
Bab 165 Sihir
Xiao Chen dan Hua Ning Bing sudah meninggalkan Nalan Yanran dan dia meninggalkan Nalan Yanran langsung pergi ketempat penginapannya.
Walaupun Xiao Chen tidak tertarik Nalan Yanran, tetapi dia juga tidak ingin melontarkan.
Di penginapan!
“Aku akan menyimpan busur ini dan dijadikan sebagai senjata terakhir atau senjata jarak jauh. Sekarang kamu tidurkan aku akan mengidentifikasi lonceng ini,” kata Xiao Chen kepada Hua Ning Bing.
Hua Ning Bing langsung beranjak tidur. Hanya saja pandangannya masih tertuju kepada Xiao Chen yang sedang mengamati lonceng ajaib.
“Tulisan yang berada di lonceng ini tidak seperti tulisan dunia pendekar. Mungkin ini adalah berasal dari dunia lain.” Xiao Chen bergumam sambil membolak-balik lonceng tersebut.
Xiao Chen mencoba menyimpan terlebih dahulu. Dia akan mempelajari sambil menggeluarkan kertas dan menyalin rune aneh yang menempel di lonceng tersebut.
Hanya saja Xiao Chen menulis menggunakan darah sendiri. Itu bertujuan agar dia bisa mempelajari dengan mudah sehingga Otak jenius bisa merekam dan mensimulasikan.
Satu jam berlalu ....
Tiga jam berlalu ....
Akhirnya enam jam berlalu, Xiao Chen sedikit bisa mengidentifikasi walaupun hanya sedikit. Yang Xiao Chen tahu, bahwa rune itu adalah rune yang sama persis jimat Jiang Chen. Hanya saja media pengaktifan tidak menggunakan jiwa pendekar.
Untuk mengaktifkan mengunakan sebuah energi yang sangat aneh dan Xiao Chen tidak tahu energi apa tersebut.
Akan tetapi, Xiao Chen yang berasal dari dunia modern seperti tidak asing dengan istilah energi tersebut. Karena energi yang dimaksud adalah mana.
Bahkan Mana dan Jiwa pendekar masih sama hanya saja penamaan yang berbeda. Tetapi dalam bentuk fungsi berbeda.
__ADS_1
Untuk jiwa pendekar, semakin tinggi level pendekar tersebut, semakin kuat dan dengan level pendekar yang tinggi, maka sudah bisa mempelajari lapisan jurus.
Dapat dikatakan semakin tinggi level pendekar, maka dia memiliki kekuatan dan ketrampilan yang kuat juga.
Tetapi, untuk mana semakin tinggi manusia yang bisa menyerap mana, maka semakin besar dia mengendalikan objek sesuatu. Karena setiap benda yang adal di alam semesta memiliih mana yang bertebaran.
“Inu sungguh sangat hebat. Darimana lonceng ini berasal? Apakah diluar sana ada dunia lain selain dunia pendekar?” gumamnya sambil memegang dagu yang tidak memiliki jenggot.
Kemudian Xiao Chen mempraktekkan agar bisa merasakan mana. Karena mana adalah energi alam dan energi pendekar, berasal dari dalam tubuh manusia dan monster ketika baru lahir.
Maka tentu saja sifat karakteristik yang berbeda sehingga jika Xiao Chen bisa mengendalikan ruang tersebut adalah hal yang sangat membahagiakan.
Mata Xiao Chen langsung menutup rapat dan mencoba merasakan mana. Xiao Chen yang sedang terpejam matanya kadang-kadang wajahnya memiliki tampang yang serius. Kadang suka memiliki wajah yang sangat jelek dan bingung. Semua ekspresi wajah sudah dipraktekkan oleh Xiao Chen beberapa kali setelah mencoba merasakan mana.
Bahkan Hua Ning Bing yang mencoba tertidur, dia tidak bisa menahan untuk berkerut setelah melihat Xiao Chen yang sedang memejamkan matanya.
Xiao Chen saat ini yang sedang mempelajari mana, seperti ingin mendapatkan sesuatu tetapi tidak bisa meraihnya sehingga raut wajahnya sedikit berubah-ubah. Tetapi dia tidak menyerah sampai benar-benar Xiao Chen bisa menguasai mana tersebut.
Hanya saja ketika dia hendak menyerah, tiba-tiba jiwa pendekarnya tanpa sangaja memasuki keadaan terbuka dan ada seperti ada lubang pusaran hutam yang mencoba keluar. Untaian energi pendekarnya keluar seperti bocor sehingga Xiao Chen berkerut.
Pada saat ini, Xiao Chen seperti memasuki kedalam semedi yang lebih dalam sehingga pandangannya langsung gelap. Sepertinya ruh keluar dari tubuhnya dan sudah di pindahkan ke tempat yang aneh penuh dengan cahaya pelangi yang.
“Cha apa itu?” Xiao Chen berkerut langsung meraih bola itu. Hanya saja tangannya tembus dan tidak bisa menggapai.
Xiao Chen terus menerus mengunakan tangan untuk meraih cahaya pelangi yang sangat luas hanya saja itu tidak berhasil.
Kemudian Xiao Chen mencoba berpikir kemudian dia menggunakan pikirannya untuk menggerakkan energi pendekar yang keluar terus-menerus dari tubuhnya untuk meraih cahaya pelangi tersebut.
Bom!
__ADS_1
Pada saat itu, tiba-tiba energi pendekar langung membuat gerbang ke dalam tubuh Xiao Chen seperti membuat pusaran yang baru dan mencoba menyerap cahaya pelangi itu.
Bom!
Di luar sana Hua Ning Bing merasakan ada perasaan aneh yang berada di sekelilingnya dia mencoba menoleh ke kiri dan kanan, tidak menentu susuatu yang janggal.
Pada saat ini, Xiao Chen membuka mata dengan tatapan yang sangat puas.
“Hahaha aku sudah menjadi penyihir level satu.” Xiao Chen tertawa terbahak-bahak. Walaupun menjadi penyihir atau menjadi pendekar tidak ada perbedaannya karena Xiao Chen hanya mengandalkan jimat untuk berurusan dengan musuh. Meskipun demikian, dia bahagia karena bisa menguasai mana.
“Apakah kamu tidak apa-apa? Sepertinya kamu menjadi gila sekarang?” Hua Ning Bing cemberut bahkan dia sudah menjelaskan Xiao Chen sudah bersemedi sekitar dua hari.
Akhirnya Xiao Chen terkejut, “Aku sudah bersemedi dua hari? Jika seperti itu, bukankah besok aku akan datang ke sekte Lembah Phoenix Kematian untuk menantang Feng Huang?”
“Benar." Hua Ning Bing menganggukkan kepalanya.
Xiao Chen terkejut hanya dirinya menjadi penyihir peringkat satu bisa membutuhkan bersemedi dua hari lamanya. Karena waktu yang sangat mepet, Xiao Chen tidak membiarkan bersantai dan melatih agar bisa mengendalikan mana supaya bisa menggunakan berbagai jenis elemen dan tentu saja Xiao
Untuk menggunakan mana agar bisa digunakan keperluan bertarung, Xiao Chen sudah mendapatkan pencerahan melalui otak jenius. Dia hanya menuliskan mantra.
Untuk mantra, itu berbeda dengan jimat. Karena mantra seperti puisi dan memiliki pengulangan kata lebih dari dua.
Jika jimat hanya menggunakan tulisan yang sudah diberi oleh Jiang Chen dan digunakan hanya mengalirkan energi pendekar sehingga sangat praktis.
Maka dari itu, Mana sungguh sangat merepotkan sehingga Xiao Chen sudah memutuskan tidak terlalu sering menggunakan mana sihir tersebut untuk merapalkan mantra.
Coba kamu bayangkan ketika sedang bertempur kamu mah hafalkan mantra belum sempat selesai tiba-tiba sudah dipukul oleh musuh. Maka kamu akan begitu emosi bukan?
Tetapi Xiao Chen ingin meningkatkan bakatnya dalam hal segala aspek sehingga keterampilan sihir bisa digunakan semaksimal mungkin akan mendapatkan hasil yang tak terduga.
__ADS_1
Sekarang dia hanya menunggu waktu untuk melawan Feng Huang sehingga tatapannya sungguh sangat dingin dan tidak sabar untuk mengambil tulang yang sudah dicangkokkan ditutup Feng Huang.