ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 49


__ADS_3

"Apa mungkin Raina diculik?" ujar Albern. Dia berspekulasi. Meskipun itu masih terlalu awal.


"Diculik?" ucapku terkejut. Aku tak bisa membayangkan kalau itu memang benar.


"Bisa jadi, itu hanya spekulasi ku saja. Tapi sekarang lebih baik kita cari Raina," ujar Albern. Usulnya menang benar. Hanya itu yang kita bisa lakukan sekarang dari pada hanya berdiam diri, bingung dan menduga-duga yang belum tentu benar.


Aku mengangguk. Setuju dengan saran Albern.


Segera aku dan Albern berjalan ke luar. Masuk ke dalam mobil. Albern mengendarai mobil menuju jalan raya. Sepanjang jalan kami memutari kota mencari Raina tapi tak kunjung ditemukan. Sampai adzan subuh berkumandang. Aku dan Albern memutuskan pergi ke masjid terdekat dari tempat kami berada. Kami numpang sholat di masjid itu.


Setelah sholat subuh, kami kembali mencari Raina. Namun karena Albern lelah dan mengantuk kami memutuskan pulang ke rumah terlebih dahulu.


Aku dan Albern berbaring di ranjang. Dia memelukku sambil memejamkan matanya. Aroma tubuh Albern tercium. Sedikit bau keringat tapi aku suka. Dia lelah bekerja demi keluarga kecil kami. Sekarang dia adalah seorang suami yang memiliki istri dan anak. Aku bangga padanya. Ku cium keningnya. Rasa cintaku tumbuh semakin besar. Sepertinya aku tak bisa tanpanya.


"I Love You," bisikku ditelinganya.


"I Love You Too," balasnya sambil tersenyum.


Albern memelukku erat. Dia keluargaku sekarang, bukan hanya suamiku, bahkan guru lesku, dan sahabatku.


***


Pagi itu aku berangkat ke sekolah. Sejak semalam Raina menghilang dan belum ditemukan. Albern belum bisa mencari Raina lagi karena pagi sekali dia harus ke kantor padahal baru tidur dua jam. Di koridor sekolah aku melihat Axel sedang berdiri sendirian. Dia memegang handphonenya, sepertinya bermain game.


"Apa lebih baik ku tanyakan pada Axel? Dia kan suaminya," ujarku. Axel memang seharusnya menjadi orang pertama yang tahu hilangnya Raina karena dia suaminya. Tak benar jika aku tak memberi tahunya.


Aku menghampiri Axel, berdiri di depannya. Menyiapkan keberanianku untuk bicara dengannya. Meskipun hubunganku dengannya kurang baik akhir-akhir ini.


"Axel aku ingin bicara, ini penting," ujarku. Masa bodo Axel mau menolak atau tidak. Kabar hilangnya Raina harus ku sampaikan. Namun sayangnya Axel sama sekali tak menatapku, justru berjalan menghindariku. Aku tak terima, ku kejar dia sambil berbicara lagi. Semua ini demi Raina.


"Axel ini tentang Raina, ku mohon dengarkan aku," ucapku yang terus berjalan mengejarnya.


Axel tak menggubris, masih berjalan. Dia cuek padaku seolah aku tak ada. Ucapanku seperti tak kasat mata. Dia sama sekali tak menoleh atau merespon.


"Raina hilang," ungkapku.


Langkah kaki Axel terhenti saat aku memberitahunya.


"Kau bilang apa?" tanya Axel.


"Raina hilang," jawabku.


"Kau serius?" tanya Axel menatapku.


Aku mengangguk. Dia menarikku berjalan menuju taman sekolah. Kami duduk di kursi dan mulai bicara. Ku ceritakan kronologi dari awal Raina di rumah, berangkat sampai menghilang.

__ADS_1


"Sialan, pasti ini ulah Patrick!" pekik Axel langsung berdiri.


Aku ikut berdiri menenangkan Axel.


"Axel kita tidak boleh menuduh dulu, semalam Albern sudah menelpon Patrick, dia juga tidak tahu di mana Raina, dia mengira Raina tak datang," ujarku.


Axel terdiam. Dia berjalan meninggalkanku dengan wajah penuh emosi. Aku mengejar Axel, membuntutinya di belakangnya. Aku takut terjadi sesuatu. Benar saja Axel mencari keberadaan Patrick. Dia menemukan Patrick sedang berada di kelas sendirian. Axel menonjok pipinya dengan kepalan tangannya.


Dug ...


"Hei kau! baru datang main tonjok," ucap Patrick.


"Di mana Raina?" Axel meraih kerah baju Patrick melotot padanya.


"Aku tidak tahu," jawab Patrick.


"Kau yang mengundangnya, ini pasti rencanamukan?" ujar Axel.


"Aku memang mengundangnya tapi bukan berarti aku tahu di mana Raina, justru aku sedang mencari keberadaannya juga," ucap Patrick.


"Kau pikir aku percaya!" bentak Axel. Dia bersiap dengan kepalan keduanya. Segera ku lerai sebelum terjadi. Ku pegang lengan Axel.


"Axel hentikan! Ini sekolah bukan tempat berkelahi," ujarku.


Emosi Axel mereda. Dia melepas tangannya dari kerah baju Patrick.


"Patrick kau tak apa?" tanyaku.


Patrick menggeleng.


Beberapa menit kemudian, bel berbunyi. Kami duduk di kursi masing-masing. Ku ceritakan kejadian yang menimpa Raina pada Ami dan Dodo juga, siapa tahu mereka bisa membantu mencari Raina.


"Kok bisa ya Raina hilang? Aku jadi takut diculik juga," ujar Ami.


"Gak ada untungnya menculik lo Mi, gendut, keribo, tukang makan. Di jual jadi apa aja gak ada nilai jualnya, pantesan jadi babu," ujar Dodo.


"Enak aja mulut lo lost gitu, gak ada sletingnya, butuh dijahit dulu pasang sleting?" ucap Ami marah.


"Sorry Mi, fakta," ucap Dodo.


"Udah jangan berdebat, Pak guru dah masuk tuh," ujarku.


Kami pun terdiam. Guru mulai memberikan pelajaran.


Jam istrirahat, aku pergi ke toilet bersama Ami. Baru mau masuk ke dalam toilet, kami terkejut mendapati seorang teman tergeletak di lantai.

__ADS_1


"Aara itu apa? Dia masih idupkan?" tanya Ami.


Aku melihat ke arah teman kami yang tergeletak di lantai toilet. Ada darah yang tangannya beserta silet di dekatnya.


"Ami ...," ujarku takut juga.


"Aara dia mati," ucap Ami ketakutan.


Aku mengangguk. Tangan kami saling berpegangan dan kedinginan.


"Aara kita harus cek, dia masih hidup atau tidak," ucap Ami.


"Jangan, kita harus lapor guru," ujarku.


Ami mengangguk. Kami berjalan ke luar toilet dan melapor guru. Segera beberapa guru datang ke TKP. Mereka juga lapor polisi. Di depan toilet dipenuhi guru dan siswa yang kepo. Polisi berada di dalam memeriska teman kami dan mencari informasi. Beberapa menit kemudian, jenazah teman kami dibawa ambulan. Polisi juga masuk ruang kepala sekolah. Kami masih berdiri di depan toilet, beberapa siswa menggosip.


"Masa sih Mayang bunuh diri, diakan dari kemarin happy aja tuh, gak punya masalah apapun."


"Iya, diakan satu meja denganku, dia gak pernah tuh cerita hal yang menyedihkan, happy terus."


"Dia malah cerita kalau minggu ini mau liburan ke luar negeri."


"Bener juga, masa orang happy gitu bunuh diri, gak masuk akal."


Aku dan Ami mendengarkan godip itu kemudian berjalan menuju kelas.


"Aara semalam Raina menghilang dan sekarang Mayang teman kita bunuh diri, kayaknya sekolah kita jadi horor sih," ujar Ami.


"Gak tahu, aku juga bingung, setahuku Mayang itu tipekal orang yang pantang menyerah dan selalu semangat melakukan apapun, masa bunuh diri," ucapku.


"Iya ya, tadi pagi aja dia masih bercanda di kelas, masa bunuh diri?" tambah Ami.


"Aneh," ujarku.


Aku dan Ami kembali ke kelas. Duduk di kursi bersama Dodo yang dari tadi menunggu kami.


"Mayang bunuh diri ya?" ujar Dodo.


Kami mengangguk.


"Serem ya, mana kita akan kemah di belakang sekolah besok," ujar Dodo.


"Iya, ngeri ada hantu Mayang yang penasaran," ucap Ami.


"Stop! Doakan Mayang, bukan malah menggosip yang tidak-tidak," ujarku.

__ADS_1


Ami dan Dodo terdiam. Begitupun aku juga. Benar kata Dodo besok kami kemah di belakang sekolah dalam rangka meningkatkan pembelajaran kami.


__ADS_2