
Jam alarm membangun kan fisya dari tidurnya dilihatnya jam itu menunjukkan pukul 6:10 pagi,fisya bangun dari tidur nya dan melihat sebuket bunga dan sekotak coklat tergeletak di atas kasurnya.
Mengingatkan fisya akan jorgi,senyum kecil fisya tersipu malu
Lalu suara handphone fisya memenuhi ruang kecil ini,fisya mengangkat telpon itu dan meletakkan handphonenya di telinganya
"Dari mana saja kau semalaman? Kau tidak mengangkat telpon ku" suara hans dari telpon itu
Astaga! Handphone ku tertinggal di mobil kak jorgi tadi malam dan aku melewatkan telpon tuan hans
Fisya meletakkan tangan ke keningnya dan berpikir alasan apa lagi yang sepantasnya ia katakan agar hans percaya
"Kenapa kau diam saja" nada suara itu mulai menjadi menakutkan
"Fisya...tadi malam fisya..." otak yang memiliki IQ tinggi itupun tidak bisa bekerja saat berhadapan dengan hans
"Tadi malam?" Hans berhenti sejenak
"Bila ku ingat tadi malam kau tengah berjalan dengan seorang lelaki" dimainkannya kertas foto ditangannya yang memotret moment kemesraan fisya dengan seorang lelaki yang entah ia dapatkan dari mana
Dari mana dia bisa tau
Wajah fisya menjadi ketakuttan, bibirnya tidak bisa berbicara lagi seakan akan suara itu di kontak mati oleh lelaki yang tengah berbicara denganya di telpon
__ADS_1
"Apa kau lupa! Aku mengetahui apapun yang terjadi di kota ini, dan sangat mudah bagiku memantau dirimu" ucapan menakutkan keluar dari bibir hans
"Dua puluh menit lagi kau sudah sampai di kantorku" hans mematikan telponya
Habislah diriku,kali ini benar benar aku mengacaukan segalanya
Fisya bergegas dengan cepat tak dihiraukannya kamar yang berantakan itu,ia langsung mandi dan menganti bajunya
Jika kali ini aku terlambat maka tidak ada yang tau nasibku selanjutnya
Setelah ia menyisir rambutnya
dengan cepat fisya mengambil handphone nya berlari melewati lorong rumah nya dan seketika saat di ruang tamu fisya menabrak ibunya yang membawa gelas diatas nampan
"Apa yang telah kau lakukan!" Ucap ibu fisya menatap dirinya
"Jangan kau pikir dengan mengembalikan uang sebelah juta dollar itu bisa membuat dirimu seenaknya di rumah ini" wanita itu membentak fisya
Mengundang semua orang di rumah itu berkumpul menyaksikan fisya yang tengah terjatuh bersama dengan pecahan gelas di hadapannya.
" nona fisya?" Pelayan itu duduk dan membantu fisya berdiri
"Biar saya bantu membersihkannya" ucap wanita polos itu
__ADS_1
"Tidak perlu! Jangan kau sentuh satupun dari pecahan gelas itu,biarkan dia sendiri yang membersihkannya dengan kedua tangan kecil itu" ucap ibu fisya kejam melihat ke arahnya
Perlahan fisya duduk di hadappan pecahan gelas dilihatnya beling beling tajam itu berserak dimana mana perlahan fisya mengumpulkannya satu persatu beling itu ke atas tangannya,tak terasa tangan itu mengeluarkan banyak darah
Darah yang menetes ke lantai
"Tapi nyonya tangan nona fisya" wanita tua itu itu hendak ingin membantu
"Diam! Pergi saja kau ke dapur dan jangan campuri urusan kami" bentak ibu fisya ke pembantu polos itu
Tangan ini berdarah? Tangan ku terluka mungkin cukup dalam tapi entah kenapa tidak begitu sakit, sakit hati ku yang lebih dalam telah mengalahkan luka di tangan ku ini
Selesai fisya mengumpulkan pecahan gelas itu lalu ia berdiri dihadapan ibunya dan memandang tangannya yang terluka
"Lihatlah luka kecil itu" wanita tua kejam dihadapan fisya pergi meninggalkan dirinya
Seakan akan anggota keluarga yang lain tidak peduli dengan keadaan fisya,mereka hanya tertawa terbahak bahak melihat wanita lemah yang berlumuran darah itu
Fisya membuang semua pecahan gelas di tangannya ke tong sampah di dapur dan mencuci kedua tangannya yang terlumur darah,terlihat luka yang besar dan dalam di tangan itu
"Nona fisya, izinkan saya membalut luka itu! Jika tidak di balut maka luka itu bisa terkena debu dan terinfeksi" pelayan itu membawa kotak 3p dan meletakkan diatas meja makan...
Bersambung-
__ADS_1