
Pagi itu setelah mengantar Natasha. Albern pergi menemui pembunuh bayaran dengan menelpon sebelumnya lewat handphone milik Natasha. Kemudian menghapus panggilan ke luarnya dari handphone Natasha agar dia tak curiga. Albern juga menyamarkan suaranya agar mirip Natasha, supaya pembunuh bayaran itu tidak curiga.
"Aku harus bisa mendapatkan informasi dari pembunuh bayaran itu," batin Albern.
Mobilnya terus melaju. Menuju tempat janjian dengan pembunuh bayaran itu. Albern harus pergi ke sebuah rumah kosong. Di sanalah mereka janjian.
Sampai di depan rumah kosong yang di samping kanan dan kirinya lahan terbengkalai. Albern turun dari mobil. Dia melihat ke rumah besar yang terlihat kotor, tak terurus, dan berantakan. Banyak rumput liar merambat dibmana pun dan pohon besar yang menjulang setinggi rumah.
"Apa dia ada di dalam?" batin Albern.
Mata Albern melihat jendela kaca di lantai dua. Dia melihat seseorang berdiri di lantai dua dari jendela kaca itu.
"Mungkin itu dia," ucap Albern. Dia melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. Baru membuka pintu. Tikus dan kecoak menyambut kedatangannya. Debu yang terdapat di atas di dinding pintu jatuh ke bawah mengenai mukanya.
"Sepertinya sudah lama rumah ini terbengkalai," batin Albern. Dia menyeka wajahnya dari debu yang tadi berjatuhan ke mukanya. Kemudian kembali berjalan ke arah tangga. Dia berjalan perlahan di tangga. Kesan sepi dan sunyi begitu kental. Untung saja bulu kuduknya tak berdiri. Tentunya rumah kosong selalu identik dengan kesan horor. Namun tujuan Albern bukan untuk berwisata rumah hantu tapi untuk mendapatkan informasi.
Kakinya menapak di lantai dua. Semua barang berantakan. Meja terbalik, lemari miring, sofa sobek, buku-buku usang berserakan di lantai, semua barang tak ada yang rapi. Sepertinya sudah lama tak ditempati. Albern mencari keberadaan pembunuh bayaran itu. Namun dia tak menemukannya. Tiba-tiba dari belakang seseorang menangkapnya kemudian memegang kedua tangannya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kananya memegang pisau yang diletakkan di depan lehernya.
"Aku tahu kau bukan Natasha."
Albern tersenyum. Ternyata pembunuh bayaran itu tidak bodoh.
"Baguslah kalau kau tahu," sahut Albern.
"Apa maumu? Kau ingin mati?"
"Bukankah kau sudah membunuhku?" tanya Albern.
Tangan pembunuh itu melemah. Mendengar ucapan Albern. Keadaan ini dimanfaatkan Albern untuk melepaskan diri. Segera Albern menyikut dengan tangannya sekuat tenaga.
Bruuug ....
Pembunuh itu terjatuh. Termasuk pisaunya terjatuh di lantai begitu saja. Jaraknya dengan pisau cukup jauh. Dia melirik pisau saat melihat Albern berjalan menghampirinya. Ingin segera mengambil pisau untuk pengamanan diri. Namun Albern lebih cepat. Saat dia hendak melangkah, Albern memblokir langkah kakinya. Dan menjatuhkannya dengan satu pukulan.
Bruuug ....
Pembunuh bayaran itu kembali terjatuh di lantai. Semakin jauh dari pisau. Dia masih mengumpulkan tenaganya untuk bangun sedangkan Albern lebih gesit dengan mengambil pisau itu. Berjalan menghampiri pembunuh bayaran itu.
"Aku malas mengotori tanganku, tapi kalau itu perlu kenapa tidak," ancam Albern.
"Kau salah pilih lawan," jawab pembunuh bayaran itu.
__ADS_1
"Benarkah? Kalau aku duluan melumpuhkanmu bagaimana?" ujar Albern.
"Banyak bacot," ucap pembunuh bayaran. Dia bangun, berlari ke arah Albern melawannya. Mereka baku hantam. Saling memukul dan menendang. Melempar apa saja yang ada di lantai dua. Pertarungan itu sengit. Sampai beberapa kali Albern terkena lemparan barang. Untung saja masih bisa bertahan. Albern terus melawan dan menghindar. Dia harus melumpuhkannya. Albern menggunakan pisaunya, dan berhasil melukai lengannya.
Sreeet ...
Lengan pembunuh bayaran itu terluka. Berdarah. Dia kesakitan menegang lengannya yang berdarah.
Langkah Albern semakin mendekat. Dia menghampiri pembunuh bayaran yang kesakitan. Albern berdiri di depannya. Mengacungkan pisau padanya.
"Aku tak segan membunuh, katakan padaku apa yang kau lakukan padaku saat kecelakaan itu?" tanya Albern.
"Aku tidak tahu," jawabnya yang masih menyangkal.
"Sepertinya pisau ini harus bicara," ujar Albern hendak menusuk tapi pembunuh bayaran itu langsung bicara.
"Stop! Aku akan bicara yang sebenarnya," ujarnya.
Albern menghentikan langkahnya. Tapi masih siaga dengan mengacungkan pisau itu ke depan.
"Katakan!" bentak Albern.
"Saat mendapatkan perintah dari Natasha, aku langsung menjalankannya di hari berikutnya. Aku hendak menyabotase mobil milik Martin, tapi ternyata ada orang lain yang sudah menyabotasenya duluan. Aku tidak tahu siapa, tapi saat aku mengikutinya dia hanya menyebut nama Tuminem saat menelpon orang yang memerintahnya, itu saja yang ku tahu," jawab pembunuh bayaran.
"Kau berkata benar? Atau kau ingin mati segera?" tanya Albern memastikan kembali.
"Benar, aku tidak jadi membunuhmu, orang lain yang melakukannya, tapi karena aku sudah menerima uang, aku terpaksa bilang pada Natasha, aku sudah menjalankan perintahnya," jawab pembunuh bayaran itu.
"Aku merekam semua pembicaraanmu, jadi kalau kau macam-macam, aku akan menyebloskanmu ke penjara," ancam Albern.
"Ampun, oke," jawabnya.
Albern meninggalkan tempat itu. Dengan segudang pertanyaan dibenaknya. Misteri ini masih belum sepenuhnya terpecahkan. Ada nama Tuminem yang belum diketahui siapa dia. Namun Albern optimis dia akan bisa membongkar kasus ini dan menyerahkannya pada Robberto.
***
Siang itu Albern duduk di kursi kerjanya. Dia memikirkan nama Tuminem. Apa hubungan Martin dengan Tuminem. Lalu kenapa Martin yang berhubungan dengan Natasha dan Yeni tapi mau menikah dengan Lina. Kepala Albern dipenuhi tanya. Lebih rumit dari pekerjaan di kantornya.
Albern ke luar untuk makan siang dan sholat. Dia berjalan ke mushola kantor. Berwudhu di toilet untuk wudhu. Kemudian sholat. Albern tahu setiap masalah ada jalan ke luarnya.
Albern berdoa semoga Allah segera memberikan jalan terangnya. Agar kasusnya segera selesai dan bisa berkumpul dengan Aara kembali.
__ADS_1
Usai sholat, Albern berjalan ke kantin untuk makan. Tak sengaja bertemu dua cewek duduk di depan mushola sedang mengobrol. Dan obrolannya itu menyangkut Yeni. Membuat telinga Albern mendadak tajam.
"Tahu gak kau Yeni punya nama lain?"
"Nama lain apa?"
"Ternyata dulu nama Yeni itu Tuminem, lucukan namanya."
"Tuminem? jadul juga namanya."
"Itu sebabnya saat masuk kantor dia berganti nama jadi Yeni."
Albern tersenyum. Sepertinya Allah sudah mengabulkan doanya. Dia sekarang tahu siapa dalang yang sebenarnya dibalik rencana pembunuhan Martin. Tinggal menyusun cerita agar puzzle-nya lengkap.
***
Sore itu Adelina berjalan di lorong kampus lantai satu. Dia memikirkan saranku tentang memberi kesempatan pada Rangga. Adelina mengingat masa-masa saat bersama Rangga, menyenangkan meskipun dia merasa Rangga kakaknya.
Di depan Adelina melihat Rangga sedang bersama anak baru yang terlihat cantik dan feminim. Rambutnya panjang. Pinky seperti Rangga. Dari pakaian, jepit, bando, tas, sepatu, dan segala sesuatunya. Rangga terlihat nyaman bersamanya karena satu server. Mereka terlihat asyik mengobrol.
"Siapa dia kok Kak Rangga nyaman banget sama dia?" batin Adelina. Dia memutuskan menghampiri Rangga.
"Kak Rangga," sapa Adelina.
Rangga masih mengobrol sampai tak mendengar Adelina memanggilnya sambil berjalan ke arahnya.
"Kak Rangga!" pekik Adelina yang sudah berdiri di depan Rangga.
"Eh, Adel," sahut Rangga.
"Siapa dia Rangga?" tanya cewek pinky di samping Rangga.
"Ini adikku, Adelina," jawab Rangga memperkenalkan Adelina pada teman barunya.
"Kenalkan aku Queen Sera," ujar Queen memperkenalkan dirinya.
"Aku Adelina, adik Kak Rangga," sahut Adelina yang memperkenalkan diri balik.
Mereka berdua berbincang sebentar mengenai perkenalan satu sama lain. Kemudian Rangga pamitan pada Adelina mau pergi bersama Queen untuk membeli aksesoris serba pink ke Mall.
"Aku pergi dulu Del," ucap Rangga.
__ADS_1
Adelina mengangguk. Melihat Rangga pergi bersama Queen.
"Kenapa ya aku tak suka Kak Rangga dekat dengan Queen," batin Adelina. Dia terlihat murung saat Rangga pergi bersama Queen