ISTRIKU MASIH SMA

ISTRIKU MASIH SMA
LM 54


__ADS_3

Aku mulai sadarkan diri setelah pingsan tadi di ruang UGD. Ku lihat sekeliling. Sepertinya aku berada di ruang rawat inap. Albern tersenyum melihatku sudah sadarkan diri. Dia memegang tanganku dari tadi. Sungguh ternyata aku berarti untuknya. Lelaki yang dulu buaya kini sudah jinak dan begitu mencintaiku.


"Suamiku terimakasih," ucapku. Menatap wajahnya yang terlihat mengkhawatirkanku. Pasti dari tadi dia menungguku. Tetap berada di sisiku sampai aku tersadar.


"Iya sayang," sahut Albern. Dia membelai pipiku. Lembut dan hangat, aku selalu merindukan sentuhannya.


"Kau membuatku sangat cemas, aku tidak bisa tanpamu, jangan berpikir untuk meninggalkanku," ucap Albern.


"Iya, aku ingin bersamamu suamiku," sahutku.


Cup


Satu ciuman di keningku. Rasanya tenagaku kembali pulih. Albern membuatku punya alasan untuk bertahan hidup. Aku tidak ingin pergi, aku ingin bersamanya dan Bobo. Melewati banyak hal.


Mereka berharga untukku. Bersama mereka hidupku jadi sempurna. Tak ada kebahagiaan yang jauh lebih membahagiakan selain bersama keluarga.


"Teman-teman bagaimana?" tanyaku. Tadi saat aku terluka, aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya kesakitan dan akhirnya dibawa ke rumah sakit.


"Teman-temanmu sudah aman, dan Deril sudah ditangkap polisi," jawab Albern.


Syukurlah. Akhirnya malam panjang menakutkan itu berakhir. Pasti membuat semua orang yang terlibat ketakutan dan trauma.


"Kasihan Deril, dia korban bulliying," ujarku.


"Iya, dampak bulliying ternyata sangat berbahaya, dari rasa sakit menjadi dendam yang memuntut pembalasan," jawab Albern.


"Bukan hanya Deril, pasti banyak orang di luar sana yang berada di posisinya," ucapku.


"Iya sayang, bulliying memang harus dihapuskan dari sekolah, siswa harus mendapatkan kenyamanan dan keamanan saat sekolah," pikir Albern.


Aku mengangguk. Benar kata Albern, siswa memang harus mendapatkan kenyamanan dan keamanan di sekolah, agar bisa menuntut ilmu dengan maksimal.


"Raina?" Aku baru ingat Raina. Tadi Albern bilang bertemu Raina.


"Dia sudah aman," jawab Albern.


"Suamiku bertemu dengan Raina di mana?" tanyaku.


Akhirnya Albern menceritakan di mana dia bertemu Raina, siapa Deril dan kisah masa lalunya, sampai kejadian saat bertarung dengan Deril.


Aku langsung memeluk Albern. Ternyata dia dalam bahaya sepertiku. Untung saja Allah selalu melindunginya.


Albern membalas pelukanku. Mencium pipiku.


"Sayang, kau cantik," puji Albern.


Aku malu mendengar pujian itu. Namun aku senang karena Albern kini mencintaiku, dia bahkan selalu ada untukku.


"Aku mencintaimu," ujarku.

__ADS_1


"Aku lebih mencintaimu," sahut Albern.


Ku lepas pelukanku, menatap mata Albern yang penuh cinta untukku. Tak ku sadari aku menciumnya. Kami berciuman dengan penuh cinta. Seakan rasa ini saling bertaut dan bersambut.


***


Axel duduk di teras kelas 3 IPA 1 bersama Raina. Lukanya diobati Raina. Axel terus memandangi Raina. Selama ini dia absen banyak hal. Axel baru sadar betapa beruntungnya selama ini, tapi dia tak menyadari hal itu. Dulu menikahi Raina hanya untuk sekedar menolongnya tapi kini Axel tahu, semua itu sudah membuat warna yang berbeda di hatinya.


"Axel kenapa kau memandangku terus?" tanya Raina.


"Aku hanya memandang wajah istriku, apa tidak boleh?" tanya Axel.


"Iya boleh, aku juga ingin ...," ucap Raina.


Tiba-tiba Axel mencium Raina. Ciuman itu berbalas, mereka berciuman dengan mesra. Cinta di antara keduanya sudah tumbuh. Untung saja di tempat itu sepi. Jadi tak ada orang yang melihat keduanya berciuman.


"Raina pulang ya, aku kangen," ucap Axel.


"Tapi aku sudah tinggal bersama Aara," jawab Raina.


Axel memegang tangan Raina.


"Ku mohon, pulanglah!" pinta Axel.


"Baiklah, tapi besok kita harus memberi tahu Aara," ujar Raina.


"Albern abangmu?" tanya Raina.


"Iya, maaf aku tidak pernah memberi tahumu," jawab Axel.


"Tidak apa-apa, semua sudah berlalu, aku dan Albern sudah punya hidup kami masing-masing, Albern sudah bahagia dengan Aara, dan aku ...," ucap Raina.


"Akan bahagia denganku," sahut Axel.


Raina langsung tersenyum. Tak pernah disangka kejadian malam itu membuatnya dekat dengan Axel. Bahkan mereka jadi saling mengungkapkan rasa cintanya.


"Raina boleh cium lagi?" tanya Axel.


Raina mengangguk. Baru saja Axel mau mendekati Raina, suara teriakkan terdengar dari toilet yang tak jauh dari kelas mereka.


"Tolong ... tolong ... tolong ...."


"Suara orang minta tolong," ucap Raina.


"Mungkin suara jangkrik biarin aja," ujar Axel tak menggubris suara minta tolong itu, malah semakin mendekat ke wajah Raina. Segera Raina menghentikan niat Axel dengan menutup mulutnya.


"Itu suara Dodo," ujar Raina.


Axel melepas tangan Raina dari mulutnya.

__ADS_1


"Biarin paling dia masih idup, sengsara doang udah biasa," ujar Axel.


"Axel jangan bercanda, mungkin Dodo masih terkunci di salah satu ruangan," kata Raina.


"Baiklah, ayo kita tolong Dodo, setelah itu pulang, biar aku bisa menciummu tanpa gangguan iklan," ujar Axel.


Raina tersenyum malu-malu. Tangannya di gandeng Axel menuju arah suara itu. Sampai di depan toilet. Mereka mengetuk pintu, memastikan ada orang di dalam.


"Do, kamu atau gendruwo yang di dalam," ucap Axel.


"Axel ... Axel ... ini Dodo, cowok terganteng di kelas," sahut Dodo di dalam.


"Berarti gendruwo, setahuku Dodo paling jelek di kelas, bahkan siswa putri minta Dodo dipindahin ke luar angkasa aja biar gak balik lagi," ujar Axel bercanda.


"Hik hik hik, Axel tolongin ..., bau banget di sini, aku gak tahan," ujar Dodo.


"Berarti kamu sudah betul tinggal dihabitatmu, sebaiknya aku mengucapkan selamat padamu," ujar Axel.


"Axel ... please tolongin Dodo, dari tadi belum cebok, mana kotoranku masih numpuk nih di WC-nya," ujar Dodo.


"Bau dong, udah tunggu pemadam kebakaran aja," ujar Axel.


"Hik hik hik Axel ..."


"Axel, jangan bercanda, kasihan Dodo," ucap Raina.


"Iya cintaku," sahut Axel sambil menyentuh dagu Raina.


"Ayo tolongin Dodo," pinta Raina.


"Siap!" sahut Axel.


Akhirnya Axel mengambil kunci toilet, kemudian membuka pintu toilet tapi aroma yang tak dirindukan semerbak.


"Do bau banget," ujar Axel.


"Axel ada ambulan gak, gue harus di opname," ujar Dodo.


"Ada, ambulan untuk ke rumah sakit jiwa, khusus buat Dodo," ucap Axel.


"Parah lo Xel, gue sekarat lo malah nyuruh gue ke rumah sakit jiwa," ujar Dodo.


"Lihat sendiri, hanya orang gila yang gak pakai celana," ucap Axel menunjuk ke bawah.


Dodo melihat ke bawah kakinya. Melihat ke depan, Raina menutup kedua matanya.


"Iya ya, dari tadi gak nyadar kalau gak pakai celana," ujar Dodo.


Axel tertawa melihat Dodo. Malam itu keadaan sudah diamankan, semua siswa dan guru yang tidur sudah bangun, polisi dan petugas kesehatan mengurus semuanya. Siswa dan para guru bisa pulang ke rumah masing-masing dengan selamat. Tinggal hari esok, Albern harus membereskan semua kekacauan ini di depan orang tua siswa, guru dan masyarakat umum.

__ADS_1


__ADS_2