KAU Adalah MILIKKU

KAU Adalah MILIKKU
Berbekas


__ADS_3

Saat dokter membuka perban itu, terlihat jelas luka yang mulai mengering, terlihat sangat menyakitkan namun hans berlagak biasa saja, dokter kembali mengoleskan obat di sekitar luka itu dan kembali membalutnya dengan perban putih, kemudian dokter menghembuskan nafas lega


"Yah! Keadaan ada baik baik saja untuk kedepannya, saya sangat terkejut karna anda sudah bisa berbincang bahkan tertawa dengan teman teman anda, beberapa hari lagi anda boleh pulang" dokter ini memlepaskan kaca matanya dan tersenyum melihat hans


Ada beberapa hal yang dokter ini patut untuk di syukuri, pertama operasi pengeluaran pelurunya berjalan lancar, kedua pasiennya sudah dapat dikatakan sembuh meski belum seutuhnya dan ketiga, tentu saja bayaran yang cukup luar biasa.


Bahkan obat yang dioleskannya itu cukup mahal beserta fasilitas dan penanganan yang cukup elit, wajar saja luka hans mulai mengering, sesuai dengan besar biaya pembayarannya.


"Jangan lupa minum vitaminnya dan istirahat yang cukup! Saya permisi" ia keluar dari ruangan hans


"Wah! Sangat sepadan dengan bayarannya ya!" Ucap reza tersenyum, mengingat uang nya hari ini hampir mengering akibat meneraktir diandra yang tidak tidak.


"Yang penting hans bisa sembuh" lisa menatap fisya yang terlihat menarik nafas lega di depan pintu masuk


"Yah! Untung saja fisya memanggil dokter! Jika tidak maka kita tidak akan ingat hal itu!" Reza kembali memberikan kometar nya.


Hans manarik tangan lisa dan berbisik kecil di telinga nya, nampak nya setelah hans berbisik lisa tersenyum sangat lebar hati nya begitu bahagia. Sedangkan reza masih di hantui kebingungan kenapa hans berbisik kepada lisa dan bukan kepada nya

__ADS_1


"Apa yang kalian kata kan!?" Tanya reza


"Tidak! Tidak ada! Ayo kita keluar!" Lisa mendorong paksa reza menuju pintu


"Tapi kenapa!? Apa yang kalian bisikkan! Aku ingin tau!, kita ingin kemana? Aku masih ingin berbicara dengan hans-


"Sudah diamlah! Dan menurut, kita keluar sebentar karna ada yang ingin ku lakukan!" Lisa masih mendorong paksa tubuh reza yang sedikit lebih besar dari tubuh nya


"Oh ya fisya! Aku dan reza harus keluar sebentar karna ada kepeluan!" Lisa tersenyum melihat ke arah fisya


"Tapi aku tidak adAaaaaa-


Kini di ruang ini hanya ada hans dan fisya lagi, dan melambaikan tangannya meminta fisya mendekat, fisya berjalan dan duduk di kursi tepat di sebelah kasur hans.


"Ada apa !?" Tanya fisya membenahi posisi duduk nya


"Ada apa!? Apa kau tidak merindukan ku?" Canda hans

__ADS_1


Fisya berusaha menahan senyumannya dan berusaha sangat keras untuk tidak menunjukkan ekpresi nya


"Bagaimana kabar mu?" Tanya hans mengenggam tangan fisya


Kabarku?


Kabarmu sendiri bagaimana!!!


Apa kau buta! Lihat dirimu bagaimana keadaan mu dan kau malah menanyakan kabar ku!?


"Kabar ku? Kabar tuan hans sendiri bagaimana?" Tanya fisya dengan alis yang sedikit mengerut


Hans tertawa kecil, melihat betapa imutnya fisya ketika ia kesal, pandangan hans tidak luput dari mata fisya yang setiap kali berkilau di mata hans, seakan akan siapa saja yang melihat mata itu dapat tersenyum, tidak peduli seberapa berat masalah yang sedang menghampiri


"Apa aku membuat mu khawatir?" Tanya hans meletakkan tangannya di wajah fisya dan mengelus wajah itu dengan ibu jari nya


"Sangat!" Ucap fisya spontan, dengan raut wajah yang mulai memudar akan ekpresi

__ADS_1


"Aku minta maaf....


Bersambung-


__ADS_2