
Perlahan hans membuka matanya dan menemui fisya yang menatap diri nya dengan mata yang berkaca kaca, perasaan fisya tercampur aduk, ingin rasanya fisya meloncat kegirangan namun ia masih terdiam kaku memandang tidak percaya mata hans yang sudah terbuka.
Pandangan fisya tersorot melihat ke arah hans, mata nya yang berkaca kaca itu kini mulai jatuh berderaian air mata,entah itu air mata bahagia atau air mata sedih tapi yang pasti fisya menangis di depan hans
"Hei!" Ucap hans lemah, meletakkan tangannya di wajah fisya sembari tersenyum
"Kenapa kau menangis!?" Tanya hans dengan suara sedikit serak
Tangis fisya semakin derai, disisi lain ia berbahagia karna hans sudah bangun bahkan sudah berbicara langsung kepada dirinya di sisi lain fisya masih memendam rasa bersalah nya.
"Aku minta maaf taun hans!" Ucap fisya menggenggam tangan hans di wajah nya
"Sudah! Itu bukan salah mu!" Jawab hans memandang mata sayu fisya
Fisya menggeleng seakan akan tidak terima dengan apa yang hans katakan, pikir fisya di saat saat seperti ini hans masih bisa berbohong agar perasaan fisya membaik.
"Jangan menangis!" Hans menghelap air mata fisya
Kemudian menarik nafas lega seolah dirinya sudah terbebas dari masalah yang rumit dan berliku liku
"Kemari itu hampir saja!" Senyum hans sedikit tertawa kecil
__ADS_1
Tertawa!?
Disaat seperti ini!!
Fisya mengerutkan alisanya memandang hans dengan pandangan kesal melihat hans menertawakan kejadian yang membuatnya seperti ini
"Bodoh!" Teriak fisya
Sejenak menngejut kan hans, kemudian fisya menyandarkan kepalanya di perut hans sembari menahan tangis!
"Aku sangat khawatir! Aku begitu cemas !!" Ucap fisya lemah
Akhirnya!
Hans meletakkan tangannya di kepalak fisya dan sedikit tersenyum
"Maaf sudah membuat mu khawatir!" Ujar hans mengelus kepala itu.
Setelah itu barulah fisya tersadar bahwa dokter harus mengetahui hal ini agar bisa melakukan pemerikasaan, dengan cepat fisya berdiri
"Aku harus manggil dokter!" Ucap fisya berlari menerobos pintu dan berlari mencari perawat atau dokter terdekat untuk memeriksa kondisi hans sekarang.
__ADS_1
Hans memandang lelangit ruangan ini, warna putih dominan dengan warna biru serta bau obat itu,sudah dapat di tebak ia berada di rumah sakit, ia melihat sekeliling ruangan yang berantakkan akan bungkus makanan ringan dan botol minuman, udara segar yang masuk dari jendela serta cahaya oren yang menerobos paksa jendela itu sangat erat dengan kata "rumah sakit"
Kemudian hans melirik ke arah meja makan
Dan sekilas ia melihat bahunya yang terbalut perban putih, barulah ia ingat alasan kenapa dia berada di dalam ruangan ini.
"Yah! Lelaki sialan itu berhasil mengenai bahu ku!" Ucap hans ngeram melihat perban putih itu
Kemudian terdengar suara pintu terbuka, hans menduga itu adalah fisya dengan dokter yang akan memeriksanya, namun ternyata itu reza yang berjalan masuk sembari menunduk
"Lisa ketinggalan handphone nya!" Ucap reza kesal
Dan ketika reza mengangkat kepalanya ia melihat hans yang tersenyum memandang dirinya.
Sejenak reza terdiam kaku memandang hans, sangat mirip dengan ekspresi fisya ketika pertama kali melihat hans terbangun
"Kau sudah bangun!!" Teriak reza menghampiri hans dan memandang dirinya penuh dengan tatapan tidak percaya
"Apa kabar reza!" Ucap hans sedikit serak
"Astaga kau benar benar sudah bangun!! Aku harus bagaimana! Aku harus bagai mana!!" Reza berlari kesana dan kemari sembari memegang kepalanya dengan ke dua tangan
__ADS_1
Aku haru menelpon lisa...
Bersambung-