
"Apakah nona baik baik saja" pelayan itu mebalut luka fisya dan memandang wajah rusuhnya
"Ya aku baik baik saja" fisya tersenyum kearah pelayan di depannya seakan akan luka itu bukan masalah besar
Perban putih itu menutupi kedua tangan dan semua jemari fisya,terdapat banyak luka yang di selimuti oleh perban putih itu
" sudah selesai,jangan di buka perbannya sebelum lukanya kering" ucap pelayan itu menutup kotak 3p
Fisya mengangkat kedua tangannya dan melihat perban di tangannya sekerika ia teringat sudah terlambat ke kantor
Gawat!
Lagi lagi fisya berlari meninggalkan pelayan itu tampa berpamittan dan terus berlari di jalanan kota yang ramai,tak menghiraukan orang orang disekelilingnya hingga sampailah fisya di gedung besar itu,dan tampa berbasa basi lagi fisya masuk langsung berjalan menuju ke lift pribadi
Cepat! Cepat! Cepat!
Kenapa lift ini lama sekali
Saat pintu lift terbuka terlihat hans sudah lama menunggu dirinya
"Kau terlambat dua puluh tujuh menit" ucap hans berdiri di depan jendela kaca
"Fisya...fisya benar benar minta maaf" wanita itu memohon kepada lelaki yang sama sekali tidak menghiraukan kedatangannya
Hans berjalan ke mejanya dan duduk di kursi melihat ke arah fisya yang ketakutan dan kebingungan
"Duduk" perintah hans meminta fisya duduk ke kursi didepan mejanya
__ADS_1
Dengan segera fisya duduk di hadapan hans dan menyembunyikan kedua tangannya
"Fisya benar benar minta maaf fisya lupa kalo handphone fisya ada di..." hampir saja fisya menyebutkan nama lelaki yang sedang bersamanya semalam
"Ada di mana" tanya hans memandang fisya penuh dengan pandangan menakutkan
"Di..." pikir fisya tidak sempurna
"Kau pikir aku bisa kau bodohi? Aku tau kemana saja kau semalam,jangan anggap aku bodoh" sorot mata hans memandang mata fisya
Hans melihat di Baju putih fisya terdapat noda darah yang belum mengering
"Ada apa di tangan mu?" Lirik hans melihat tangan yang terletak di belakang tubuh fisya
"Ee...tangan fisya,tangan fisya gak papa " senyum elok nya meyakin kan hans
"Tangan fisya...gak papa" lagi lagi fisya tersenyum
"Letakkan!" Hans menunjuk mena
Perlahan fisya menarik kedua tangannya dan meletakkannya di atas meja,tangan yang dibalut perban putih berlumuran darah
Apa! Darah
Bagaimana wanita bodoh ini bisa terluka
"Ada apa dengan tangan mu?" Tanya hans melirik fisya
__ADS_1
"Tangan fisya cuma lecet,gak parah...fisya baik baik aja" fisya mengelak dari masalah
Namun kali ini senyum fisya sudah tidak bermakna lagi di mata hans,hans mengambil handphone nya dan menelpon reza
"Reza! Perintahkan dokter fank ke kantorku! Aku tunggu sepuluh menit lagi" hans mematikan telponnya
Gawat! Dia memanggil dokter,aku sudah tidak bisa mengelak lagi
"Tuan hans, tangan fisya benar benar gak papa, fisya baik baik aja" ucap fisya melambaikan tangannya
Hans melirik perban yang dilumuri darah di tangan fisya
"Diam" ucap hans
Lukanya mungkin cukup dalam hingga darahnya menembus ke perban
"Lebih baik kau jujur kepadaku kenapa luka itu ada di tangan mu atau! Akan ku habisi lelaki yang bersama mu semalam" ancam hans memujuk fisya berbicara
Kak jorgi!
Aku harus jujur kali ini atau kaka jorgi...
Fisya mengumpulkan semua keberaniannya untuk menceritakan kejadian tadi pagi
"Tadi fisya jatuh trus tangan fisya jadi luka" bohong fisya
"Oh ya? Dimana kau terjatuh? Apakah di tumpukkan paku hingga luka itu mengeluarkan darah dan membasahi perban itu?" Tanya hans sinis...
__ADS_1
Bersambung-