
Fisya dan hans tengah berangkat ke rumah diandra, perkara pesan undangan yang bersifat pemaksaan yang dikirimkan oleh diandra kepada mereka, entah apalah tujuan dari undangan itu, tapi mereka harus mendatangi nya
Kini mereka sampai di depan rumah diandra, dilihatnya ada dua mobil terparkir di depan rumah itu, tak lain pemilik dari mobil mewah ini adalah reza dan aron
"Wah kalian sudah datang!" Sambut diandra membuka kan pintu
Fisya dan hans masuk melihat di sana ada lisa,reza dan aron yang tengah bermain kartu di temani beberapa cemilan dan minuman
"Oke! Semuanya sudah datang! Sekarang apa tujuan mu mengundang kami semua di sini?"tanya lisa meletakkan kartu di tangannya
Fisya dan hans hanya duduk diam berdampingan, menyimak sejenak perkacakapan mereka
"Oh itu, hehehe aku hanya rindu berkumpul dengan kalian dan aku ingin membuang semua kesedihan ku" ujar diandra meneguk jus jeruk di cangkir
"Kau sedih? Kenapa?" Tanya lisa
"Yah aku baru saja putus dengan pacar ku"
"Pacar? " tanya fisya heran padahal beberapa hari lalu diandra mendaftar untuk kencan buta minggu depan
"Kau tidak tau ya, sudahlah dia juga bukan orang baik" diandra menghela nafas nya
"Apakah kalian lapar? Karna jika kalian lapar maka lelaki yang ada di ruangan ini akan memasak untuk kita" cerocos diandra membuat hans,reza dan aron terdiam kaku
"Maksudmu kami bertiga? Aku bahkan tidak bisa membedakan bawang dan tomat!" Protes reza
"Ayolah! Sesekali kami para wanita memerlukan istirahat walau sejenak" pembelaan yang tidak bearti apa apa ini ia lontarkan
"Yah baiklah! Sebaiknya kita memulainya" aron menarik tangan reza dan hans berjalan ke arah dapur meninggalkan ruang tamu
Setelah mereka pergi fokus diandra dan lisa mengarah ke fisya, mereka memperhatikan atas dan bawah tubuh fisya dengan sangat jelih, seakan akan ada yang berubah dari sosok wanita ini, tapi apa itu
__ADS_1
"Apakah ukuran dada mu membesar?" Tanya lisa seketika membuat pipi fisya merah merona
"A,apa yang kau bicarakan?" Malu fisya
"Aku setuju, selain itu wajahnya terlihat lebih cerah dan juga bentuk tubuhnya sedikit berubah" analisis singkat diandra
"Aku tidak mengerti!" Fisya berusaha mengudahi topik pembicaraan ini
"Apa kau dan hans sudah melakukan......" diandra mendekatkan diri ke arah fisya dan memandangnya serius
"Su,su- sudah apa?" Gugup fisya tau pembicaraan ini mengara ke mana
" sepertinya sudah " lisa mulai ikut ikuttan
Sejenak mereka semua terdiam memperhatikan fisya yang tertimbun malu yang tertubi tubi, dan seketika lisa dan diandra melompat ke arah fisya dan duduk merapatkan diri satu sama lain
"Bagaimana rasanya?"
" bagaimana kalian memulainya?"
"Siapa yang meminta?"
"Apakah hans"
"Apakah kau?"
"Atau kalian sepakata untuk melakukannya bersama?"
Fisya benar benar di hantui oleh banyak pertanyaan pertanyaan konyol dari kedua teman temannya ini, dan jumlah pertanyaan itu sama banyaknya dengan jumlah malu yang harus fisya tahan saat ini
"Kalian berbicara apa?" Tanya fisya malu
__ADS_1
Dan seketika terdengar suara barang barang berjatuhan sekaligus pecahan kaca.
Sepontan fisya, lisa dan diandra berlari menuju ke arah dapur dan melihat apa yang telah di lakukan reza, aron dan hans di dalam sana
"Ada apa?" Tanya fisya
Melihat pecahan mangkuk di lantai dan barang barang yang berserakkan di mana mana, dan parahnya lagi tampa sadar telapak tangan hans mengeluarkan darah, pupil mata fisya terfokus ke tetesan darah itu
Dengan cepat ia menarik hans ke ruang tamu dan menduduk kan lelaki itu di sofa sementara fisya mencari kotak obat.
Sedangkan lisa dan diandra membereskan dapur, dan mengocehhi reza bersama aron habis habissan
"Bagaimana bisa luka?" Tanya fisya duduk di lantai dan membersihkan darah di tangan hans dengan kapas
"Aku tidak tau, aku bahkan tidak sadar jika tangan ku terluka" heran hans memandang darah yang keluar begitu banyak nya dari tangan
Kening fisya mengerut matanya terfokus membersihkan sekaligus memberi perban pada luka di tangan hans
"Apa kau khawatir?" Tanya hans bercanda
"TENTU SAJA AKU KHAWATIR!" Marah fisya melihat wajah hans yang berubah ekspresi seketika
Ternyata dia benar benar khawatir
"Bagaimana bisa kau seceroboh ini!? Bagaimana jika lukanya besar dan dalam? Bagaimana jika harus di bawa ke rumah sakit dan harus di jahit?" Cemas fisya dengan mata yang sedikit berlinang
Hans hanya diam memperhatikan sikap fisya dan semua ekspresi wajah nya itu, kemudian dengan sikap hans menarik kepala fisya dan memeluk wanita ini dengan lembut
" iya, iya aku minta maaf" ujar hans mencium kening fisya...
Bersambung
__ADS_1