ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
Generation 2 : Part 60


__ADS_3

Cinta sedang berbaur dengan para korban bencana longsor di sebuah aula wisata Puncak Serbabu. Haura menghibur anak-anak yang orangtuanya meninggal dan terluka. Sedangkan Deena menemani Barra yang sedang berbaring dibawah pohon. Barra selalu merengek kesakitan biar mendapatkan perhatian dari Deena.


"Sayang, sakit banget nih" ucap Barra menunjukkan lengannya yang diperban.


Deena meraih lengan Barra yang diperban. Dia mengelus lengan Barra dengan lembut.


"Masih sakit?" tanya Deena.


"Masih sayang, kau tahu aku hampir mati dimakan biawak" ucap Barra.


"Baguslah, jadi gak akan ada yang berbuat cabul lagi padaku" ucap Deena.


"Yang bener? aku tahu kau pasti menangis dan merengek saat aku belum naik ke ataskan?" ucap Barra.


Deena tersenyum tipis seakan mengiyakan tapi jual mahal. Barra tak kehabisan akal untuk membuat Deena klepek-klepek.


"Sayang, dulu kau bilang akan memberitahuku namamu, siapa namamu?" tanya Barra.


"Baiklah, namaku Deena" ucap Deena.


Akhirnya Deena memberitahu namanya yang sebenarnya pada Barra. Karena lelaki itu sudah menunjukkan keseriusannya.


"Deena, nama yang cantik" ucap Barra.


"Lalu siapa namamu Om cabul?" tanya Deena.


"Namaku Barra sayang" ucap Barra.


"Oh, oya apa hubunganmu dengan Rafael?" tanya Deena.


"Dia adik kandungku" ucap Barra.


"Adikmu? jadi dua saudara mencintai dua saudara kembar ya" ucap Deena.


Tanpa disengaja mereka berada disatu lingkaran cinta yang sama. Rafael mencintai Alina dan Barra mencintai Deena.


"Sayang ayahmu, Rehan Darien kan?" tanya Barra.


"Bukan dia Tuanku" ucap Deena.


"Masa? malam itu saat aku ngapel kamu memanggilnya Papa" ucap Barra.


"Iya deh, Rehan Darien memang Papaku" ucap Deena.


"Mati aku, pasti susah dapet restu, pertemuan pertama aja kurang baik dan malah nantangin camer bertarung. Gimana nih?" batin Barra.


Barra terdiam sejenak memikirkan Rehan. Hubungannya dengan Papanya Deena kurang baik. Kesan pertama bertemu juga bikin kesel Rehan. Barra jadi ketar-ketik bakal dapat restu atau tidak.


"Sayang kau dengan Alina dan Haura kembar tiga ya?" tanya Barra.


"Iya, Alina kakak pertama dan Haura kakak kedua, aku anak kembar yang terakhir" ucap Deena.


"Pasti saat kalian kecil cantik dan lucu-lucu, kalau gitu kita nanti punya anak kembar ya sayang" ucap Barra.


"Memang kita akan sampai sejauh itu" ucap Deena.


Barra bangun dan melihat Deena.

__ADS_1


"Aku ingin kau jadi ibu anak-anakku, mereka harus sekuat dan pemberani seperti dirimu" ucap Barra.


Deena mengangguk. Barra senang melihat anggukan Deena. Kini cintanya disambut Deena secara terang-terangan.


"Sayang saat tadi aku hampir mati, hanya body mulusmu yang terlintas dipikiranku" ucap Barra.


Deena langsung menjewer kuping Barra. Dia gemas dengan tingkah cabul Barra.


"Aw....sakit sayang, cium apa sekali-kali" ucap Barra.


Deena melepas tangannya dari telinga Barra.


"Jadi sayang mau dicium ya?" tanya Deena.


"Iya sayang, cium bibir gitu" ucap Barra.


"Tutup mata dulu sayang" ucap Deena.


Barra mengangguk. Dia bersemangat total. Berasa mau dapat doorprize. Kali ini Deena terlihat serius menawarinya ciuman. Barra sudah membayangkan ciuman yang mesra bersama Deena. Barra menutup matanya. Tangan Deena mengambil siput yang merayap direrumputan.


"Sayang, bibirku sedikit lembab, tak apakan?" tanya Deena.


"Gak papa sayang, aku suka yang lembab" ucap Barra.


"Siap-siap ya sayang" ucap Deena.


"Iya sayang, gak sabar nih" ucap Barra.


Deena menempelkan perut siput itu ke bibir Barra. Dia menahan tawa melihat Barra tidak menyadari yang menciumnya siput. Dia malah rakus banget, gak mau lepas sama siput yang diciumnya.


"Tunggu sayang, masih belum ending nih" ucap Barra.


"Ha ha ha" tawa Deena ditutup tangan kirinya.


Deena sampai sakit perut melihat Barra masih asyik nyium perut siput. Dia merasa Barra benar-benar tertipu.


"Sayang kok bibirmu tebel dan kenyal ya, berasa makan cumi" ucap Barra.


"Masa sih sayang, mungkin karena aku kedinginan tadi. Udah sayang puas-puasin aja" ucap Deena.


"Puas-puasin nyium siput maksudku" batin Deena.


"Pasti sayang, mana nolak sama bibirmu yang merona itu" ucap Barra.


Barra terus mencium perut siput itu. Tiba-tiba siput buang pup.


"Sayang kok pahit dan apa ya ini?" ucap Barra memegang sesuatu dibibirnya.


"Ha ha ha" Deena tertawa terbahak-bahak tak mampu menahannya lagi.


Mendengar tawa Deena yang kencang, Barra membuka mata. Dia terkejut siput ada didepan bibirnya.


"Sayang dari tadi aku nyium siput?" tanya Barra.


"Iya sayang" ucap Deena.


"Ini tai siput ya dibibirku?" tanya Barra.

__ADS_1


"Itu tanda cinta dari siput untukmu sayang" ucap Deena.


Barra langsung membersihkan bibirnya dengan tangannya.


"Geli sayang, eneg nih" ucap Barra.


"Masih mau dicium sayang?" tanya Deena.


"Ampun sayang, gak mau sayang" ucap Barra.


"Sayang cium lagi, siputnya demen nih dicium" ucap Deena menyodorkan siput itu ke mulut Barra.


Barra langsung berlari meninggalkan Deena. Tapi Deena terus mengejar Barra membawa siput itu. Mereka terus kejar-kejaran hingga Barra berbalik dan memeluk Deena.


"Nah sekarang aku akan menciummu sampai kenyang" ucap Barra.


"Lepas...lepas sayang" ucap Deena.


"Gak akan, aku mau menciummu" ucap Barra.


"Kalian sedang apa?" tanya Rehan yang baru datang.


Deena dan Barra menengok ke samping. Mereka melihat Rehan berdiri dengan tatapan yang dingin. Barra langsung melepas pelukannya dari Deena.


"Kamu, ikut aku" ucap Rehan menunjuk ke arah Barra.


"Oke" ucap Barra.


Barra berjalan mengikuti Rehan. Mereka meninggalkan tempat itu. Tinggal Deena yang terlihat cemas memikirkan Barra. Dia takut Papanya akan marah pada Barra.


***************


Rehan dan Barra berdiri didekat danau. Rehan terlihat sangat dingin. Barra berdiri disampingnya, dia berpikir sudah saatnya dia mengatakan hubungannya dengan Deena pada Rehan. Barra mengawali pembicaraan.


"Aku mencintai anak Anda" ucap Barra.


"Apa? kau mencintai anakku yang lebih pantas jadi anakmu dari pada kekasihmu" ucap Rehan.


"Tapi cinta tidak memandang usia. Aku dan anak Anda saling mencintai" ucap Barra.


"Aku tidak mau anakku hanya jadi mainanmu, lelaki yang sudah berpengalaman" ucap Rehan.


"Aku serius mencintai anak Anda, aku ingin menikahinya" ucap Barra.


Rehan belum bisa dengan mudah mempercayai lelaki yang usianya kepala tiga itu. Dia tak ingin putrinya hanya jadi mainannya. Menjadi seorang ayah dari ketiga putri kembarnya, dia harus lebih selektif saat memberi restu pada pendamping yang pantas untuk putri-putrinya.


Rehan mendekati Barra dan menepuk bahunya.


"Aku tidak akan menyerahkan anakku dengan mudah padamu" ucap Rehan.


"Aku akan menerima tantangan apapun yang akan Anda berikan padaku" ucap Barra.


"Kau yakin?" tanya Rehan.


"Aku yakin" ucap Barra menegaskan ucapannya.


Barra akan melakukan apapun demi mendapatkan restu dari Rehan. Dia benar-benar mencintai Deena. Tak ada lagi yang dia inginkan didunia ini selain hidup bersama Deena.

__ADS_1


__ADS_2