
Terdiam fisya jenuh memandang luka di kedua tangannya mengingat semua masalah besar yang selalu hadir menghadapi dirinya dan sekarang ditambah lagi dengan keegoisan hans dalam memilih keputusan
Lihatlah luka! Bertubi tubi kau memberikan kesengsaraan ke padaku!
Adakah cobaan yang lebih berat dari dari pada ini nanti?
Mata fisya berlinang, ditundukkan wajah itu hingga rambut indahnya menutupi wajah sedih kini
"Tapi tuan hans..." fisya memandang hans didepannya dengan air mata yang siap turun membasahi pipinya
Reza dan dokter fank menyaksikan moment menyedihkan itu bingung akan berbuat apa disaat situasi seperti ini
"Aku tidak menerima alasan apapun dari mu" ucap hans sadis melihat fisya
"Yah sebaikknya aku mengantar dokter fank pulang" ucap reza menggosokkan tangan ke kepalanya
Siapa saja bisa tau akibatnya jika hans murka
Dan suasana di ruangan ini mulai terasa berbeda dengan segera Reza dan dokter fank pergi menaikki lift meninggalkan hans dan fisya berdua di ruangan besar ini
"Fisya! Kau tidak bisa menyembunyikan apapun dariku"hans berjalan mengarah ke arah fisya
__ADS_1
"Sebaiknya kau jujur akan semua masalahmu kepadaku" saran hans duduk diatas meja
Fisya menunduk memandang setiap perban yang membalut jari jemari sampai pergelangan tangannya,memikirkan setiap perkataan hans
"Terakhir kali aku bertanya ke padamu! apa yang terjadi dengan tangan mu!" Tanya hans kali ini benar benar serius
Mungkin jika aku ceritakan yang sebenarnya dia akan memaafkanku dan memberikanku kesempatan kedua untuk merawat diriku
"Tangan fisya..." ucap wanita lemah ini mengumpulkan semua keberaniannya di dalam benaknya
"Tadi pagi,saat fisya ingin pergi ke kantor fisya gak sengaja nabrak bunda lagi bawak gelas,terus bunda marah! Nyuruh fisya beresin pecahan gelas di lantai!" Jatuhlah setetes air mata itu ke perban putih baru yang melilit tangan indah fisya
Bahkan keluarganya membenci dirinya
Layaknya aku memberikan cukup cinta hingga ia tidak merasa sedih lagi
Hans memandang fisya yang berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh berderaiyan
"Tapi fisya gak papa...fisya baik baik aja,fisya...." bahkan untuk keyakinkan dirinya untuk tegar sudah tak sanggup lagi
Terlalu banyak masalah dan beban yang di tanggung fisya,terlalu besar untuk dirinya yang baru menginjak umur dewasa.
__ADS_1
Hans duduk di depan fisya menjulurkan tangannya ke kepalanya dan menarik kepala fisya ke tubuhnya
"Kau akan tetap baik baik saja" ucap hans mengelus rambut fisya
Sudah dua kali lelaki ini menenangkan dan memeluk diriku
"Menangislah jika itu membuat hatimu merasa lebih baik" ucap hans menarik ke dua tangan fisya dan melingkarkan tangan itu ke punggungnnya
Fisya memeluk hans dengan kencang dan menangis berderai derai dalam pelukan hans
"Fisya...fisya minta maaf" ucap fisya menggelangkan kepala menghelap air matanya di baju hans
"Fisya tadi udah bohong...fisya takut" ucapnya sambil menangis sedu dipelukkan hans
"Itu bukan kesalahan fisya" hans mengelus kepala fisya yang menempel di perutnya
Sudah sepentasnya fisya tinggal di rumahku agar aku bisa memantau dan merawat nya dengan tanganku sendiri
"Fisya takut" benak fisya tiba tiba terhempas di pelukkan itu
"Apa yang fisya takutkan? Aku bisa membantumu" ucap hans
__ADS_1
Nafas fisya tidak bisa di atur tangisnya yang tersedu sedu seperti cegukkan membuat suaranya terbatas dan membuat dirinya tak sanggung berbicara...
Bersambung-