KAU Adalah MILIKKU

KAU Adalah MILIKKU
Handphone baru


__ADS_3

"Nona fisya! " andre masuk ke ruang makan untuk menemui fisya yang tengah berberas beres


"Iya!?" Jawab fisya lembut dan menghentikan kerjanya sejanak


"Saya ingin memberikan ini kepada anda dari tuan hans, dan tuan hans berpesan untuk tidak menyimpan banyak nomor di dalamnya" andre memberikan kotak handphone ke pada fisya


Sejenak fisya terdiam kaku memandang kotak handphone yang andre pagang itu, ia benar benar tidak percaya hans akan membelikan ia handphone secepat ini, tampa pikir panjang fisya mengambil kotak itu dan membukanya.


Terlihat di sana, handphone dengan warna black berpadu dengan blue, sangat mewah dan masih tersegel.


"Wah! Handphone mu sama seperti punya lisa!" Ujar reza ikut menguntit dari belakang fisya.


"Jika begitu! Saya pamit undur diri!" Andre pergi meninggalkan fisya di ruang makan.


Sedangkan fisya,masih terpaku melihat handphone di tangannya, ini adalah handphone yang sangat ia inginkan sejak dulu, sejak pertama kali handphone ini di buat.ia terlalu senang hingga kehabisan kata kata.


"Andre!" Panggil fisya

__ADS_1


"Bisakah,...kau, mengucapkan terimakasih dari ku untuk tuan hans?" Tanya fisya menunduk


Andre berhenti dan memandang fisya, kemudian ia tersenyum dengan kedua tangan di belakang punggung nya


"Untuk hal itu! Saya tidak bisa melakukannya!


Ada baiknya anda mengatakannya sendiri setelah tuan pulang nanti!" Andre melanjutkan jalannya


Fisya masih berdiri, menunduk malu karna ia mengatakan hal itu didepan teman teman hans, pipinya memerah dan terasa panas di area wajah


"Santai saja!, tidak perlu berterimakasih juga tidak apa apa!" Reza menepuk pundak fisya


"Itu bukan hak mu bodoh!" Ujar aron kesal menyeret reza menjauh dari fisya


"Bisakah kau tidak mempermalukan ku sehari saja!" Aron mendudukkan reza di kursi makan dan terus mengoceh berlagak sedang memarahi seorang anak buah.


"Fisya! Bisakah aku berbicara dengan mu di taman sebentar?" Tanya lisa menarik lengan fisya yang masih terpaku memandangi reza dan aron yang tengah berkelahi

__ADS_1


"Dan! Tidak perlu menghawatirkan mereka! Percayalah itu sering terjadi" lisa meyakinkan fisya


Fisya mengangguk, mengikuti lisa yang mulai menarik tangannya berjalan meninggalkan ruang makan, menyelusuri aula tamu dan tiba di kolidor, mereka berjalan menuju bangku taman di dekat pagar besi rumah hans, dan ini pertama kalinya fisya pergi ke taman ini, sebelumnya ia tidak menyempatkan diri untuk berkeliling rumah ini.


"Duduklah!" Ujar lisa yang duduk di kursi taman berwarna putih dan meminta fisya untuk duduk di sebelahnya, fisya menurut dan ikut duduk di sebelah lisa, mereka hanya berdiaman menunggu salah satu dari mereka ambil suara.


"Bagaimana perasaan mu?" Tanya lisa membuka topik pembicaraan


"Fisya senang!"singkat jawab fisya memandang handphone di tangannya


"Syukurlah jika begitu!" Lisa memandang langit yang cerah tampa awan itu, sembari tersenyum kecil, seakan akan tengah menyembunyikan banyak kebahagiaan dibalik senyum sederhana itu.


"Apa kau tau kalau hans mencintai mu!" Sesontak perkataan lisa mengejutkan fisya


"Dia tidak pernah seperti ini!, tapi sejak ada kau perlahan hans mulai berubah dan baiknya lagi emosinya sudah mulai terkontrol!" Lisa melihat fisya


Ia hanya menunduk, membiarkan rambut panjangnya terjuntai menutupi ekspresi wajah nya, membuat lisa menjadi kesusahan untuk menebak perasaan fisya setelah ia mengatakan hal itu...

__ADS_1


Bersambung-


__ADS_2