KAU Adalah MILIKKU

KAU Adalah MILIKKU
Bertengkar


__ADS_3

Hans melihat punggung fisya yang berjalan melintassi aula tamu, dengan cepat hans menuruni anak tangga dan menarik tangan fisya


"Tunggu!" Ucap hans


Fisya menunduk dan memberanikan diri mengangkat kepalanya untuk menunjukkan epsresi fisya seakan akan tersirat aku baik baik saja di wajah nya, namun dengan mata yang merah nan sayu itu


"Kenapa kau menyebut diri mu pelayan?" Tanya hans tidak percaya dengan apa yang fisya katakan didepan wanita tadi, akan lebih melegahkan bila fisya langsung marah di sana dan mengeluarkan setiap keluhannya kepada hans, namun fisya seakan akan membuat hans tenggelam di dalam lautan penyesalan


"Lantas kalo bukan pelayan fisya ini apa?" Tanya fisya tersenyum memandang hans


Hendak hans menjawab fisya langsung mencela sembari menunduk


"Kekasih kamu!? Atau calon istri!?" Tanya fisya dengan nada sedikit keras


"Kalo kamu angap AKU seperti itu, wanita tadi tidak akan ada di kamar"ucap fisya berusaha menahan tangis

__ADS_1


"Nampaknya sejak awal aku memang seorang pelayan" ucap fisya dengan bendungan air mata


Mendengar itu hans semakin di hantui penyesalan, ada dua hal yang membuat hans ingin mengulang waktu, pertama bendungan air mata di mata fisya kedua sikap fisya yang berusaha tegar


"Aku minta maaf!" Ucap hans memandang fisya


Fisya tersenyum dengan air mata yang mulai turun dari bendungan mata nya


" fisya udah maaf pin kamu!" Ucap fisya pergi menuju ke luar


****


"Kebetulan sekali! Kami baru saja ingin menjempu mu" ucap lisa setelah fisya datang


Lisa memperhatikan wajah fisya, ia baru selesai menangis

__ADS_1


"Kenapa? Apa kau bertengkar dengan hans?" Tanya lisa langsung dapat menebak apa yang terjadi, karena lisa melihat ada wanita yang memaksakan diri masuk ke dalam rumah hans


Fisya mengangguk dan duduk di sebelah lisa, lisa terlihat dewasa, ia menyeret kepala fisya ke pundak nya dan mengelus ulus kepala wanita ini


"Kau tidak bisa meninggalkan hans begitu saja! Setelah apa yang dia lakukan untuk mu, jadi... seharusnya kau sudah tau sikap hans itu sejak awal kan" ucap lisa sedikit membuka pikiran fisya


Ia menyadari sejak awal seharusnya fisya menjadi tegar dan tidak memperdulikan hal itu seperti lisa, kenapa? Karena lisa menyukai reza namun reza selalu membuat lisa patah hati, hebatnya lagi lisa tidak pernah menyerah akan hal itu


"Kau beruntung memiliki hans! Jadi wajar saja jika dia melakukan itu, mungkin saja hans di goda oleh pelac*r itu kan, mengingat hans adalah incarran wanita" diandra ikut ikuttan duduk di hadapan fisya


"Fisya harus bagaimana?" Tanya fisya yang tersandar di pundak lisa


"Menurutku beri hans satu kesempatan lagi, maksud ku tidak mungkin dia berubah begitu cepat dan tidak mungkin pula hans terbebas dari wanita wanita penggoda seperti itu" saran lisa sangat mengerti apa yang fisya dan hans rasakan, lisa seperti peramal


"Aku setuju! Untuk malam ini kau boleh menginap di rumah ku tapi besok! Kau harus pulang" ucap diandra membuka toples kue di depannya

__ADS_1


Yah, datang ke rumah diandra adalah keputusan yang bijak saat kau merasa hancur di tambah lagi ada lisa yang memberikan saran setidak nya rasa sakit di hati fisya mulai menepi....


Bersambung-


__ADS_2