
"Kau sudah sadar!" Lisa memeluk erat tubuh hans hingga ia lupa bahwa bekas tembakkan di lengan hans masih belum pulih seutuhnya
"Ah! Maafkan aku!! Aku lupa" lisa menutup mulutnya setelah melihat hans sedikit merintih karna rasa sakit.
Kemudian lisa memandang hans dengan mata sayu nya, mengingat ini pertama kali hans terkena luka yang cukup serius, dan juga bagi lisa hans adalah seorang kakak yang sangat baik dan bertanggung jawab.
Mata lisa berkaca kaca, kemudian meneteskan air mata, entah kenapa tiba tiba saja air mata itu jatuh membasahi lengan hans
"Ada apa dengan mu?" Tanya reza heran.
Sejujurnya reza kurang mengerti apa yang dirasakan oleh lisa, dan juga pertanyaan nya kurang tepat di situasi seperti ini
"Sudahlah jangan menangis! Aku sudah tidak apa apa!" Ucap hans tersenyum
"Kenapa kau sangat bodoh!" lisa berlutut di samping kasur hans sembari menangis
"Kupikir kau tidak akan hidup lagi! Pikiran ku benar benar kacau!" Lisa menangis derai di atas kasur hans.
Wah! Ternyata aku memiliki banyak orang yang sayang dan peduli dengan diri ku.
__ADS_1
"Yah! Sudah lah!!" Ucap reza membangkitkan tubuh lisa.
Bahkan orang seperti lisa pun bisa menangis saat melihat orang yang penting dalam kehidupannya terluka, apa lagi sampai tertembak karna hal sepele seperti ini.
Lisa sangat mati matian membela hans, sampai sampai ia membayar mahal untuk pengacara yang profesional untuk menangani kasus hans, bukan main main hukuman yang di anjurkan lisa adalah 25 tahun penjara.
Kemudian tampa aba aba reza memegang kepala lisa dan menarik kepala itu ke dadanya lalu mengelus kepala lisa dengan sangat lembut
"Sudah! Jangan menangis, hans sudah baikkan!" Bujuk reza sedikit mengejutkan lisa
Kenapa lelaki ini!
TIDAK! Tidak mungkin reza mengukai ku, mengingat ia baru putus dengan pacar ketiganya minggu ini.
Hans tersenyum kecil memandang reza yang tengah memeluk lisa, seakan akan lelaki yang bersama lisa itu bukan lah reza, biasanya reza bersikap konyol dan menyebalkan, tapi hari ini reza cukup membuat lisa berdebar debar
"Kalian tau!" Ucap hans sedikit tertawa kecil
"Menurutku kalian pasangan yang serasi!" Lanjutnya tampa memikirkan rasa malu yang akan lisa tanggung
__ADS_1
Saat lisa ingin melepaskan pelukan reza dan ingin memarahi hans habis habissan, sebaliknya reza malah mempererat pelukannya dan menatap hans sedikit sinis
"Kau tetap orang yang sama ya! Berbicara seenak nya" senyum reza
"Dimana aron dan sepupu fisya itu!?" Tanya hans memandang ke arah pintu masuk
"Mereka membeli makan malam" jawab lisa mendorong reza dengan cukup kuat, dan kembali bertingkah seperti tidak ada yang terjadi
"Hei! Sepupu fisya itu diandra kan?" Tanya hans memingat fisya sering kali mengucap nama diandra di hadapannya sebagai alasan
"Yah! Dia manis dan cantik" reza menghampiri hans dan duduk di sebelah lisa
Sudah ku duga!
Reza memang tidak memiliki perasaan terhadapku!
Aku sangat yakin dia menganggap ku sebagaimana aku menganggap hans dan aron.
Tidak lama fisya masuk dengan seorang lelaki yang mengenakan jaz berwarna putih dan berkaca mata, yaitu dokter yang menangani hans, dokter itu berjalan dan berdiri di samping kasur hans,kemudian memeriksa keadaan hans, mulai dari detak jantung, suhu tubuh dan mengganti perban....
__ADS_1
Bersambung-