
"Wah kebetulan sekali ya!" Ujar diandra yang berjalan di samping fisya, sembari membawa barang belanjaan nya, karna letak rumah diandra tidak begitu jauh dari minimarket jadi diandra berjalan kaki dari rumah nya,
"Ngomong ngomong! Kenapa kau belum pulang?" Tanya diandra masih belum mengetahui yang sebenar nya terjadi.
Fisya menunduk,menghela nafasnya dan bersikap seakan semuanya baik baik saja
"Fisya putus!" Fisya tersenyum manis melihat ke arah diandra
"Apa putus!! Kenapa!?" Tanya diandra keheranan dengan nada yang cukup keras
"Hahaha...tidak, fisya hanya sedang ingin putus! Itu saja" alasan fisya benar benar tidak bisa di terima
"Bodoh!" Ucap diandra dengan wajah cemberut.
Dilihat sudah pukul delapan malam, mereka menghabiskan waktu yang cukup lama karna diandra tidak bisa membedakan wartel dan lobak, dan terpaksa fisya harus menjelaskan perbedaan antara kedua nya.
Dari tadi handphone fisya penuh dengan panggilan masuk yang tidak ia jawab.
__ADS_1
Mulai dari andre,aron, reza bahkan lisa sudah beberapa kali menghubungi fisya.
Pikir fisya mereka hanya khawatir atau semacamnya, jadi bukan lah sebuah panggilan yang begitu penting, karna mengingat terakhir kali reza dan aron menelpon fisya karna mereka belum sarapan.
Dari depan sudah tersorot lampu mobil yang menyilaukan mata fisya dan diandra, mobil itu berjalan tepat menghampiri mereka berdua
"Mobil sialan! Siapa yang berani kenyorotkan lampu itu ke arah ku!!" Emosi diandra meluap luap, karna berkat cahaya yang menyilaukan itu diandra menginjak genangan air
Mobil berwarna merah itu berhenti di sebelah fisya, dan dengan cepat kaca mobil nya terbuka, saat hendak diandra melupakan segala emosi kepada si pengendara, terlihat pengendara itu adalah lisa, yang memandang fisya dengan wajah cemas nya.
"Fisya! Hans dan jorgi-..." sepertinya lisa tidak bisa menjelas kan apa yang tengah terjadi diantara hans dan jorgi, tapi yang pasti mata lisa terlihat berkaca kaca
Lisa menggeleng, tidak dapat berkata kata lagi
"Ayo naik!" Perintah lisa
"Ada apa ini!?" Diandra ikut kebingungan, tapi yang jelas ia ketahui adalah lisa menyebut nama direktur hans dan jorgi
__ADS_1
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan! Ayo naik!" Tegas lisa
Tampa aba aba fisya membuka pintu mobil belakang dan menaikki nya, bagitu pula dengan diandra yang tidak tau apa apa, diandra duduk di sebelah fisya dengan kantung belanjaan yang ia bawa.
Situasi dan suasan di mobil ini sangat tegang, lisa menyetir begitu cepat dan sesekali melanggar peraturan lalu lintas, bahkan ia hampir menabrak pejalan kaki.ingin rasanya fisya bertanya ada apa yang terjadi. namun nampak nya, ini bukan lah waktu yang tepat, karna jika lisa lengah sedetik pun maka mereka akan berakhir di rumah sakit.
"Kita ingin kemana!?"tanya diandra melihat fisya yang ikut cemas
"Fisya gak tau!" Fisya menggeleng
Lisa membawa mobil ini ke sebuah gang sempit, seakan akan masuk ke dalam kompleks perumahan yang sudah sangat lapuk dan tidak terurus dan juga sangat sepi, jalanan nya begitu gelap hingga membuat diandra menjadi takut.
Entah kemana lisa ingin membawa fisya dan diandra, daerah ini terlihat sangat asing di mata mereka
"Kenapa kau tidak menjawab telpon kami!?" Tanya lisa sedikit terlihat marah
"Fisya pikir-
__ADS_1
"Aku sudah cukup lama mencarimu!...
Bersambung-