
Hans sangat bergairah ketika menge-cup bibir fisya dan juga lehernya, namun sebaliknya fisya malah makin jengkel karna hans terus terussan melukannya, rasanya sangat ingin menolak dan menghentikan hans, namun fisya tidak bisa karna hans tidak memberikan celah kepada fisya untuk berbicara
"Cukup!" Fisya mendorong tubuh hans dengan sangat kuat meski hans hanya terpundur satu langkah kecil saja jadi posisi awal nya
"Fisya gak mau! Kamu itu belum sembuh sepenuhnya" ucap fisya kesal
Kemudian hans kembali mendekat dan melingkarkan tangannya di pingang fisya kemudian menatap mata fisya dalam dalam
"Aku sudah sembuh! Aku tidak sakit lagi sayang!" Ucap hans bermanja kepada fisya
Sa-sayang?
A-apa maksud nya, Aaaaaa!! aku ingin berteriak mendengar itu
"Ti-tidak! Kamu itu masih sakit, dokter bilang besok baru sembuh" fisya memalingkan pandangannya sedikit malu
Meski jantung fisya berdetak dalam keadaan normal namun benak fisya masih terasa sangat malu, apalagi dengan jarak sedekat ini sebenarnya tubuh mereka sudah tidak berjarak, karna hans menarik tubuh fisya, yang memiliki jarak itu hanyalah pandangan dan wajah mereka
"Jika begitu!" Hans memegang dagu fisya dan mengarahkan wajah itu dengan lembut kehadapannya
"Ketika aku sudah sembuh seperti yang dikatakan dokter! Apa kau mau melakukannya?" Tanya hans semakin mendekatkan wajah nya
__ADS_1
Wajah fisya semakin terasa panas dan mulai memerah, kini detak jantung nya keluar dari kata normal, mendengar hans mengatakan hal yang membuat fisya menjadi sangat malu
"Katakan!" Sambung hans melihat wajah bingung sekali gus malu yang fisya samarkan
Fisya kembali membuat mimik wajah cemberut seperti sedia kala, namun kali ini dengan wajah yang sedikit memerah, fisya memalingkan pandangannya dan mengerutkan alis
"Fisya gak ngerti!" Ketus fisya
Hans mendekatkan wajahnya dan kembali mencium bibir fisya, melu-mat bibir itu dengan gairah yang cukup besar, berbeda dengan kecup-pan yang tadi ia lakukan kepada fisya, kali ini hans sedikit kasar.
"Hawa mu panas!" Hans mengelus bibir fisya dengan ibu jari nya
"Apa kau malu? " tanya hans
"Kau tidak perlu malu! Karna KAU adalah MILIKKU" ucap hans spontan kembali menge-cup bibir itu
Perlahan hans membungkuk
Melum*t dan mengec*p leher fisya hingga meninggalkan bekas ******
Kemudian perlahan hans menurunkan lengan baju fisya dari pundak nya,
__ADS_1
Disaat hans hampir saja sampai ke area payu-dara fisya, dengan tegas fisya menghentikan hans sebelum keperawanan wanita ini di renggut oleh nafsu hans
"Ada apa?" Tanya hans menatap wajah fisya
Fisya kembali membenari baju nya dan menatap hans serius
"Fisya gak mau!" Ucap fisya dengan wajah marah nya
"Kenapa?" Tanya hans bingung, biasanya wanita tidak akan menolak dirinya, tapi kali ini fisya menolak niat hans mentah mentah, bahkan melihat tubuh fisya saja belum
"Karna fisya pernah dengar dari seseorang, katanya kalo mau melakukan itu harus dengan kata 'setelah menikah'" ucap fisya
Hans malah tersenyum kecil medengar perkataan fisya, nampaknya wanita ini belum tau apa apa soal kata menikah, yah bagaimana lagi umurnya baru tujuh belas tahun wajar saja fisya masih sangat lugu
"Melakukan itu tidak harus setelah menikah! Dan kita bisa melakukannya kapan pun, karna kau akan tetap menjadi istri ku suatu saat nanti" hans tersenyum
"Tapi fisya gak mau!" Lagi lagi ketus fisya
"Yah baiklah! Aku akan menunggu mu mau melakukannya dengan ku atau menikahi mu terlebih dahulu! Yah yang mana saja juga boleh" hans duduk di depan laptopnya
Bodoh! Kenapa aku malah membahas pernikahan dengan hans, umurku baru tujuh belas tahun! Dan tidak terniat untuk nikah muda....
__ADS_1
Bersambung-