
Fisya memasukkan handphone nya ke dalam tas kemudian berjalan beberapa langkah lalu memegang gagang pintu kamar,
Tampa ragu ragu fisya membuka pintu itu dan melihat didepan mata kepalanya sendiri hans tengah duduk di atas kasur dengan wanita di pangkuannya wanita berambut panjang itu tidak mengenakan pakaian, tengah melum*t bibir hans habis habis san.
Hans dan wanita itu melihat ke arah fisya yang kaku tidak bergerak memandangi mereka, hans terlihat sedikit panik dan wanita itu malah mengeluarkan wajah sombong nya
Baiklah! Jangan menangis! Jangan menangis, jadilah tegar
"Siapa dia hans?" Tanya wanita itu masih di pangkuan hans
Dari suaranya fisya dapat menebak dia adalah yuka,penyanyi papan atas yang sedang naik daun ya, wajar saja dia di sini dengan direktur presiden ternama di kota
"Ee..." fisya berusaha berpikir untuk pergi tampa membanting pintu ini dan tampa meninggalkan kesan yang buruk
"Maafkan saya nona! Saya adalah pelayan di rumah ini, saya datang untuk membereskan kamar tuan hans, maafkan atas kelancangan saya" ucap fisya membungkuk dan mundur beberapa langkah kemudian menutup pintu itu dengan perlahan, hati nya begitu sakit, rasanya seperti di robek begitu saja, padahal fisya baru saja ingin mendekatkan diri dengan hans
__ADS_1
Pelayan? Dengan pakaian itu dan tampa mengetuk pintu? Aku yakin kau bukan pelayan biasa.
Fisya berjalan melewati lorong ini, menuju ke anak tangga, dia menyakinkan diri nya untuk tidak menangis dan tetap tersenyum, meski sudah hancur berkeping keping.
Fisya berhenti cukup jauh dari anak tangga kemudian duduk bersandar menyembunyikan wajah di balik lengannya, menahan tangis
Kenapa aku menangis? Kenapa?
Harusnya aku makan pie bibi mun terlebih dahulu, makan malam seperti yang andre katakan dan tidak pernah masuk ke kamar itu
"Ayo kita lanjutkan hans" yuka membelai hans
"Tapi hans-
"Apa kau tidak dengar!? Pulang lah sebelum aku membakar mu hidup hidup" ucapan hans terdengar sadis, yuka mengangguk memakai kembali baju yang berserakkan di lantai.
__ADS_1
Fisya berjalan ke ruang makan, dilihat nya bibi mun dan andre tengah berpikir keras entah untuk apa, mungkin untuk kejadian tadi, fisya duduk di antara bibi mun dan andre sembari tersenyum seakan akan menyembunyikan tangis nya, meskipun fisya tersenyum matanya merah dan sayu siapa saja yang melihat nya dapat menebak bahwa wanita ini baru selesai menangis
"Apa ada yang bisa kami bantu nona?" Tanya bibi mun
"Gak perlu bi" ucap fisya masih tersenyum
Mereka berdiam diri di meja makan ini, fisya yang sangat ingin berteriak kencang untuk melepaskan apa yang mengganjal di hatinya, sedangkan andre dan bibi mun hanya terdiam kaku tak ingin situasi menjadi lebih kacau
"Andre, bisa antar fisya ke suatu tempat!?" Tanya fisya melihat andre yang duduk di sebelah nya
"Tentu nona, saya akan menyiapkan mobil nya" andre berdiri dan meninggalkan fisya bersama bibi mun di dapur
Setelah beberapa menit andre pergi fisya berdiri dan berjalan menuju aula tamu tampa ekspresi, untuk sekarang dia ingin menenangkan diri terlebih dahulu.
Jangan menangis! Jangan keluarkan satu tetes air mata lagi, kau harus kuat fisya!
__ADS_1
Benak fisya menyakinkan dirinya untuk tidak menangis lagi, satu langkah fisya diikuti dengan kata 'jangan menangis' begitu pula dengan langkah langkah yang lainnya....
Bersambung-