ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Episode 84


__ADS_3

"Pa, Ma, berikan waktu untuk Rangga berpikir dulu. Ini terlalu mendadak," jawab Rangga. Dia sulit mengatakan hal yang sebenarnya. Rangga tak ingin menyakiti hati kedua orangtuanya.


"Baiklah, Rangga benar Ma, ini terlalu mendadak, Rangga butuh waktu untuk menjalin kedekatan dengan Aara," ujar Farel.


"Iya benar kata Papa, Mama juga ingin kau dan Aara bisa menjalin kedekatan dengan baik," sahut Alina.


Rangga hanya mengangguk. Sedangkan Adelina terdiam.


"Bagaimana kalau tunangan dulu?" tanya Alina.


"Tunangan?" Rangga dan Adelina terkejut.


"Ide bagus Ma, paling tidak Aara sudah ada yang mengikat, jadi orang lain tak bisa mendekatinya," sahut Farel.


"Gimana Rangga?" tanya Alina. Terlihat berharap sangat pada Rangga. Matanya berbinar. Menatap Rangga.


"Iya Ma," jawab Rangga. Untuk saat ini Rangga tidak bisa mematahkan langsung. Akan aneh jika dia menolak dan memberitahu kalau dia mencintai Adelina.


"Ya sudah, minggu ini kalian tunangan, Papa akan undang semua kenalan kita," sahut Farel.


"Iya Pa, sepertinya bagus," sahut Alina.


Rangga dan Adelina terdiam. Mereka menyaksikan kedua orangtuanya begitu bahagia. Tak tega rasanya mengungkapkannya sekarang.


Untuk saat ini mereka hanya bisa diam dan menerima.


Setelah obrolan itu selesai, Rangga dan Adelina kembali ke kamar mereka masing-masing. Keduanya terlihat murung. Adelina duduk di pintu begitupun dengan Rangga. Mereka tak bisa melukai hati kedua orangtuanya. Rasa cintanya lebih besar pada orangtuanya dari pada cintanya sendiri.


"Apa kita memang tak berjodoh Kak," ucap Adelina.


"Apakah kita memang harus jadi kakak adik?" ucap Adelina.


Keluhan demi keluhan ke luar dari mulut Adelina. Dia tahu persis posisi mereka tak memungkinkan untuk bersama.


Adelina bangun. Menuju balkon kamarnya. Berdiri menatap langit yang menggelap. Mencurahkan hatinya pada malam yang juga sedang muram durjana.


"Sang malam warnamu begitu gelap segelap apa yang kurasakan sekarang," ucap Adelina. Tak ada bulan terang apalagi bintang berkelip.


Di saat kesunyiaannya mendera, tiba-tiba langkahan kaki masuk ke ruangan kamar. Menghampurinya. Adelina menrmengok ke belakang. Ternyata Rangga.


"Kak Rangga," ucap Adelina.


"Adel," sahut Rangga.


Mereka berdiri di balkon menatap langit yang sama. Mendinginkan suasana hati yang memanas. Baik Rangga atau Adelina tidak ingin egois yang akan berujung terlukanya hati kedua orangtua mereka.


"Del, aku minta maaf soal yang tadi," ucap Rangga merasa bersalah.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, aku mengerti kok Kak, jika aku jadi kakak, mungkin akan begitu juga," sahut Adelina.


Mereka terdiam kembali. Ada rasa gundah gulana dan tak nyaman dihati keduanya.


"Apakah kita akan bersama?" tanya Adelina.


"Kita akan bersama," tegas Rangga.


Adelina melihat ke arah Rangga. Dia melihat Rangga serius mengatakan hal itu. Tak ada keraguaan.


"Bagaimana caranya? Mengatakan pada Papa dan Mama?" tanya Adelina.


"Untuk saat ini jangan dulu, terlalu mendadak, kita harus punya alasan kuat," ujar Rangga.


"Kakak benar, terlalu mendadak, di saat orangtua kita mengatakan niatnya masa kita tolak dengan niat kita," jawab Adelina.


"Masih ada waktu satu minggu, kita harus bicara pada Aara dulu," ucap Rangga.


"Bicara untuk apa?" tanya Adelina yang masih belum tahu rencana Rangga.


"Aku akan bicara dengan Aara soal hubungan kita, jadi kita bertiga bisa sama-sama menghadap Papa dan Mama," ujar Rangga.


"Itu ide bagus, lebih bagus lagi kalau Kak Aara punya pasangan, Papa dan Mama tidak akan berpikir untuk menjodohkan kakak dengan Kak Aara," usul Adelina.


"Mungkin nanti kita bicarakan sama-sama dengan Aara gimana baiknya," sahut Rangga.


Adelina mengangguk dan tersenyum. Kabut di wajahnya sudah tertiup angin. Berubah jadi pelangi yang berwarna.


"Nah gitu, baru Adelina yang kakak kenal, cantik dan ceria," puji Rangga.


"Kakak bisa aja, jadi pinter gombal," sahut Adelina.


"Kak Rangga tidur di sini ya?" tanya Rangga.


"Gak boleh, bukan mahrom," jawab Adelina.


"Biasa juga kakak tidur di sini, di balkon," sanggah Rangga.


"Itukan dulu, waktu kita gak punya rasa cinta," jawab Adelina.


"Memang kenapa kalau ada rasa cinta?" tanya Rangga.


"Nanti kita melakukan hal yang aneh-aneh Kak," ucap Adelina.


Rangga terdiam. Memikirkan hal aneh-aneh yang dimaksud Adelina.


"Nungguin lilin, biar tuyul muter?" tanya Rangga.


"Kak Rangga, masa gak tahu," jawab Adelina.


"Ah, pasti kita bakal bergadang semalaman nonton jalangkungkan?" tanya Rangga.

__ADS_1


"Kak Rangga, itu mah sering," ujar Adelina..


"Apa ya? Itu ya sistem reproduksi manusia, memperbanyak keturunan dengan kawin?" tanya Rangga.


Adelina langsung menepuk lengan Rangga.


"Ah kakak, malu tahu, jangan dibahas," sahut Adelina.


"Oke, kakak akan ke luar nih," jawab Rangga.


Akhirnya Rangga ke luar dari kamar Adelina. Setidaknya mereka bisa tidur dengan tenang malam ini. Melupakan beban di pundak mereka. Dan menyerahkan pada Allah SWT bagaimana baiknya.


***


Siang itu Albern sedang duduk di kursi kerjanya. Dia mengerjakan semua pekerjaan yang biasa dikerjakan Martin. Semua pekerjaan yang mudah untuknya. Tiba-tiba Sekretaris Yeni masuk ke dalam ruangan membawa kopi. Dia meletakkan kopi itu di atas meja. Kemudian berdiri menatap Albern.


"Yen kenapa?" tanya Albern.


"Minum kopinya Bos, selagi hangat" jawab Yeni.


Albern melihat segelap kopi di meja. Dia mengambil kopi itu dan menyeruputnya.


"Ugh ... ugh ... ugh ..." Albern terbatuk. Meletakkan gelas itu di atas meja. Masih memegang lehernya.


"Kenapa Bos?" tanya Yeni.


"Kopinya pedas sekali," sahut Albern.


"Biasanya Bos suka kopi dengan tambahan jahe merah," jawab Yeni.


Albern terdiam sesaat. Beberapa minggu ini dia menolak jika dibuatkan kopi. Baru kali ini dia coba meminum kopi. Karena Albern memang tidak terbiasa minum kopi. Dia lebih suka teh hijau.


"Oh, aku sudah beberapa minggu tidak minum kopi jadi agak aneh saat meminumnya kembali," sahut Albern.


"Mau dibuatkan kopi lain?" tanya Yeni.


"Tidak perlu, teh hijau aja," jawab Albern.


"Oke," sahut Yeni. Kemudian dia ke luar dari ruangan Albern. Yeni membuat teh hijau di pantri. Di dalam ada beberapa OB yang sedang mengobrol sambil membuat kopi untuk staf-staf di kantor itu.


"Bu Yeni menyeduh apa?"


"Teh hijau buat Bos," jawab Yeni.


"Teh hijau? Boskan paling tidak suka teh."


"Tidak suka teh?"


"Iya, benci bahkan, pernah saya membuat teh untuknya, langsung dimarahi."


"Iya, katanya suka muntah kalau nyium aroma teh."


Yeni terdiam. Apa yang dikatakan mereka masuk akal. Selama bekerja dengan Martin, tak sekalipun Martin minta dibuatkan teh, apalagi teh hijau. Biasanya kopi dicampur jahe merah.


Setelah membuat teh hijau, Yeni berjalan membawa teh hijau itu sekalian mengambil berkas yang akan ditanda tangani Martin.


Yeni masuk ke ruangan Martin, meletakkan teh hijau di meja. Kemudian meletakkan berkas di sisi sebelahnya.


Albern mengalihkan pandangannya dari laptop ke meja. Sebuah gelas yang berisi teh hijau dan berkas yang akan di tanda tanganinya. Albern mengambil teh hijau. Menyeruputnya kemudian menandatangani berkas itu. Dan menyerahkannya pada Yeni. Sebelum dibawa pergi, Yeni memeriksa berkas itu kembali. Dia takut ada yang terlewat.


"Kok tanda tangannya ini bukan tanda tangan Martin?" batin Yeni.


"Bos ini sepertinya salah," ucap Yeni kembali meletakkan berkas itu di meja.


Albern melihat apa yang ditunjukkan Yeni. Benar saja itu tanda tangannya sendiri. Allbern lupa, kalau dia sedang berperan sebagai Martin.


"Astaga, kenapa aku bisa lupa," batin Albern.


"Aku sedang terburu-buru jadi asal. Pekerjaan menumpuk membuatku pusing," ujar Albern memberi alasan.


"Baiklah, saya akan menyiapkan berkas yang baru," sahut Yeni. Kemudian ke luar dari ruangan itu. Dia berjalan di lorong sambil memikirkan sesuatu.


"Dia bukan Martin, lalu Martin kemana?" batin Yeni..


"Apa Martin sudah mati?" batin Yeni. Dia sudah mencurigai Albern. Seingatnya orang suruhannya sudah membuat Martin kecelakaan. Mana mungkin Martin selamat dengan mudah.


***


Siang itu Albern sedang duduk di kursi kerjanya. Dia mengerjakan semua pekerjaan yang biasa dikerjakan Martin. Semua pekerjaan yang mudah untuknya. Tiba-tiba Sekretaris Yeni masuk ke dalam ruangan membawa kopi. Dia meletakkan kopi itu di atas meja. Kemudian berdiri menatap Albern.


"Yen kenapa?" tanya Albern.


"Minum kopinya Bos, selagi hangat" jawab Yeni.


Albern melihat segelap kopi di meja. Dia mengambil kopi itu dan menyeruputnya.


"Ugh ... ugh ... ugh ..." Albern terbatuk. Meletakkan gelas itu di atas meja. Masih memegang lehernya.


"Kenapa Bos?" tanya Yeni.


"Kopinya pedas sekali," sahut Albern.


"Biasanya Bos suka kopi dengan tambahan jahe merah," jawab Yeni.


Albern terdiam sesaat. Beberapa minggu ini dia menolak jika dibuatkan kopi. Baru kali ini dia coba meminum kopi. Karena Albern memang tidak terbiasa minum kopi. Dia lebih suka teh hijau.


"Oh, aku sudah beberapa minggu tidak minum kopi jadi agak aneh saat meminumnya kembali," sahut Albern.


"Mau dibuatkan kopi lain?" tanya Yeni.

__ADS_1


"Tidak perlu, teh hijau aja," jawab Albern.


"Oke," sahut Yeni. Kemudian dia ke luar dari ruangan Albern. Yeni membuat teh hijau di pantri. Di dalam ada beberapa OB yang sedang mengobrol sambil membuat kopi untuk staf-staf di kantor itu.


"Bu Yeni menyeduh apa?"


"Teh hijau buat Bos," jawab Yeni.


"Teh hijau? Boskan paling tidak suka teh."


"Tidak suka teh?"


"Iya, benci bahkan, pernah saya membuat teh untuknya, langsung dimarahi."


"Iya, katanya suka muntah kalau nyium aroma teh."


Yeni terdiam. Apa yang dikatakan mereka masuk akal. Selama bekerja dengan Martin, tak sekalipun Martin minta dibuatkan teh, apalagi teh hijau. Biasanya kopi dicampur jahe merah.


Setelah membuat teh hijau, Yeni berjalan membawa teh hijau itu sekalian mengambil berkas yang akan ditanda tangani Martin.


Yeni masuk ke ruangan Martin, meletakkan teh hijau di meja. Kemudian meletakkan berkas di sisi sebelahnya.


Albern mengalihkan pandangannya dari laptop ke meja. Sebuah gelas yang berisi teh hijau dan berkas yang akan di tanda tanganinya. Albern mengambil teh hijau. Menyeruputnya kemudian menandatangani berkas itu. Dan menyerahkannya pada Yeni. Sebelum dibawa pergi, Yeni memeriksa berkas itu kembali. Dia takut ada yang terlewat.


"Kok tanda tangannya ini bukan tanda tangan Martin?" batin Yeni.


"Bos ini sepertinya salah," ucap Yeni kembali meletakkan berkas itu di meja.


Albern melihat apa yang ditunjukkan Yeni. Benar saja itu tanda tangannya sendiri. Allbern lupa, kalau dia sedang berperan sebagai Martin.


"Astaga, kenapa aku bisa lupa," batin Albern.


"Aku sedang terburu-buru jadi asal. Pekerjaan menumpuk membuatku pusing," ujar Albern memberi alasan.


"Baiklah, saya akan menyiapkan berkas yang baru," sahut Yeni. Kemudian ke luar dari ruangan itu. Dia berjalan di lorong sambil memikirkan sesuatu.


"Dia bukan Martin, lalu Martin kemana?" batin Yeni..


"Apa Martin sudah mati?" batin Yeni. Dia sudah mencurigai Albern. Seingatnya orang suruhannya sudah membuat Martin kecelakaan. Mana mungkin Martin selamat dengan mudah.


***


Sore itu Yeni masuk ke ruangan kerja Martin. Di dalam Albern sedang duduk sambil membereskan semua barang di atas mejanya. Yeni membuka sebagian kancing bajunya. Menggerai rambut panjannya. Menghampiri Albern. Dia duduk di atas meja, mencolek dagu Albern.


"Sayang, malam ini aku kosong, mau gak ke rumah?" tanya Yeni sambil mengeluarkan suara menggoda dan gaya seksinya.


Albern terdiam sesaat. Memikirkan ajakan Yeni.


"Oke, tapi aku pulang dulu, ada urusan yang harus ku selesaikan," ujar Albern. Dia tak menatap Yeni sama sekali. Tetap fokus pada barang-barang yang dirapikannya.


"Iya sayang, aku menunggu malam ini ya," ucap Yeni sambil memainkan rambut panjangnya. Memasang pose sensasional.


"Iya," sahut Albern datar.


"Aku akan memuaskanmu," bisik Yeni di telinga Albern. Kemudian ke luar dengan bokong dilenggak-lenggokkan dari ruangan kerja Martin.


Albern terdiam melihat Yeni ke luar. Dia merasa kejadian tadi siang ada sangkut pautnya dengan permintaan Yeni sekarang. Mungkin Yeni mulai mencurigainya. Albern harus berhati-hati.


Malam itu Albern bersiap datang ke tempat Yeni. Namun tak disangka Tuan Robeberto membawa seseorang yang sedikit mirip dengannya. Albern tercengang melihatnya. Mereka duduk di ruang keluarga.


"Albern ini Martin putraku, dia sudah sadar," ucap Robberto.


"Aku Albern, senang bertemu dengan Tuan muda," ucap Albern.


"Panggil Martin saja," sahut Martin.


"Oke Martin," jawab Albern.


"Albern informasi yang sudah kau dapatkan?" tanya Robberto.


Albern akhirnya menceritakan semua informasi pada Robberto dan Martin apa yang sudah dia dapatkan. Dia juga memberikan rekaman pembunuh bayaran itu.


"Aku tak menyangka Yeni dan Natasha ular yang licik," ucap Martin.


"Itu sebabnya ayah tidak menyukai keduanya," ujar Robberto.


"Mereka harus dilaporkan ke polisi, saya khawatir mereka akan berbuat yang lebih membahayakan lagi," ujar Albern.


"Kau benar, mereka memang harus mendapatkan ganjaran atas perbuatannya," ujar Martin.


"Malam ini aku akan bertemu Yeni, apa kita jebak dia," ujar Albern memberikan usul. Dia harus membuat Yeni terjepit oleh rencananya sendiri. Biar dia mengakui kesalahannya. Tanpa harus membuatnya membuka mulut.


"Ide bagus, Yeni memang harus mendapatkan pelajaran atas kejahatannya," tambah Robberto.


Martin hanya mengangguk. Dia juga setuju dengan rencana Albern. Tak ada salahnya membuat Yeni jera.


"Yeni sudah mencurigaiku bukan Martin, sepertinya malam ini dia merencanakan sesuatu," ujar Albern.


"Kalau begitu ini saatnya membongkar kejahatannya," sahut Robberto.


"Kau benar Albern, aku setuju kata ayah," tambah Martin.


Albern mengangguk. Mereka sepakat untuk menjebak Yeni. Dan membuatnya mengakui kesalahannya dengan sendirinya.


***


Malam itu Yeni sudah menunggu Martin. Dia berdandan di depan cermin dengan pakaian seksi berwarna merah darah. Yeni juga menggunakan lipstik merah mencolok. Yeni tersenyum melihat dirinya di depan cermin. Matanya melotot penuh dengan luka. Dia sangat mencintai Martin tapi juga membencinya.


"Kau menaikkanku Martin kemudian menjatuhkanku, aku hanya jadi cadangan untukmu, lebih baik kau mati," ujar Yeni.

__ADS_1


Yeni merapikan pakaiannya. Menyisir rambut panjangnya. Dia berdiri. Ke luar dari kamarnya. Rumah Yeni sangat sederhana. Dia tinggal sendirian sejak kedua orang tuanya meninggal. Dulu Yeni sangat culun. Masuk ke perusahaan jadi bahan bullian. Untung Martin sebagai Bosnya tidak ikut membulli tapi justru membuatnya lebih cantik. Yeni jadi lebih modis. Karena itu Yeni mulai jatuh cinta pada Martin yang saat itu menjalin hubungan dengan Natasha. Yeni tak peduli, dia terobsesi ingin memiliki Martin. Dia sampai rela jadi simpanannya Martin. Namun akhir-akhir ini Martin sudah berubah baik sikap dan cara bicaranya. Dia memutuskan Natasha.


__ADS_2