambil melihat dan mengajak Bobo bicara dan bercanda. Aku memang beruntung memiliki mereka.
Aku dan Albern beristirahat sebentar di tepi jalan. Duduk di kursi.
"Tuan kau tak malu menemaniku jualan?" tanyaku.
"Tidak, istriku saja tidak malu kenapa aku harus malu?" jawab Albern.
"Terimakasih Tuan," ucapku.
Albern tersenyum sambil mengusap kepalaku.
"Bocah, aku akan terus bersamamu, sekarang kau tidak sendiri lagi," ucap Albern.
Aku mengangguk. Tersenyum menatap Albern. Entah kenapa aku senang sekali saat bersamanya.
Setelah berdagang aku belajar di kamar ditemani Albern. Dia mengajariku beberapa pelajaran, khususnya materi yang sulit. Ternyata dia smart. Tak ku sangka makhluk buaya memiliki otak yang cerdas. Dengan sabar dia menjelaskan satu persatu, aku berusaha sekuat tenaga, belajar semuanya sampai hafal.
"Tuan kau tidak pulang? sudah malam," ucapku.
"Bocah aku ingin tidur di sini, aku suamimukan?" ungkap Albern.
"Aku tidak nyaman kalau kau tidur di sini," ucapku.
Albern menghampiriku, memelukku dari belakang.
"Kenapa tak nyaman?" tanya Albern sambil menciumi rambut panjangku yang tergerai. Aku coba menghindar karena risih dengan perilaku romantisnya.
"Aku tidak suka kau nempel terus, belum terbiasa," ujarku.
"Itulah sebabnya kau akan terbiasa kalau aku ada di sini," kata Albern.
Sudahlah, aku tak mampu berdebat lagi. Biarlah kali ini dia menginap di rumahku. Hari mulai malam, aku berbaring di ranjang bersama Bobo, sedangkan Albern berbaring di sampingku sambil memelukku.
"Kau takkan mesum?" tanyaku.
"Nggak, paling kalau iya juga kitakan sudah sah, tak apakan?" ucap Albern.
"Kau sudah janji takkan mesum, aku belum siap," ucapku.
"Iya sayang aku tahu," jawab Albern.
Hangat rasanya ada dipelukannya buaya. Rasa sepiku yang dulu menjadi hilang. Dia membuatku merasa memiliki orang yang sayang dan perhatian padaku.
"Tuan malam itu, apa benar kau sudah melakukan sesuatu padaku?" tanyaku menanyakan sesuatu yang terjadi saat pertama tinggal di rumah Albern.
__ADS_1
"Kau kepikiran hal itu?" tanya Albern.
"Aku hanya ingin tahu, aku tertidur, tak tahu apa yang sudah kau lakukan padaku," ucapku.
"Aku hanya membopongmu ke ranjang, menyelimutimu, itu saja," kata Albern.
"Alhamdulillah, aku masih ...," ucapku. Ternyata aku masih perawan. Buaya ini tidak mengambilnya tanpa sepengetahuanku. Mungkin saat itu karena aku nahan kencing jadi sakit, belum lagi kelelahan jalan dan kedinginan di luar.
"Aku akan memintanya nanti, ingat itu!" ujar Albern.
Buaya ini selalu mesum otaknya. Lebih baik aku tidur. Enaknya, Albern mengelus kepalaku, membuatku semakin mengantuk.
"I Love You Aara," bisik Albern ditelingaku. Aku tak mendengar karena sudah masuk alam mimpi. Dia tersenyum melihatku yang sudah lelap.
Pagi harinya aku ke sekolah diantar Albern. Ini pertama kalinya dia mengantarku sekolah. Dia tak hanya mengantarku sekolah tapi membuatkanku sarapan pagi. Senangnya seperti memiliki ibu lagi. Albern mengantarku sampai parkiran sekolah.
"Tuan sampai sini aja," ucapku.
"Aku ingin mengantarmu ke kelas," ujar Albern.
"Jangan, aku malu, lagi pula kau pemilik sekolah ini, aku tak ingin ada gosip yang mencoreng nama baikmu," ungkapku.
Albern mengusap kepalaku lalu mencium keningku.
Aku mengangguk. Senangnya bisa bersamanya.
"Aku ke kelas dulu, assalamu'alaikum," ucapku.
"Wa'alaikumsallam," sahut Albern.
Aku turun dari mobil Albern. Berjalan menuju lorong sekolah, tiba-tiba Ami dan Dodo menepuk pundakmu dari belakang.
"Woi, dah berangkat sepagi ini, naik jet lo?" ucap Ami.
"Iya dong, pengusaha keripik sukses," jawabku.
"Keren, tapi apa kau sudah mengerjakan PR Fisika? susah banget," ujar Dodo.
"Sudah dong," balasku.
"Yang bener?" Ami dan Dodo terkejut.
"Bener," ujarku.
"Kau tak sedang kerasukan iblis dari gua hantu kan?" tanya Dodo.
__ADS_1
"Atau otakmu mengalami kerusakan? perlu diinjeksi, biar normal lagi," ujar Ami.
"Aku sudah mengerjakannya, lihat saja nanti," ujarku.
Dodo dan Ami sampai geleng-geleng. Mereka tak percaya aku sudah mengerjakan PR Fisika yang sulit. Hingga saat pelajaran Fisika di mulai, guru mengoreksi semua PR siswa, aku mendapat nilai sempurna satu-satunya. Axel saja beda satu angka dariku.
"Wah Aara kau melukiskan sejarah, hebat," ujar Ami.
"Ku rasa moment ini harus ditulis dalam prasasti agar semua keturunanmu tahu kalau kau mendapat nilai sempurna di sepanjang kebodohanmu selama ini," ucap Dodo.
"Iya ya, ini pertama kalinya otakku konek, mungkin sambungannya udah gak digerogoti tikus," timpalku.
"Ha ha ha." Kami bertiga tertawa. Hanya Axel yang terdiam. Dia merasa aneh padaku. Axel tahu persis aku lemot. Tiba-tiba mendapat nilai sempurna tanpa ada yang mengajariku itu sulit.
Bel berbunyi. Aku keluar kelas, Axel menghampiriku. Menarik lenganku, mengajakku ke belakang sekolah.
"Axel lepas! malu dilihat teman-teman," ujarku. Axel melepas tangannya. Dia menatapku dingin.
"Aara dari mana kau bisa mengerjakan soal Fisika yang rumit?" tanya Axel.
"Ya aku belajar," jawabku.
"Tidak mungkin semudah itu belajar sendiri, siapa yang mengajarimu?" tanya Axel.
Waduh, gimana ini? Haruskah ku bilang Albern?Axel pasti marah, dia kan tak ingin aku dekat dengan Albern.
"Aku belajar sendiri," jawabku.
Axel menyudutkankanku ke dinding. Tangannya diletakkan di samping bahuku. Dia menatapku dingin.
"Kau bohongkan?" tanya Axel.
"Ti ...," ucapku bingung.
"Aara jawab aku," ujar Axel.
"Aku belajar sendiri," jawabku.
"Aara!" Pekik Axel.
"Ehm ... ehm ...," ucap Albern yang berdiri tak jauh dari kami, dia berpenampan sebagai Gerry. Axel dan aku terkejut menengok ke samping.
"Pak Gerry," ucapku dan Axel.
"Sedang apa kalian berduaan di sini?" tanya Albern.
__ADS_1