
"Baiklah! Aku ingin kalian mengerjakan ini dengan baik!" Ucap hans mendekatkan diri kearah reza dan lisa
"Kalian lihat layar beckground besar di panggung?" Tanya hans memastikan rekannya memperhatikan
Reza dan lisa mengangguk seakan akan langsung mengerti dengan apa yang diucapkan oleh hans
"Bagus! Kalian tau apa yang harus kalian lakukan! Sebelumnya aku ingin semua wartawan diluar juga menyaksikan pertunjukkan ini" hans berdiri tapi kali ini mimik wajahnya sedikit berbeda
"Lakukan dengan benar!" Ucap hans pergi meninggalkan reza dan lisa dengan seribu ketakutan akan dirinya
Perlahan lisa mebobol layar beckground yang besar itu lewat handphone nya
Semua persiappan telah ia lakukan namun karna layar itu tersambung ke kabel data laptop yang pusat pengendaliannya ada di belakang panggung
Dengan lincahnya lisa
Mengendap endap berjalan kebelakang panggung namun hebatnya lagi tidak ada satu pun tamu yang mencurigai dirinya
Lisa melihat ada laptop diatas meja dengan kabel yang terhubung ke mesin layar dan bingungnya lagi ada lelaki yang duduk memperhatikan laptop itu
Panjang pikir lisa memikirkan jalan keluarnya hingga lisa memutuskan untuk menemui lelaki itu
"Hm...Permisi! Apakah anda adalah pengurus layar beckground ini?" Tanya lisa berlagak sexy
"Ya benar! Hm... ada apa?" Jawab lelaki itu melihat tubuh lisa
"Yah bagus! Aku adalah sahabat mika dan mika ingin aku memasang beckground persahabatan! Karna ia ingin mengingat semua kenangan tentang persahabatan indahnya sebelum.... yah kau tau" ucap lisa memandang kukunya
__ADS_1
"Baiklah jika begitu! Saya permisi ke toilet" lelaki itu berdiri dan memberikan laptopnya kepada lisa
Lisa menelpon reza untuk memberi aba aba
"Aku sudah siap!" Lisa memutuskan sambungan telponnya dan menunggu aba aba berikutnya
Baiklah ini giliranku
Reza yang bediri di luar ruangan tepatnya dihadapan semua wartawan tampak acuh
"Hm...kalian boleh masuk!" Sepatah kalimat reza membingungkan semua wartawan
"Apa kalian tidak dengar! Kalian boleh masuk!" Namun para wartawan masih kebingungan dipikirnya orang biasa seperti mereka tidak bisa masuk ke acara pernikahan orang terhormat seperti johan
"Masuk ke dalam atau aku bakar kalian!" Ancam reza mengeluarkan korek api dari kantungnya
"Hans! Aku sudah siap" ucap reza menelpon hans
"Tunggu aba aba ku!" Hans mematikan telponnya
Hans masuk ke toilet untuk memastikan fisya baik baik saja
Dilihatnya dari lorong toilet fisya tengah menangis didepan kaca
"Fisya!" Hans mendekat
Fisya berputar arah dan berusaha menghelap air matanya dengan kedua tangan kecil
__ADS_1
"Apa kau baik baik saja?" Ucap hans yang berdiri didepan fisya
Tak ada sahut suara dari fisya
Hanya tangis tiada henti wajar saja jika fisya menangis setelah semua yang dilakukan mika kepadanya
Fisya begitu malu untuk keluar bahkan untuk berjalan pulang pun tak sanggup
" sudah! Tak apa" hans menarik kepala kecil fisya dan meletakkannya didada guna memudahkan dirinya untuk memeluk gadis kecil ini
Tangis fisya semakin tersedu sedu dipeluk nya dengan erat tubuh besar hans dan meneteskan air mata diantara jaz hitamnya
"Sudah! Semua akan baik baik saja, ada aku disini!" Kata hans tulus mencium kepala fisya
Lalu handphone hans berdering disakunya
Hans mengambil handphone itu dan mengangkat panggilan dari reza
"Hans! Apapun yang kau lakukan sebaiknya cepat, para lelaki botak ber jaz hitam ini mulai mengusir para wartawan" suara reza dengan nada yang keras
Hans mematikan telpon itu
"Ayo keluar!" Ucap hans
Fisya menggeleng dan mempererat pelukkanya tidak membiarkan hans pergi atau melepas pelukkan itu karna saat ini ia sangat butuh teman dan begitu malu untuk keluar
"Ayo keluar! Semua akan baik baik saja, ingat aku selalu disamping mu! Tidak akan ada yang berani mempermalukan dirimu lagi" hans mempertegas perkataannya....
__ADS_1
Bersambung-