
Hans turun dari mobilnya dan langsung masuk ke aula tamu, seperti biasa bibi mun mengambil jaz di tangan hans, dan ada andre yang berdiri dengan membawa nampan yang berisi segelas teh hangat
"Nona fisya sudah menunggu anda tuan!" Ujar andre setelah hans memintum teh nya
Seketika hans berhenti meminum teh dan langsung meletakkan cangkir itu kembali ke atas nampan, seakan akan kaget ini pertama kalinya ia mendengar bahwa wanita itu sedang menunggu dirinya pulang
"Kenapa?" Tanya hans melonggarkan dasinya
"Saya tidak tau, tapi nona sudah beberapa kali bertanya kapan anda pulang" andre tersenyum
Menarik!
"Aku akan menemui nya!" Hans meninggalkan andre dan bibi mun di aula tamu, ia berjalan melewati anak tangga dan menuju pintu hitam di ujung lorong, sembari berpikir kenapa fisya menunggu dirinya
Apa karna masa waktu kontrak itu?
Apa dia belum mengerti bagaimana sistem kontrak itu berlangsung!?
Tampa menunggu lagi hans langsung membuka pintu kamarnya, terlihat fisya tengah duduk di depan jendela yang terbuka sembari menulis di buku kecilnya, ditemani oleh cahaya rembulan yang cukup menenangkan
"Tuan hans sudah pulang?"fisya langsung berdiri dan menutup buku nya
__ADS_1
"Hm..." jawab hans singkat melepaskan dasi di kerah kemeja nya
"Oh iya lupa!, selamat datang" fisya tersenyum manis dengan kedua tangan yang memegang buku di belakang pundak,
Ia terlihat sangat anggun dan berbeda dari biasanya, ditambah lagi hembusan angin yang lewat dari jendela itu membuat rambut fisya ikut tertepa mengikuti arah angin datang.
Ada apa dengan dirinya?
"Apa kau suka handphone nya?" Tanya hans mengambil handuk di lemari
"Fisya suka!" Ujar fisya, melihat hans melewati dirinya dan berjalan menuju kamar mandi
Jantung nya berdetak kencang, ia sudah berlatih seharian untuk menunggu hans pulang, dan seketika hans pulang kenapa sangat berat mengatakannya?
Hans tidak berbalik arah, berdiri membelakangi fisya dengan ujung baju yang fisya tarik,menunggu wanita ini berbicara atau semacamnya
"Terimakasih!" Suara fisya sangat lembut dan pelan hampir saja tidak terdengar oleh hans
Hans berbalik arah, memandang fisya yang menunduk, membiarkan rambut itu menghalangi wajahnya
"Kenapa?" Tanya hans sedikit membungkuk, mendekatkan diri kepada fisya untuk mendengar suaranya agar lebih jelas lagi
__ADS_1
"Fisya bilang...terimakasih" ia tetap menunduk
Hans terkejut, karna malam ini fisya benar benar berbeda tapi justru hans lebih suka fisya yang sekarang dibandingkan fisya yang selalu mengacuhkan dirinya.
Hans memalingkan pandangannya dan menepuk nepuk pelan kepala fisya
"Ada apa dengan dirimu!" Tanya hans masih menepuk nepuk kepala fisya
Tolong jangan buat ini semakin rumit lagi!
Selintas fisya teringat kembali perkataan lisa, hari ini kalimat itu selalu datang dan menghantui fisya,hingga ia merasa sangat bersalah
"Fisya minta maaf!" Sekarang ia malah meminta maaf, semakin membuat hans menjadi bingung
"Untuk apa?" Tanya hans menurunkan tangannya dari kepala fisya dan memasukkan tangan itu ke dalam saku celana
"Soal kak jorgi siang tadi!" Fisya mengangkat kepalanya dan kini mereka saling bertatapan
Fisya yang berusaha keras agar menyampaikan setiap hal yang mengganjal di hatinya, tapi ia masih menyembunyikan status hubungannya dengan jorgi, karna fisya tidak ingin jorgi berurusan lebih dalam dengan hans.
"Aku tidak bisa menerima maaf mu!" Ujar hans dingin...
__ADS_1
Bersambung-