
Mobil berhenti di parkiran rumah sakit, fisya keluar dan langsung berjalan masuk, meski ia tidak tau di mana ruangan hans.
Saat melewati pintu masuk ternyata sudah ada diandra yang berdiri menatap layar handphone nya
"Kak diandra!" Panggil fisya menghampiri diandra
"Wah kau sudah sadar! Bagaimana kabar mu?" Tanya diandra memasukkan handphone nya ke dalam tas sandang milik nya
"Fisya baik! Ruangan tuan hans di mana?" Tanya fisya cemas
" kebetulan sekali aku juga sedang ingin menjenguk hans, baru saja aku mengabari reza untuk menjemput ku di ruang tunggu" diandra menatap mata fisya yang terlihat begitu tidak tenang, sepertinya fisya begitu cemas dan khawatir kepada hans
Tidak lama pula lisa menghampiri mereka, berdiri diantara fisya dan diandra, seakan akan lisa menunggu mereka berbincang atau sebagainya, padahal fisya dan diandra tengah menunggu reza menjemput mereka
"Jadi....kita sedang apa!?" Lugu lisa bertanya
__ADS_1
"Menunggu reza menjemput" ucap diandra kembali mengeluarkan handphone nya dari tas
"Aku tau ruangannya"
"Jika kau tau kenapa diam di sini!" Diandra menyeret lisa untuk berjalan menunjukkan di mana ruangan hans.
Lisa menuntun mereka berjalan menaikki lift, disisi lain reza sudah berada di ruang tunggu mencari keberadaan diandra yang menelponnya, padahal reza tengah berada di supermarket saat diandra menelpon dan ia langsung segera pergi ke rumah sakit saat mengetahui diandra ingin menjenguk hans
"Ini ruangannya" lisa membuka pintu ruangan itu dan langsung masuk
Didalamnya terlihat aron yang tengah duduk sembari membaca buku di depan jendela yang terbuka, sedangkan di kasurnya ada hans yang terbaring tampa mengenakan baju dengan perban di bagian bahu sampai lengan dan infus di punggung tangannya.
"Aku membawa ini" diandra memberikan kantung plastik yang ia bawa kepada aron
Sedangkan fisya memandang hans panik, dan dengan sesegara mungkin menghampiri hans dan berlutut di samping kasurnya sembari memegang selimut yang menutupi setengah tubuh hans.
__ADS_1
"Fisya minta maaf!...fisya,..benar, benar-" ia tidak dapat melanjutkan kata katanya, setelah melihat keadaan hans yang memprihatinkan. Selalu saja menyalahkan dirinya sendiri atas keadaan yang dialami hans sekarang ini.
"Sudahlah!, aku sudah mengatakan itu bukan salah mu" lisa datang kebelakang fisya dan mengelus pundak fisya berniat menenangkan
"Dihitung hari ini, sudah dua hari hans belum bangun juga, tapi kata dokter yang merawatnya, hans akan baik baik saja, karna operasinya berjalan lancar" aron meletakkan kantung pelastik di tangannya ke atas meja dan mengeluarkan satu persatu isi dari kantung itu.
"Kita bersyukur! Untung saja peluru itu tidak mengenai tulang hans!" Lisa memegang kedua pundak fisya dan mengangkat fisya untuk duduk di kursi
Fisya duduk di kursi yang tadinya sempat di dudukki oleh aron, fisya memandang ke luar jendela, memandang kepadatan kota,entah mereka berada di lantai keberapa tapi hampir seluruh kota terlihat dari sini.
Jika diperhatikan di ruangan ini fasilitasnya cukup memadai, ada televisi yang cukup besar ada dua sofa kemudian beberapa kursi dan meja makan beserta dengan tempat mencuci piring.
Untuk ruangan yang sebagus dan semewah ini tentu saja biaya yang di keluarkan tidak sedikit.
Tapi untuk orang seperti hans, reza aron dan lisa.
__ADS_1
Bisa di bilang biaya nya cukup murah...
Bersambung-