
Alina sampai dirumah besar Rehan. Saat turun dari mobil, dia melihat rumah yang begitu besar dan megah. Dia terus memandang rumah yang akan ditempatinya. Dia tak menyangka orang tua kandungnya orang kaya. Rehan dan Haura mengajak Alina masuk ke dalam rumah.
Alina menapakkan kakinya diruangan yang begitu luas germerlap dengan semua barang kualitas terbaik. Seseorang ibu yang tampak cantik menghampiri Alina.
"Alina, ini Mama sayang" ucap Cinta.
"Mama" ucap Alina.
Cinta mengangguk dengan senyuman penuh air mata yang membasahi pipinya. Alina langsung memeluk Cinta. Lama sekali mereka terpisah tapi takdir membawa mereka berkumpul lagi.
"Mama rindu nak, Mama kira tak akan bertemu denganmu lagi" ucap Cinta.
"Alina senang sekali, ternyata Alina masih punya Papa dan Mama hik hik hik" ucap Alina.
Cinta melepas pelukannya dan berkali-kali mencium kening Alina. Ciuman yang seharusnya didapat Alina dari masih kecil. Suasana haru itu membuat Deena ikut menghampiri mereka.
"Pa, Ma, sia..pa?" tanya Deena.
Cinta dan Alina menengok ke arah Deena yang menghampiri mereka.
"Ini Alina, kakak kembarmu Deena" ucap Cinta.
"Alea?" tanya Deena.
"Iya nak, ini Alea kakakmu" ucap Cinta.
Deena langsung mendekati Alina dan memeluknya.
"Alina aku rin...du sekali dengan...mu walau sa..at masih ke..cil kita tidak ber...sama" ucap Deena.
"Iya, aku juga senang bisa bersama denganmu lagi" ucap Alina.
Rehan dan Cinta memeluk ketiga putri kembar mereka. Senang sekali rasanya bisa berkumpul bersama lagi. Kini keluarga mereka lengkap sudah.
Haura dan Deena mengantar Alina ke kamarnya.
Mereka memiliki kamar masing-masing, kamar Alina sudah ada sejak dia masih bayi. Kamar yang dirancang khusus untuk Alina. Semua barang dikamar itu dibeli Cinta setiap membeli barang untuk Deena dan Haura. Cinta selalu berpikir suatu saat mungkin bayinya akan kembali. Takdir akan mempertemukan mereka kembali.
"Nah Alina ini kamarmu, baguskan?" ucap Haura sambil duduk diranjang kamar itu.
"Se...moga Alina su..ka kamarnya" ucap Deena.
"Bagus, aku suka" ucap Alina.
"Karena hari ini hari pertamamu disini, aku dan Deena akan pesta tidur dikamarmu" ucap Haura.
Alina tidak tahu apa yang dimaksud dengan pesta tidur.
"Pesta tidur itu apa?" tanya Alina.
__ADS_1
"Kita akan nonton film bersama, menyanyi bersama, baca dongeng atau cerita bersama, menguncir rambut bersama, bermain permainan apapun bersama dan masih banyak lagi yang bisa kita lakukan bersama" ucap Haura.
"Sepertinya menyenangkan, kitakan sudah lama tak bersama" ucap Alina.
Haura beranjak dari ranjang langsung merangkul Alina dan Deena.
"Pasti seru kitakan bertiga, iyakan?" ucap Haura.
"Iya" ucap Alina dan Deena.
"Bahagianya kita bisa berkumpul bersama" ucap Alina.
"Iya aku juga bahagia kita bisa bersama-sama lagi" ucap Haura.
"Ki...ta bisa mela...kukan banyak hal ber...sama" ucap Deena.
"Iya" ucap Alina dan Deena.
Mereka bertiga senang bisa bersama kembali. Kedepan banyak hal yang bisa dilakukan bersama. Alina bahagia bisa berkumpul ditengah-tengah keluarganya lagi.
************
Alvin duduk ditepi rawa dekat rumah barunya dikota D. Dia dan Ibunya terpaksa pindah ke kota D karena itu perintah Alvan. Demi kesalamatan Alvin dan Ibu Lesti, mereka harus pindah. Alvin hanya bilang ingin berobat alternatif dikota D pada ibunya demi menghilangkan kecurigaan ibunya.
"Alvan kenapa kau yang harus berkorban, seandainya aku saja yang berkorban mungkin rasa bersalah ini akan hilang" ucap Alvin.
Alvin mengingat pertemuannya terakhir saat bertemu dengan Alvan. Kala itu Alvan masuk ke kamar Alvin seperti seorang pencuri, sembunyi-sembunyi melewati jendela Alvin yang sengaja tidak dikunci untuk menyambut kedatangan Alvan.
Alvan masuk ke dalam kamar Alvin. Dia menghampiri Alvin yang sedang tidur diranjang.
Dia menepuk-nepuk lengan Alvin hingga dia terbangun.
"Alvan" ucap Alvin.
"Pelan-pelan, nanti ibu dengar" ucap Alvan.
"Mau bicara apa semalam ini kau mengajakku bertemu?" tanya Alvin.
Alvan berdiri menghadap Alvin. Dia mulai berbicara.
"Kau dan ibu harus segera pindah dari kota ini" ucap Alvan.
"Apa karena Gengster Harimau itu?" tanya Alvin.
"Iya, mereka berhasil melacakku, aku khawatir mereka akan melacakmu dan ibu" ucap Alvan.
"Kau dan ibu saja yang pergi, biar aku yang menyerahkan diri" ucap Alvin.
"Tidak, saat masih kecil kau sudah menderita bersama ayah, biar aku menggantikanmu. Lagi pula kau sakit, ingat itu" ucap Alvan.
__ADS_1
"Justru karena aku sakit, biar aku yang menyerahkan diri toh hidupku takkan lama lagi" ucap Alvin.
"Kau jangan bodoh, kau harus sembuh. Aku akan menyerahkan diri biar mereka tak mengejarmu dan ibu" ucap Alvan.
Alvin menundukkan kepalanya. Dia merasa tak berguna. Seharusnya dialah yang pergi tapi justru Alvan yang pergi. Mereka harus bertukar tempat sejak mereka bertemu dan Alvin sakit-sakitan.
"Baiklah, aku akan mencari alasan agar ibu mau pindah dari sini" ucap Alvin.
"Oke, oya gimana kabar Alina?" tanya Alvan.
"Baik" ucap Alvin.
"Aku titip ini untuk Alina" ucap Alvan.
Alvan memberikan kado kepada Alvin agar dia memberikannya pada Alina. Kado itu khusus disiapkan Alvan untuk Alina.
"Kau punya seseorang yang kau cintai, kenapa kau yang harus menyerahkan diri" ucap Alvin.
"Ini yang terbaik untuk semuanya" ucap Alvan.
"Kenapa kau tidak menyerahkannya sendiri pada Alina?" tanya Alvin.
"Aku takut langkahku semakin berat jika aku memberikan ini secara langsung, lagi pula dimata Alina aku kasar, tampak bodoh jika tiba-tiba aku sweet" ucap Alvan.
"Apa kau tak ingin tahu perasaan Alina padamu? kenapa kau harus meninggalkannya?" tanya Alvin.
"Siapa yang akan mencintai lelaki kasar sepertiku? menjadi temannya saja sudah jadi penghargaan tertinggi untukku" ucap Alvan.
"Andai Alina tahu kau sangat baik, pasti dia takkan menyebutmu kasar" ucap Alvin.
"Sudahlah, aku harus segera pergi" ucap Alvan.
"Oke" ucap Alvin.
Alvan berjalan keluar dari kamar itu. Alvin langsung sholat tahajud lalu berdoa untuk Alvan saudara kembarnya.
Kenangan itu terlihat jelas dipikirannya. Walaupun pertemuan itu singkat tapi membuat Alvin selalu mengingatnya sebagai kenangan terindah dari Alvan.
"Alvan apa kau sudah mati atau masih hidup?" ucap Alvin.
Alvin beranjak dari tepi rawa. Dia kembali ke rumahnya. Meskipun sakit rasanya mengingat Alvan tapi itu yang terbaik untuk semuanya.
Alvin masuk ke dalam rumah. Ibunya sedang sibuk mendesain baju terbaru yang akan dijualnya dibutik barunya. Alvin menghampuri Ibu Lesti dan membantunya.
"Bu biar ku bantu" ucap Alvin.
"Alvan lebih baik kau istirahat biar jantungmu sehat nak" ucap Ibu Lesti.
"Iya Bu" ucap Alvin.
__ADS_1
"Aku bukan Alvan Bu tapi Alvin, maafkan aku harus membohongimu sebagai Alvan" ucap Alvin.
Alvin berjalan ke kamarnya. Sebenarnya dia tidak ingin membohongi ibunya tapi semua ini sudah disepakatinya dengan Alvan.