KAU Adalah MILIKKU

KAU Adalah MILIKKU
Sarapan


__ADS_3

Pukul lima pagi fisya sudah bangun dan memasak sarapan untuk hans, sedangkan lelaki itu masih terlelap, hari ini berbeda karena nenek membantu fisya untuk menyiapkan sarapannya, setelah sarapan nenek dan kakek akan berbelanja dan melihat perusahaan lisa, dan reza


Sarapan sudah di hidangkan, di kursi meja makan hanya ada kakek yang duduk sembari membaca koran, hans belum turun dari kamar


"Fisya! Bisa panggil hans agar segera sarapan? Nenek dan kakek mu harus ke rumah lisa sebentar lagi" ucap nenek memerintahkan fisya sembari meletakkan mangkuk sup di atas meja


"Iya nek" fisya berjalan meninggalkan ruang makan dan menaikki anak tangga untuk membangunkan hans, dilihatnya pintu kamar masih tertutup rapat, fisya masuk dan membuka pintu itu, dilihat hans sudah tidak ada di tempat tidur, sepertinya ia sedang mandi.


Dengan inisiatif sendiri fisya mengambil baju kaos panjang dan celana panjang untuk hans yang ia letakkan di atas meja rias.


Sembari menunggu hans keluar fisya membereskan tempat tidur, fisya melipat selimut dan hendak merapikan sprei, namun dilihat di sana ada noda darah, fisya mengerutkan alisnya perasaan semalam ia tidak mengeluarkan darah atau sejenisnya, mungkin ia tidak merasakannya


Fisya membuka sprei itu berniat untuk mencuci nya, namun saat ia membuka sprei nya terasa tangan dingin yang masih basah melingkar keperut fisya, kemudian terasa oleh nya wajah yang masih menjadi jalur menetesnya air dari rambut basah itu tersandar di pundak fisya


"Selamat pagi" ucap hans memeluk fisya dari belakang

__ADS_1


"Pagi" jawab fisya kembali melakukan aktivitasnya


Hans juga baru melihat noda darah itu, hans tersenyum dan mencium pipi fisya


" aku mencintai mu" ucap hans melepaskan pelukannya dan sesegara mungkin menganti baju yang telah di siap kan oleh kekasihnya ini


"Aku tidak akan ke kantor" ucap hans membabar baju nya


"Kenapa?"


"Tidak ada, hari ini aku libur, jadi aku akan terus bersama mu di rumah"


"Biarkan pelayan saja"hans melihat fisya yang kewalahan


"Tidak, aku bisa melakukannya"

__ADS_1


"Jika kau melakukan semua tugas rumah, lantas kenapa aku membayar banyak palayan? Sudah letakkan saja di sana, dan suruh bibi mun untuk membeli yang baru" hans akhirnya menyelesaikan berganti pakaian nya dan menyisir rambut


Fisya menghela nafas, jika ia menjawab lagi fisya sangat tau pagi ini akan sama seperti pagi kemarin, mereka akan bertengkar dan fisya tidak mau hal itu terjadi. Fisya meletakkan selimut yang ia bawa di sebelah pintu kamar mandi.


Saat hendak keluar untuk turun menuju ruang makan, hans menarik langan fisya hingga tubuhnya terputar menghadap ke arah hans, seketika hans langsung mencium hangat bibir fisya


"Ini akan menjadi rutinitasmu setiap pagi, yaitu mencium ku" ucap hans tersenyum mengelus elus pelan kepala fisya


Fisya tersenyum dan mengangguk, sikap nya yang menurut ini membuat hans semakin menyukai nya, fisya dan hans berjalan berdekattan menuju ke ruang makan, dilihatnya nenek dan kakek sudah menghabiskan sarapan mereka dan hendak pergi


"Maafkan nenek dan kakek tapi kami harus segera pergi ke rumah lisa" ujar kakek


"Kenapa buru buru sekali? Reza akan menjemput kalian, dia sudah di jalan jadi tunggu sebentar"ucap hans duduk di kursi dan menunggu fisya mengambilkan sarapan nya


"Kenapa tidak bilang" nenek duduk di sebelah fisya dan memperhatikan wanita ini menyiapkan sarapan untuk hans

__ADS_1


"Kalian itu cocok sekali"...


Next episode-


__ADS_2