
Alina diantar Cinta dan Haura pergi ke rumah sakit. Mereka naik mobil menuju rumah sakit. Alina terus memakan kripik jengkol selama di perjalanan menuju rumah sakit. Haura dan Cinta geleng-geleng melihat Alina makan kerupuk jengkol.
"Alina kamu kok jadi doyang yang bau-bau?" tanya Haura.
"Enak Haura, mau?" tanya Alina balik.
"Gah ah, kurang suka," jawab Haura.
"Nak kamu dah makan tiga bungkus, gak bosen?" tanya Cinta.
Alina masih mengunyah kerupuk jengkol di tangannya.
"Enak Ma, tapi ini kurang banyak bau jengkolnya," ucap Alina.
Haura menelan ludahnya mendengar Alina yang bilang kurang bau jengkolnya. Alina benar-benar aneh. Haura curiga Alina benar-benar hamil.
Sampai di rumah sakit, mereka segera mendaftar. Tak diduga Alina mual saat menghirup aroma harum lantai yang baru dipel.
Dia sampai lemas dan pusing, segera Haura mengajaknya menepi ke tempat yang tidak harum tapi Alina malah mengajaknya ke toilet, Alina menghirup aroma bau pesing di toilet itu, membuatnya tak mual lagi.
"Alina kau tak bau? malah seneng sih nyium bau."
"Dari pada bau harum lantai basah tadi bikin aku mual."
"Ada ya, orang hamil kaya kamu?"
"Katamu beda-beda bawaan hamil itu."
"Iya sih, tapi nyium bau agak aneh tahu."
Alina tertawa. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa seperti itu. Setiap kali mencium bau harum perutnya malah mual, dia lebih suka mencium bau dari pada harum. Haura dan Alina berjalan keluar dari toilet, Alina yang berjalan di depannya tiba-tiba pingsan, untung Haura segera menangkapnya.
Alina membuka matanya, dia melihat sekeliling. Dia melihat Farel ada di dekatnya. Sendari tadi Farel memegang tangannya. Dia terlihat senang melihat Alina sudah sadar.
"Sayang kau sudah sadar," sapa Farel.
"Kok Kak Rafa ada di sini?" tanya Alina.
"Iya dong, aku kan ayah siaga sekarang, harus ada di dekat sayangku," ujar Farel.
Alina masih belum tahu apa yang dibicarakan Farel padanya. Dia hanya heran kenapa suaminya ada bersamanya, tapi melihat ibu dan saudari kembarnya, Alina yakin merekalah yang memberi tahu keadaannya pada Farel.
"Ayah siaga?" tanya Alina.
"Selamat ya sayang kamu hamil," ujar Farel.
"Hamil?" Alina terkejut mendengarnya. Dia senang sekali di rahimnya ada buah cintanya bersama Farel.
"Iya sayang, kita akan punya anak," jawab Rehan.
Haura dan Cinta menghampiri mereka berdua, memberi selamat juga pada mereka.
"Selamat Alina, aku ikut bahagia," ucap Haura.
__ADS_1
Cinta mencium kening putrinya. Dia juga senang dengan kabar gembira ini.
"Selamat ya nak, kau harus menjaga dirimu, pola makan dan kesehatanmu, ada kehidupan baru di rahimmu," ucap Cinta.
"Iya Ma, Haura, makasih ya dah ditemenin," ucap Alina.
"Iya," ucap Cinta dan Haura.
Alina langsung memeluk Cinta, dia bahagia bisa berada di antara orang-orang yang dicintainya. Apalagi yang diinginkannya selain bersama mereka.
Cinta dan Haura pulang. Tinggal Farel dan Alina di ruang itu. Farel langsung memeluk Alina, dia begitu rindu pada istrinya. Rindunya begitu berat maklum selama ini mereka selalu bersama, tiada orang yang lebih dekat selain kedekatan mereka yang sudah terjalin dari masih kecil.
"Sayang aku kangen banget," ucap Farel.
"Aku juga kangen Kak Rafa," sahut Alina.
"Kamu masih marah sama aku sayang?" tanya Farel.
"Gak, justru aku pengen ketemu Kak Rafa," ucap Alina.
"Kirain kita akan berpisah lama," ucap Farel.
Farel takut kemarahan Alina akan lama, tapi ternyata tidak. Dia melihat Alina sudah tidak seperti hari kemarin, bahkan Alina terlihat senang saat bersamanya.
"Kak Rafa laper," ucap Alina.
"Iya sayang mau makan apa?" jawab Farel.
"Teri balado sama roti bakar enak kayanya," ucap Alina.
"Enak pokoknya enak," ucap Alina.
Farel menggeleng kehamilan Alina membuatnya agak berbeda dari biasanya. Dari sikapnya yang cengeng manja dan suka makan yang aneh-aneh.
"Oke aku pesenin dulu ya?" tanya Farel.
Alina mengangguk. Dia menunggu suaminya memesankan roti bakar dan teri balado. Alina sudah membayangkan rasa makanan yang ingin dimakannya itu, dia sampai menelan ludahnya berkali-kali.
"Sayang udah aku pesenin ya," ucap Farel.
"Makasih sayang," ucap Alina.
Tak lama pesanan itu diambil Farel ke bawah. Dia kembali ke ruang rawat inap membawa makanan untuk istrinya tercinta.
"Sayang makan," ucap Farel.
"Asyik," ucap Alina.
Farel meletakkan makanan yang dipesannya di meja dia mengambil roti dan teri balado dan memberikannya pada Alina, tanpa ragu Alina mencampur teri balado dengan roti lalu memakannya dengan lahap.
"Sayang enak?" tanya Farel.
"Enak, mau?" tanya Alina.
__ADS_1
"Kamu aja sayang," ucap Farel.
Alina mengangguk, dia memakan semua roti dan teri balado. Farel hanya bisa memperhatikan istrinya yang sedang makan.
"Nih minumnya sayang," ucap Farel.
Alina tersenyum, suaminya memang selalu perhatian padanya. Setelah selesai makan, Farel mencium perut Alina, dia senang sekali sebentar lagi akan memiliki buah cintanya bersama Alina.
"Sayang, bentar lagi kita akan punya anak, pasti rumah kita akan ramai dengan tawa anak kita," ucap Farel.
"Iya Kak Rafa, aku senang karena kita selalu bersama walau kemarin aku sempet kesel, bawaan bayi ya Kak," ucap Alina memohon.
"Iya sayang, aku tahu kalau kau jarang ngambek, eh tiba-tiba ngambek, pasti ada sesuatu, ternyata ada dede bayi di perutmu," ucap Farel.
Alina meraba pipi suaminya, mengelus rambutnya. Untung kekesalannya tak panjang jadi di saat seperti ini ada Farel di sisinya.
"Kak Rafa ngantuk," ucap Alina.
"Tidurlah sayang, aku akan menjaga kalian," ucap Farel.
Alina mengangguk. Farel mengelus dahi Alina sampai tertidur pulas. Dia begitu menyayangi Alina melebihi dirinya sendiri.
***
Kiara dan Ibu Yesi sedang menjenguk ke rumah sakit. Ayah Kiara masih koma, biaya semakin membengkak. Uang tabungan Kiara semakin habis. Dia ingin mulai kesulitan membayar uang untuk biaya perawatan ayahnya. Kiara dan ibunya duduk di ruang tunggu sambil memikirkan caranya dapat uang.
"Kiara gimana caranya kita dapet uang? Farhan sudah membuangmu," ucap Ibu Yesi.
"Aku juga gak tahu Bu," ucap Kiara.
"Cari mangsa baru," ucap Ibu Yesi.
"Siapa?" tanya Kiara.
"Bapaknya Farhan?" tanya Ibu Yesi balik.
"Jangankan menjadikannya mangsa, keterima juga belum," ucap Kiara.
Ibu Yesi memikirkan cara lain, dia harus segera mendapatkan donatur untuk membayar biaya rumah sakit suaminya.
"Pokoknya cari yang kaya," ucap Ibu Yesi.
Kiara coba memikirkan ucapan ibunya.
"Yaudah Bu, aku beli minum dulu haus," ucap Kiara.
"Ibu sekalian," ujar Ibu Yesi.
"Iya," kata Kiara.
Kiara berjalan menuju kafe di lantai dasar rumah sakit. Saat dia keluar lift tak sengaja dompetnya terjatuh karena Kiara salah memasukkan dompetnya ke tas.
Pluuuk ...
__ADS_1
Dompet milik Kiara jatuh ke lantai, seseorang mengambil dompet itu. Dia mengikuti Kiara yang berjalan di depannya.