ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 55


__ADS_3

Axel membawa pulang Raina. Malam itu, untuk pertama kalinya Axel duduk di pangkuan Raina di dalam taksi. Axel terus memandangi wajah Raina. Kini di hatinya sudah bersemi cinta untuk Raina. Dia tak peduli seperti apa dulu, yang penting baginya sekarang ada Raina yang selalu ada di sisinya.


Axel membelai pipi Raina. Wajah cantik yang terlihat lebih cantik karena diselimuti kebahagian dan cinta.


"Axel, apa Mama akan setuju kalau aku kembali ke rumah lagi?" tanya Raina.


"Aku tak perlu izin Mama untuk membawamu pulang, kau istriku, di manapun aku tinggal, di situ kau berada," ujar Axel.


Raina mengangguk dengan senyuman tipis di bibirnya. Dia berusaha percaya pada Axel. Apapun akan dilalui demi bersamanya, jangankan menghadapi ibu mertua jahat, menghadapi kematian saja dia tidak takut asal bersama Axel.


Sampai di rumah, Axel terus menggandeng Raina masuk ke dalam rumah. Di dalam, mereka bertemu dengan ibu Jonita yang memandang mereka sinis. Melihat itu Raina sedikit ragu, tangannya hendak terlepas dari pegangan Axel, tapi seketika Axel langsung menggengam erat tangan Raina.


"Axel, untuk apa kau bawa wanita murahan ini ke rumah lagi? tempatnya di jalanan bukan di sini?" ujar Ibu Jonita.


Axel tak menggubris ucapan ibunya, dia terus menggandeng Raina, berjalan meninggalkannya.


"Axel, Mama gak setuju ya kalau dia masuk ke rumah ini, bawa dia ke luar!" ucap Ibu Jonita.


"Aku tidak akan mengusir istriku dari rumahku," jawab Axel.


"Rumahmu? Ini rumah Mama, siapa kau tanpa Mama," ujar Ibu Jonita.


Axel langsung terdiam sesaat.


"Kenapa? Kalau kau ingin tinggal di sini, jangan bawa najis itu ke rumah, Mama tak sudi satu atap dengannya," ungkap Ibu Jonita.


"Kalau istriku tak boleh tinggal di sini, berarti aku juga tak boleh tinggal di sini," ujar Axel.


"Axel, dengarkan Mama, hidupmu akan hancur bila bersamanya, lebih baik tinggalkan dia," bujuk Ibu Jonita.


"Mulai hari ini dan seterusnya aku tak akan meninggalkan istriku lagi, meskipun Mama tidak setuju," ujar Axel.


Ibu Jonita semakin emosi. Dia tak menyangka anak semata wayangnya akan melawannya demi wanita murahan.


"Axel? Jangan buat Mama marah!" ancam Ibu Jonita.

__ADS_1


Axel tak menggubris, menarik tangan Raina untuk berjalan mengikutinya.


"Kalau kau tak bisa meninggalkannya, ke luar dari rumah Mama!" usir Ibu Jonita.


Axel terhenti dengan ucapan ibu Jonita. Dia menggenggam tangan Raina semakin erat. Tak ada keraguan untuknya. Dia akan memperjuangkan rumah tangganya kali ini meskipun kesulitan datang menghadang.


"Axel, biarkan aku pergi," ujar Raina.


"Siapa yang rela melepasmu, kau istriku sampai kapanpun ada di sisiku," ucap Axel.


"Tapi ...," kata Raina.


Axel berbalik membawa Raina menghampiri ibu Jonita. Dia membungkukkan kepalanya memberi penghormatan pada ibunya kemudian bicara padanya.


"Aku akan tetap menghormatimu sebagai ibuku, tapi aku sudah menikah, ada tanggunjawab yang harus ku tanggung. Maafkan aku Ma, aku lebih memilih pergi meninggalkan rumah ini, terimakasih atas cinta dan kasih sayangmu selama ini," ungkap Axel sambil berkaca-kaca.


"Jangan bodoh, kau pikir Mama ini akan melepasmu begitu saja? Kembalikan semua fasilitas milik Mama, bisa apa kau tanpa Mama?" ujar Ibu Jonita.


"Baik, semua milik Mama akan kembali pada Mama," ucap Axel. Dia mengembalikan semua fasilitas milik Mamanya, kemudian mengajak Raina berjalan ke luar dari rumah itu.


"Axel jamgan gila, kembalilah! Atau kau akan menyesal!" ancam ibu Jonita.


"Axel!" teriak Ibu Jonita.


Axel terus berjalan. Dia sudah mantap dengan keputusannya, tak ada keraguan lagi. Hanya Raina tujuan hidupnya.


Sampai di tepi jalan, Raina berhenti melangkah, Axel menengok ke samping menatap Raina.


"Raina kenapa?" tanya Axel.


"Apa kau yakin meninggalkan kehidupan nyamanmu demi aku?" tanya Raina.


"Kenapa tidak? Aku mencintaimu, aku ingin bersamamu di manapun," ucap Axel.


"Kehidupan di luar tak senyaman kehidupanmu selama ini," ujar Raina.

__ADS_1


"Apa kau keberatan jika kita hidup di luar tanpa apapun yang kita miliki?" tanya Axel.


"Tidak, aku sudah biasa hidup susah," ucap Raina.


"Kalau kau sanggup kenapa aku tidak?" ujar Axel.


Raina langsung memeluk Axel. Dia benar-benar bahagia, ada seseorang yang mencintainya dan rela melewati apa pun bersamanya.


"Terimakasih Axel, aku sangat mencintaimu," ujar Raina.


"Iya cintaku," ucap Axel.


Raina tersenyum. Tiba-tiba Axel menciumnya. Raina terkejut namun menikmati ciuman dari suaminya itu.


Sesaat beban menghilang. Seakan dunia hanya milik berdua. Indah dan penuh warna. Cinta membuat mereka yakin mampu melewati semuanya bersama.


Malam itu Axel dan Raina tidur di emperan masjid. Raina tidur di pangkuan Axel. Mereka sengaja tak memberi tahu kami, Axel ingin mandiri dan membuktikan pada ibunya kalau dia mampu tanpanya.


***


Di sekolah terjadi demo dari para orangtua siswa yang menyuarakan pendapat mereka karena kejadian malam kelam itu terjadi di sekolah. Mereka merasa tak aman menitipkan anaknya di sekolah. Sekolah dianggap tak mampu memberi tempat aman dan nyaman di sekolah dan meminta sekolah ditutup.


Albern tahu semua ini akan terjadi. Kejadian kelam itu tak mungkin bisa ditutupi. Dia juga merasa bersalah dan bertanggungjawab atas kejadian itu. Dia merasa lalai atas semua yang terjadi.


Di ruang kepala sekolah Albern duduk bersama Pak Hasan sedang berdiskusi tentang masalah itu.


"Bos kalau semua ini dibiarkan, sekolah akan ditutup paksa," ujar Pak Hasan.


"Iya Bos," ujar Pak Nuril wakil kepala sekolah.


"Apalagi kalau sampai media tahu, semua ini akan merugikan nama baik sekolah," ujar Pak Hasan.


"Kalau soal media, kita sudah tutup rapat-rapat kasus ini, hanya saja orasi para orangtua murid bisa memicu media," ucap Pak Nuril.


"Apa kita suap mereka biar diam dan melupakan kasus ini?" tanya Pak Hasan.

__ADS_1


"Betul Bos, uang bisa menutup semua masalah ini," ujar Pak Nuril.


Albern terdiam sejenak. Memikirkan masalah sekolah itu.


__ADS_2