
"Selamat atas pernikahanmu Bos Barra" Farel.
"Terimakasih atas kedatanganmu Bos Farel" ucap Barra.
Setelah mengucapkan selamat yang singkat itu, Farel turun dari pelaminan. Deena penasaran dengan lelaki yang tadi berbicara dengan suaminya, dia langsung bertanya pada Barra.
"Om, siapa dia?" tanya Deena.
"Namanya Farel, seorang pengusaha batu bara dan minyak bumi" ucap Barra.
"Bagaimana Om bisa mengenal dia?" tanya Deena.
"Dia menanam saham diperusahaanku" ucap Barra.
"Oh, begitu" ucap Deena.
Alvan baru datang ke acara pernikahan Barra dan Deena. Sekarang Alvan menjadi seorang Freelance. Dia mendapatkan job dari luar negeri untuk berbagai desain grafis. Dia juga memiliki beberapa karyawan yang membantunya bekerja dikantor miliknya. Alvan menghampiri Haura yang asyik memakan salad buah. Dia duduk disamping Haura.
"Gadis cerewet bagi dong" ucap Alvan.
"Gak mau?" ucap Haura.
"Kau marah?" tanya Alvan.
"Habis aku pulang gak dijemput" ucap Haura.
Alvan mencubit hidung Haura dengan pelan.
"Sakit tahu" ucap Haura menangkis tangan Alvan yang mencubit hidungnya.
"Bukannya dua minggu sebelum pulang aku sudah menemui keluar negeri" ucap Alvan.
"Oh, jadi kau tidak kangen setelah itu" ucap Haura.
Alvan tersenyum melihat wajah Haura cemberut padanya. Dia langsung mengeluarkan setangkai bunga mawar untuk Haura. Dia menyodorkan bunga mawar itu pada Haura. Tapi Haura diam saja.
"Terima dong cantik, tanda cinta nih" ucap Alvan.
"Alvan kau tahu aku rindu, tapi kau tidak menemuiku. Deena sudah menikah lalu kapan kau melamarku?" tanya Haura.
Alvan tersenyum melihat Haura protes padanya. Haura terlihat lucu dimata Alvan saat seperti itu.
"Gadis cerewet kemarin-kemarin aku sibuk, pekerjaanku lagi deadline, sorry ya" ucap Alvan.
D memalingkan mukanya sambil memasang wajah bete. Alvan meraih pipi Haura untuk menghadap padanya.
"Jangan marah dong cantik, secepatnya aku melamarmu, aku selesaikan pekerjaanku dulu ya" ucap Alvan.
"Jangan-jangan ada yang menggodamu disana" ucap Haura.
__ADS_1
"Masa sih? setiap lima jam sekali ditelpon bisa sampai ada yang menggoda juga ya, bahkan diruang kerjaku ada fotomu terpampang sebesar spanduk, masa iya si penggoda buta matanya" ucap Alvan.
Haura gemas memukul-mukul lengan Alvan.
"Geli tahu cantik, pijetin aja apa mumpung pegel nih" ucap Alvan.
"Alvan, aku kangen" ucap Haura.
Alvan mengelus kepala Haura. Kekasihnya itu minta dimanja.
"Aku sekarang disini cantik, besok kita jalan gimana?" tanya Alvan.
"Papa melarang kita jalan lagi, kalau mau nikahi dulu" ucap Haura.
"Oh, kalau gitu kita harus segera menikah, biar bisa sepuasnya berduaan" ucap Alvan.
"Alvan mau nikah secepetnya" ucap Haura.
"Minggu besok aku melamarmu cantik" ucap Alvan.
"Yeeee..." ucap Haura riang.
"Kalau gitu temani aku ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat pada Om Barra dan Deena" ucap Alvan.
Haura mengangguk. Dia dan Alvan naik ke atas pelaminan. Mereka mengucapkan selamat pada Barra dan Deena.
Ditempat lain Alina sedang mengantri mengambil es krim. Dia mendapatkan es krim setelah mengantri panjang bersama anak-anak kecil dan ABG. Alina membawa es krim miliknya. Tak sengaja Alina terpeleset gaunnya sendiri hingga es krim itu terjatuh mengenai jas milik Farel.
Alina terkejut melihat jas Farel terkena es krim yang dibawanya tadi. Segera Alina mengambil tisu dan membersihkan es krim itu dijas Farel.
"Maaf, aku benar-benar tidak sengaja" ucap Alina.
Farel memegang tangan Alina, dia menatap Alina dengan tatapan yang dingin.
"Aku bisa membersihkannya sendiri" ucap Farel.
Farel melepas tangan Alina lalu meninggalkannya. Alina merasa sedih saat Farel menatapnya dengan tatapan dingin.
"Kenapa aku jadi sedih begini melihat tatapan dinginnya" batin Alina.
Alina berjalan keluar dari gedung tempat resepsi. Dia menuju mushola dibelakang gedung resepsi itu. Alina masuk ke tempat wudhu lalu dia sholat magrib di mushola itu. Seusai sholat Alina keluar dari pintu mushola wanita. Dia melihat Farel juga keluar dari mushola pria. Mereka saling menatap. Mata Alina berkaca-kaca melihat tatapan mata Farel. Tak lama Farel meninggalkan tempat itu begitu saja tanpa basa basi pada Alina.
"Air mataku kenapa menetes saat melihatnya?" ucap Alina.
Alina berjalan ke taman samping gedung resepsi itu. Dia duduk melihat bulan dan bintang dilangit malam. Tiba-tiba bunga api bermunculan dilangit begitu indahnya.
"Indah sekali bunga apinya, ada acara apa tiba-tiba ada bunga api?" ucap Alina.
Bunga api terakhir bertuliskan Alina Aku Rindu Padamu. Alina terkesima saat mendongakkan kepalanya ke atas. Dia merasa ada yang sedang mengawasinya.
__ADS_1
"Apa bunga api ini memang untukku? tapi dari siapa?" ucap Alina bingung.
Alina meletakkan tangannya kesamping kursi tempatnya duduk. Setangkai bunga mawar tak sengaja diraba oleh tangannya. Alina menengok ke samping.
"Bunga mawar? apa ini untukku atau mungkin punya orang lain?" ucap Alina.
Alina memegang bunga mawar itu. Penuh pertanyaan dipikirannya. Dia merasa ada yang aneh. Dari sejak dibandara sampai sekarang.
************
Alina kembali ke kosannya di kota C. Dia masuk ke kamar kosannya. Tiba-tiba di dalam kamar kosannya ada lelaki tampan yang menyebalkan itu lagi. Dia sedang berlari kesana sini dikamar Alina bahkan sampai membuat kamar kosan Alina berantakan.
"Ini kamarku, kenapa kau ada dikamarku?" tanya Alina kesal.
"Kau tidak melihat, aku mencari tikus" ucap Lelaki itu.
"Mencari tikus katamu, kenapa harus ke kamarku?" tanya Alina.
"Itu karena tikusnya lari ke kamarmu" ucap Lelaki itu.
"Dari mana kau bisa masuk kamarku?" tanya Alina semakin kesal.
"Dari balkon kamarmu, tuh jendelamu masih terbuka dari kemarin" ucap Lelaki itu.
"Tuan jalangkung keluar!" ucap Alina menegaskan.
"Tikusnya belum ketangkep tahu" ucap Lelaki itu.
"Aku capek, keluar" ucap Alina.
"Tunggu tikusnya berlari ke arahmu" ucap Lelaki itu.
Benar saja, tikus itu berlari ke arah Alina. Melihat tikus hitam itu Alina ketakutan dia sampai naik ke atas ranjangnya. Tikus itu berlari naik ke atas ranjang. Alina turun dari ranjang, dia berlari ketakutan hingga memeluk lelaki tampan itu. Seketika lelaki tampan itu juga memeluk Alina. Mereka saling menatap dalam waktu yang cukup lama.
"Matanya mirip mata Kak Rafa" batin Alina.
"Hei, kau terkesima dengan ketampananku ya" ucap Lelaki itu.
Alina segera melepas pelukannya. Dia langsung terdiam sesaat.
"Kenapa? apa aku membuatmu jatuh cinta?" ucap Lelaki itu.
"Keluar! dan bawa tikusmu!" ucap Alina.
"Benar-benar ratu kegelapan" ucap Lelaki itu.
Lelaki itu memukul tikus yang ada disudut kamar Alina lalu dia keluar dari kamar Alina. Sedangkan Alina langsung terduduk diranjangnya. Dia teringat Rafael. Alina sangat merindukannya.
"Kak Rafa aku rindu padamu, dimana sekarang kau berada Kak? Alina ingin bertemu hik hik hik" ucap Alina sambil menangis.
__ADS_1
"Sudah empat tahun, tapi aku belum juga bertemu denganmu, apa kau tak merindukanku hik hik hik" ucap Alina.
Alina menangis, dia ingin sekali bertemu Rafael. Sudah lama Alina berpisah dari kakaknya. Berat rasanya menjalani hari-harinya tanpa Rafael. Padahal dulu Alina tak pernah melewati hari tanpa kakaknya.