
Setelah cukup lama reza kembali bersama diandra yang membawa banyak belanjaan, ekpresi keduanya bertolak belakang, reza dengan raut wajah sedihnya sedangkan diandra berjalan dengan riang sembari mengangkat barang belanjaannya dengan bangga.
"Kalian sudah pulang?" Tanya lisa
"Ya...ternyata direktur reza sangat baik hati! Dia meneraktir ku berbelanja" bohong diandra di hadapan aron dan lisa
Aku tidak meneraktir mu! Tapi kau yang memaksaku!!
"Benarkan direktur!" Diandra tersenyum menyeramkan ke arah reza
"Eh...iyaaa" pasrah reza
Sudah pukul tiga sore dan hans masih belum sadar juga, fisya begitu tertekan hingga sejak reza dan diandra pergi tadi ia hanya duduk di sebelah kasur hans sembari memandangi wajah hans yang tertidur pulas.
"Kita belum makan siang, hanya memakan salad dan sebentar lagi akan malam, sebaiknya aku dan reza mencari makan malam!" Ucap diandra belum puas menghabiskan uang reza
__ADS_1
"Ah! Kau pergi dengan aron saja! Aku dan lisa harus ke perusahaan sebentar kemudian menjemput beberapa pakaian dan keperluan hans!" Elak reza tau persis apa yang ada di pikiran diandra.
Lisa terdiam memandang kaku fisya yang tidak bersuara sejak tadi, seakan akan semangat dan sifat asli fisya terkubur dalam dalam saat melihat hans terbaring seperti ini.
"Fisya! Apa tidak apa apa kau sendirian di sini!?" Tanya lisa
"Eh! Gak papa! Fisya gak papa" senyum fisya meyakinkan
"Yah baiklah! Sebaiknya kita segera pergi agar tidak kembali terlalu malam!" Aron melirik jam di tangannya.
Hanya ada hans dan fisya dengan semua rasa penyesalannya.
Perlahan fisya mengenggam tangan hans, dan meletakkan tangan itu di wajahnya sembari menangis
"Fisya minta maaf tuan hans!,..fisya mohon! Fisya benar benar minta maaf! Ini salah fisya!!" Ucap fisya meski ia tau perkataannya tidak akan di dengar oleh hans.
__ADS_1
Tapi entah kenapa karena ia melakukan itu setidaknya rasa bersalah di benak fisya sedikit berkurang.
Fisya membaringkan kepalanya di samping perut hans dan memandang wajah hans dengan mata yang masih terpejam.
"Fisya takut! Fisya gak tau harus ngapain sekarang! Fisya takut!!" Ucap fisya seiring air mata yang jatuh membasahi kasur.
Sudah sekitar tiga puluh menit ia membaringkan kepalanya di samping perut hans, dan dengan sangat erat fisya menggenggam tangan hans sembari berharap hans akan segera tersadar dan secepat mungkin pulih.
Agar rasa bersalah ini cepat berlalu dan fisya dapat meminta maaf secara langsung.
Ahirnya fisya tertidur, namun masih dengan perasaan yang sama yaitu berharap hans bangun dan masih dalam perasaan yang bersalah.
Suasana hening seketika, cahaya matahari masuk melalui celah celah jendela, terasa sangat damai, dengan ruangan yang masih berantakan akibat aron dan lisa yang entah apa mereka perbuat hingga di mana mana ada bungkus makanan dan berbotol botol minuman berbagai jenis.
Seketika fisya merasakan tekanan pada perut hans,dan mendengar batuk kecil namun berat dari diri hans,dengan sigap fisya terbangun dan memandang wajah hans dengan penuh harapan, mata fisya terbuka lebar menanti hans terbangun...
__ADS_1
Bersambung-