
Fisya masih menangis di pelukan hans,entah apa yang ia tangisi. bisa saja ia menangisi nasib hubungan fisya dengan jorgi kedepannya atau ia menangisi nasibnya sendiri, tidak begitu jelas apa yang membuat fisya menangis tapi nampaknya itu cukup berat di hidup wanita kecil ini
"Sekali ku katakan kau adalah milikku! Maka selamanya akan menjadi milikku!"hans mengelus kepala fisya
"Dan jika aku menginginkan mu! Tidak akan ada yang akan menghalangi diriku" ucap hans cukup jelas menusuk ke dalam telinga fisya.
Sudah jelas! Benar benar sudah jelas kini hans sudah memperjelasnya untuk fisya, bahwa hans serius dengan apa yang ia katakan,seharusnya fisya sudah mengetahuinya sejak awal.
"Sudahlah! Jangan menangis" suara hans tiba tiba menjadi sangat lemut dan halus, membuat fisya tergelam dalam kenyamanan
Terakhir hans mengecup manis kening fisya lalu beranjak dari tempat tidur,meninggalkan fisya tergeletak sendiri di atas kasur.
Hans mengenakan kembali baju yang berserakan di lantai, dan kembali bersiap untuk pergi melanjutkan kerja nya yang belum usai
"Aku akan pergi bekerja lagi!,akan kusuruh andre mengurus keperluan yang kau butuhkan!" Ujar hans mengenakan dasi nya.
__ADS_1
Tidak ada sahut suara dari fisya, ia masih memejamkan matanya dan tetap pada posisi dimana hans meninggalkan dirinya,tergeletak lemah di atas kasur,berlagak sudah tertidur pulas entah apalah tujuannya
"Aku akan pulang malam!" Hans benar benar meninggalkan kamar
Langkah kakinya sudah terdengar sangat jauh,artinya hans sudah pergi dan memberikan fisya ruang lingkup sendiri untuk menyadari setiap kesalahan yang ia ciptakan.
Fisya bangun dan duduk loyo di atas kasur dengan rambut yang teracak acak dan baju yang tidak tertata rapi lagi,seakan akan bingung ingin melakukan apa! Pikirannya benar benar kosong,sesekali ia berusaha untuk memikirkan sesuatu atau mencari jalan keluar masalah ini namun buntu! Tidak ada hasilnya.
Hasil nyatanya adalah kini fisya duduk termenung di atas kasur.
Tok! Tok!
Fisya menoleh sejenak dan berlagak tidak peduli. Ia tidak bergerak sedikit pun masih dalam posisi yang sama, dan tiba tiba bibi mun masuk dengan membawa nampan yang berisikan beberapa makanan
"Nona fisya! Tuan hans meminta bibi untuk menyiapkan makan siang untuk nona" bibi mun berdiri di depan fisya
__ADS_1
"Saya letakkan di meja ya, nona fisya jangan lupa di makan. Dan tuan hans berpesan kepada nona fisya untuk tidak menunggu tuan hans pulang" bibi mun berjalan ke luar kamar meninggalkan fisya
Fisya melirik makanan di atas nampan itu
Dilihat hanya ada semangkuk bubur, satu makanan berat dan segelas jus jeruk.
Perut fisya memang sudah terasa lapar namun ia kurang memiliki nafsu saat melihat ada bubur di menu makan siang nya.
Akhirnya ia memutuskan turun ke dapur untuk memasak sendiri makan siang nya. Di telusurinya anak tangga,berjalan menuju dapur dan melihat di meja makan ada sosok lelaki yang tengah duduk santai di sana
"Fisya!" Ternyata itu aron
Entah apa yang dilakukan aron di meja makan sendirian
"Tuan aron? Lagi apa di sini!?" Tanya fisya menghampiri aron dan duduk dengan jarak satu kursi sebagai pembatas
__ADS_1
"Aku di suruh mampir ke sini oleh reza dan lisa, entah kenapa mereka menyuruhku tapi nampaknya aku datang terlalu cepat dan hans sudah berangkat bekerja lagi...
Bersambung-