ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM


__ADS_3

Aku duduk di kelas 3 IPA 1. Kelas kebanggan setiap siswa di kelasku, karena kelasku dihuni geng-geng ternama seperti geng fakboy, geng lambe dower, geng candy, geng mukbang dan geng absurd. Geng candy beranggota orang-orang yang menyukai hal-hal berbau kpop dan drakor. Bisa dilihat dari gaya mereka yang full collor. Temanku Dodo pernah maksain ngikut tapi sayangnya ditolak karena makai color bukan collor. Ami juga ikutan geng mukbang tapi dikeluarin gara-gara gragas, ngabisin makanan mulu belum juga direview. Gak masalah kita sudah punya geng sendiri geng absurd, siapa yang gak tahu, dari kelas satu sampai kelas tiga tahu semua. Berasa jadi artis padahal dibulli.


Aku masuk ke kelas. Biasa ricuh setiap masuk. Teman-temanku sibuk masing-masing, ada yang bigos, nyemil, pamer barang baru, dan ngerjain PR. Aku berjalan menuju meja, Dodo dan Ami langsung menyambutku.


"Aara kau sudah mengerjakan tugas bahasa Indonesia?" tanya Dodo.


"Yang mana?" tanyaku.


"Mengarang," jawab Ami.


"Sudah dong, ngarang doang gampang, tinggal isi cerita menyedihkan guru baper dapet nilai bagus deh," ujarku.


"Mana kepo nih," ujar Ami.


"Tunggu," jawabku.


Aku meletakkan Bobo dulu di meja lalu mengeluarkan buku, ku buka halaman yang sudah ku tulis karangan bahasa Indonesia, Dodo dan Ami langsung membaca karanganku.


"Aara ini ceritanya sedih banget, bisul sampai banyak gini, ini beneran kisah nyata?" tanya Ami.


"Iyalah, itu pengalamanku kena bisulan, sedihkan rasanya saat bisulan banyak mesti duduk di kursi, udah gitu kena bola basket, meletus tuh bisulku, sampai pingsan, inget gak?" tanyaku.


"Inget, waktu itu kamu sampai dibawa ke rumah sakit cuma karena bisulmu pecah semua," jawab Ami.


"Ceritamu bagus, kalau aku ngarang gigi kuningku yang jarang gosok gigi, bahkan seminggu sekali, itupun kalau inget," ujar Dodo.


"Kok bisa? pantes suka bau kalau kamu ngomong Do," ujar Ami.


"Bisa, kata kakekku gigi kuning itu ciri khas keluargaku, kalau gosok gigi jadi putih tar disangka anak tetangga dong," jawab Dodo.


"Ha ha ha." Aku dan Ami tertawa. Dodo memang ada aja kelakuannya.


"Kamu Ami ngarang apa?" tanyaku.


Ami ambil nafas dalam-dalam, sepertinya cerita yang akan menguras emosi jiwa kaya cerita istri yang tersakiti atau suami selingkuh.


"Aku ngarang cerita tentang jumlah adikku yang bertambah setiap dua tahun sekali," jawab Ami.


"Oya aku inget, pasti menceritakan betapa sulitnya setiap makan harus rebutan satu ikan asin tapi kamu kebagian kepalanya, iyakan?" tanyaku.


"Betul banget, pagi ini aja aku cuma kebagian buntut ikan asin, abis adikku kaya antrian konser musik, rame banget, desek-desekkan," ujar Ami.

__ADS_1


"Alhamdulillah, apapun itu bersyukur, kita masih sehat dan ketawa, iyakan?" tanyaku.


"Yoi," jawab Ami dan Dodo.


Sebelum bel berbunyi, aku segera menitipkan Bobo pada Bi Siti. Tak lupa aku membantu Bi Siti menata dagangannya. Biar bagaimanapun Bi Siti sudah baik mau membantuku menjaga Bobo.


"Aara keripikmu titip di sini aja," ujar Bi Siti.


"Tapi aku dak bisa bagi keuntungan ke Bi Siti, nanti harganya kemahalan," ujarku.


"Udah gak usah bagi untung, yang penting kamu bisa beli susu buat Bobo, tuh bayi makin gede pasti boros susunya," kata Bi Siti.


"Alhamdulillah Bi Siti, makasih," ujarku.


"Beres," balas Bi Siti.


Ini yang dinamakan jalan rejeki, asal niat kita baik pasti ada jalannya. Sepertinya aku akan jadi pebisnis keripik viral. Segera ku tata keripikku di keranjang camilan sambil menjelaskan status keripikku yang mulai viral dan digandrungi emak-emak sampai muda-mudi yang suka tiktokan, yuotube-an, dan instagraman..


"Bi ini keripik patah hati suami selingkuh," ujarku.


"Kok keripik patah hati suami selingkuh? pembelinya kan masih anak SMA," ujar Bi Siti.


"Tenang ada keripik pacar bucin sama adik kelas," ucapku.


"Kalau gitu, ini aja keripik setia akhirnya putus juga," ujarku.


"Kok status keripiknya bikin naik darah semua, belum beli hati rasanya teriris-iris," ujar Bi Siti.


"Ini justru yang dicari, maklum sinetron sekarang berbau perselingkuhan, pelakor, dan ibu mertua jahat, jadi ngikutin trend Bi Siti," ujarku.


"Oh gitu, keren juga, kira-kira bakwan Bi Siti statusnya apa?" tanya Bi Siti.


"Satu atap tiga istri," ucapku.


"Bagus juga, moga aja laris ya pakai nama itu," ujar Bi Siti.


"Amin," jawabku.


Aku kembali ke kelas, ku lihat Axel sedang nongkrong bersama teman-temannya di depan kelas. Semua cewek mengerumuninya.


"Axel nonton di bioskop yuk, aku punya tiket gratis."

__ADS_1


"Sama aku aja, aku punya mobil baru kita jalan-jalan ke puncak."


"Axel minta foto."


Suara cewek-cewek kecentilan, maklum Axel memang ganteng dan keren, cool lagi. Geng fakboy memang selalu membuat semua cewek berkerumun untuk minta foto, tanda tangan dan ngajak jalan.


"Gak penting, lebih baik aku masuk kelas," ujarku.


Baru jalan Axel memanggilku dengan keras.


"Lemot sini!" panggil Axel.


Aku menengok ke samping. Haters bertanduk. Bisa jadi rempeyet kalau diteruskan, tapi aku masih terikat kontrak belajar bersama Axel, gimana kalau dia tidak mau mengajariku lagi. Bisa-bisa tahun ini bisa terancam jadi penghuni terakhir di kelas. Udah pede aja biarin mata haters menatapku sinis, kali aja mereka nimpukin aku pakai duit ribuan kertaskan lumayan.


Aku menghampiri Axel, wah ganteng-ganteng anggota geng fakboy ini, rasanya nonton drakor live action nih. Silau melihat gaya mereka, yang jelas tuh yang dikenakan dari atas sampai bawah branded semua.


"Iya paduka, mau apa?" tanyaku.


"Beliin aku minum ma snack di kantin!" perintah Axel.


Kirain kaya film drakor, Axel mau nyatakan cinta di depan semua haters, ternyata realita tak seindah mimpi.


"Eh sejak kapan aku jadi pesuruhmu Axel?" ujarku.


"Lemot kau lupa, siapa yang mengajarimu?" Axel mengingatkan aku tentang jasanya. Sial jelas aku tak bisa mengelak.


"Ternyata babu, kirain pacar Axel."


"Gak mungkinlah si lemot pacaran sama Axel, paling juga kacung."


Haters mulai menghujatku. Sudah jangan di dengerin, mereka memang Queen Of Ketus, udah biasa bentengin pakai senyuman manja beres.


"Oke, nyesel aku diajarin ternyata pamrih, berbunga," ujarku.


"Lemot nih uangnya." Axel melempar uang padaku.


Aku cemberut, mengambil uangnya dan berjalan keluar dari kerumunan haters, menuju kantin, tak sengaja aku melihat mobil mewah datang ke sekolah.


"Mobil siapa mentereng banget?" batinku.


Seseorang turun dari mobil. Kalau dilihat-lihat aku pernah bertemu orang itu, tapi di mana. Sepertinya bukan orang biasa. Penampilannya rapi, mengenakan setelan jas.

__ADS_1


"Wah ini kaya di film drakor, ganteng banget agak mirip Axel, siapa ya?" tanyaku kepo.


__ADS_2