
Haura dan Deena berada dikamar Alina. Mereka bertiga duduk sambil menonton drama romantis.
Alina duduk ditengah sementara Haura dan Deena mengapitnya. Deena dan Alina menangis melihat sedihnya cerita didalam drama tersebut, sedangkan Haura justru tertawa bagai nonton lawakan.
"Haura kena..pa kau malah ter...tawa?" tanya Deena.
"Lucu aja ceweknya nangis cuma karena ngejar cowoknya, lucukan ha...ha...ha..." ucap Haura.
"Gak lucu justru menyedihkan, dia sudah berusaha bertahun-tahun mengejar cowoknya tapi tidak ada hasil sama sekali. Dia justru dihina cowoknya, sedih" ucap Alina.
"Oh harusnya sedih ya, kirain ini lucu" ucap Haura.
Mereka berganti menontong film horor yang menakutka. Alina dan Deena sampai ketakutan dengan menutupi mata mereka, berbeda dengan Haura yang justru menangis melihat film horor itu.
"Haura kau se...dih karena ta..kut ya?" tanya Deena.
"Iya Haura ini menakutkan, pantas kau saja sampai menangis" ucap Alina.
"Aku menangis karena tukang somay harus dikejar hantu sampai gerobak somaynya tumpah, kasihan nasib somaynya gak kemakan padahal aku suka banget somay" ucap Haura.
"Ya ampun Haura kirain nangis karena takut ternyata cuma karena somay" ucap Alina.
"Itu mah gak ha...nya sampingan da..lam cerita, kamu jangan-jangan gak non...ton cerita intinya ya?" tanya Deena.
"Emang ini film drama romantis ya?" tanya Haura.
Ternyata dari tadi Haura gak paham yang ditontonnya. Dia mengira itu film drama romantis. Malah tukang somay yang diperhatikannya, mungkin dia berpikir tukang somay lah peran utamanya.
"Ha...ha...ha..." Deena dan Alina tertawa.
Mereka bertiga saling menguncir rambut panjang mereka dan saling curhat masalah pribadi.
"Kali ini kita harus bercerita tentang isi hati kita tentang lawan jenis kita, oke" ucap Haura.
"Oke" ucap Deena dan Alina.
"Pertama dari Deena, kau paling termuda diantara kita" ucap Haura.
Deena terkejut mendapatkan urutan pertama. Dia mulai berbicara tentang perasaannya.
"Aku menyukai sese...orang yang jauh di...sana, dia le...bih tua dariku. Tapi dia ma...sih terlihat sangat mu...da" ucap Deena.
"Oh kau suka Om-om" ucap Haura.
"Tidak, dia ti...dak ter...lihat Om-om" ucap Deena.
__ADS_1
"Tenang kau sama denganku, aku juga suka Om-om, dia lebih menantang dari pada yang muda" ucap Haura.
Sepertinya Haura dan Deena menyukai orang yang sama. Tapi mereka tak menyadarinya.
"Giliran kamu Alina?" tanya Haura.
"Aku tidak tahu perasaanku seperti apa. Aku belum pernah menyukai seseorang. Selama ini aku hanya bersama kakakku. Dia orang yang paling ku sayangi, tapi baru saja sebelum pergi dia mengatakan cinta padaku, aku tidak tahu apa itu wajar atau pantas" ucap Alina.
"Alina kau dan di..a bukan saudara kandung ja..di pantas sa..ja kalau kalian sa...ling mencintai" ucap Deena.
"Aku tahu orangnya, pasti Kak Rafael, iyakan?" tanya Haura.
Alina mengangguk, dia meneteskan air matanya saat mengingat Rafael. Haura dan Deena memeluk Alina.
"Alina, kalau kau dan dia jatuh cinta itu wajar, kalian bisa jadi sepasang kekasih bahkan menikah. Diakan bukan saudara kandungmu" ucap Haura.
"Iya Alina ka...lau kau juga cin...ta tidak usah membohongi perasaanmu, ka...takanlah padanya" ucap Deena.
"Terimakasih Haura, Deena, aku senang bisa berkumpul lagi bersama kalian. Saat seperti ini kalian membuatku merasa tidak sendirian" ucap Alina.
"Iya Alina" ucap Haura dan Deena.
Mereka bertiga kembali bermain ini itu hingga mereka lelah dan tidur diranjang. Rehan dan Cinta masuk ke kamar Alina untuk mengecek ketiga putri kembarnya. Mereka berdua menyelimuti dan mencium kening ketiga putri kembarnya yang tidur tidak beraturan diranjang.
"Kak Rehan lihat anak-anak kita, rasanya kita sudah tua ya" ucap Cinta.
Rehan menghampiri Cinta, memeluknya dari belakang lalu mencium pipinya berkali-kali.
"Kak Rehan malu nanti dilihat anak-anak kita" ucap Cinta.
"Gadis kecil, mereka sudah tidur pulas. Lagi pula aku gemas denganmu" ucap Rehan.
"Aku senang ketiga putri kembar kita sudah berkumpul lagi, aku sempat sedih saat Alea dinyatakan meninggal" ucap Cinta.
"Allah sayang pada Alea hingga menjaganya dan mengembalikannya pada kita" ucap Rehan.
"Iya Kak Rehan" ucap Cinta.
Rehan dan Cinta malah bernostalgia masa lampau sambil melihat anak-anak mereka yang kini tumbuh remaja.
**************
Malam itu Rafael tidak bisa tidur. Dia bolak-balik melihat ke sampingnya. Alina sudah tidak ada. Sekuat apapun Rafael berusaha untuk tidur, dia tetap tidak bisa tidur. Akhirnya Rafael bangun dan melihat foto-foto saat bersama Alina didalam album lama yang disimpannya.
"Alina aku rindu, padahal baru hitungan jam" ucap Rafael.
__ADS_1
"Seandainya waktu bisa diulang, aku ingin kembali dan bersamamu" ucap Rafael.
Rafael melihat foto Alina saat masih bayi. Dia tersenyum seakan memori itu muncul lagi.
"Kau cantik dan lucu, aku sudah jatuh hati dari pertama kita bertemu Alina" ucap Rafael.
Rafael mencium foto bayi Alina. Dia begitu menyayangi Alina dan kini tumbuh menjadi rasa cinta padanya.
***********
Alvan dirantai kedua tangannya. Tubuhnya penuh luka. Dia berada dalam sebuah sel tahanan milik Gengster Harimau. Dia setengah sadar. Rasa sakit, lelah, lemas, lapar dan haus semuanya menyatu dalam dirinya. Tapi dia masih bisa bertahan. Seseorang masuk ke dalam selnya. Dia menghampiri Alvan.
"Gimana kau sudah berpikir?" tanya Lelaki paruh baya itu.
Alvan tidak menjawab, dia hanya diam saja.
"Kau memilih mati dari pada gabung jadi orangku" ucap Lelaki paruh baya itu.
"Aku lebih baik mati dari pada berbuat kemaksiatan" ucap Alvan.
"Besar juga nyalimu, ini yang membuatku sayang membunuhmu" ucap Lelaki paruh baya itu.
"Aku sudah ikhlas jika mati, jadi bunuh aku jangan berpikir aku berubah pikiran" ucap Alvan.
"Kau keras kepala" ucap Lelaki patuh baya itu.
Lelaki itu memukul Alvan berkali-kali, tapi Alvan sudah tidak merasakan sakit lagi karena disekujur tubuhnya sudah penuh luka.
"Kau sepertinya belum juga puas, lihat kau akan jadi mayat hidup" ucap Lelaki paruh baya itu.
"Ha...ha...ha..." Alvan hanya tertawa.
"Siapa yang mengizinkanmu tertawa?" ucap Lelaki paruh baya itu.
"Aku tidak peduli, mayat hidup bebaskan toh akan mati" ucap Alvan.
"Kau..." Lelaki paruh baya itu marah besar.
*************
Rafael pergi ke sebuah tempat. Dia ingin melihat rumah kedua orang tua kandungnya yang sudah hangus terbakar puluhan tahun lalu. Dia rindu ingin mengenang masa lalunya meskipun saat itu dia masih kecil. Rafael berdiri didepan bangunan yang sudah tak berwujud sempurna lagi. Tinggal tembok yang menghitam yang tersisa.
"Ayah, Ibu, aku datang kesini" ucap Rafael.
Rafael masuk ke dalam bangunan tanpa atap lagi itu. Dia melihat setiap sudut ruangan itu. Walaupun dia tidak tahu seperti apa dulu tapi dia senang bisa melihat setiap ruangan yang dulu mungkin ditempatinya bersama keluarganya.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara yang berbicara padanya.
"Siapa kau? untuk apa ada disini?"