Kultivasi Fana

Kultivasi Fana
Bantai


__ADS_3

Bab 72 Bantai


Di malam hari, Xiao Chen yang sudah memiliki jiwa pendekar hampir level sepuluh, seketika dia terbang sungguh sangat cepat.


Dengan memakai topeng yang lebih elegan, serta ada tanda merah di tengah-tengah topeng itu, membuat siapapun yang melihat akan merasakan tersihir.


Setiap lesatan Xiao Chen ada gelombang residu sedikit merah.


Xiao Chen sudah tiba di depan rumah besar keluarga Wang. Di saat itu, terdapat penjaga yang sangat ketat. Mungkin saja akibat Insiden kematian anaknya sehingga sekarang memiliki pengaman yang Extra.


“Hmm banyak penjaga yang berpatroli? Ini sungguh bagus untuk membunuhnya,” Didalam topeng itu, Xiao Chen tersenyum kemudian langsung melompat dan sosoknya menghilang.


Hanya membutuhkan beberapa saat, Xiao Chen sudah di depan beberapa penjaga dan...


"Bam!"


Kepala dua penjaga langsung menggelinding seperti bola. Bahkan, kedua kepala itu masih matanya membuka seseolah dia belum merasakan kematian. Dan sesaat kemudian baru menyadari bahwa ada yang salah.


”Pembunuhhh!” Kepala yang terlepas langsung ingin berteriak. Sayangnya, suara itu hanya lirih sehingga tidak ada yang menyadari.


Setelah Xiao Chen memenggal kepala dua penjaga, langsung melompat menyamping untuk membunuh beberapa penjaga yang sedang berjalan-jalan mengelilingi rumah istana keluarga Wang.


“Hmmm kena kamu!"


"Sring!"


Xiao Chen langsung membelah tubuh penjaga itu yang sedang berjalan-jalan di sekelilingnya istana keluarga Wang dari atas kepala sampai ke bawah sehingga bagian kanan dan kiri, tubuhnya terpisah.


"Engah!"


Tangan kiri Xiao Chen langsung menyerap darah jasad itu sehingga hanya beberapa saat mungkin saja akan menerobos pendekar Level 10.


Teknik iblis samsara mengakumulasi darah sehingga akan berguna jika kepala atau leher meledak bisa disatukan kembali. Untuk anggota lainya seperti tangan terputus atau kaki terputus, masih bisa menggunakan jimat pemulihan diri.


Karan merasakan teralu lama, Xaio Chen langsung memerintahkan semut Rangrang untuk menyebar dan memasang jimat peledak satu persatu sehingga untuk membunuh, sungguh sangat efisien.


Lusinan semut keluar dari tubuh Xiao Chen sehingga seperti keluarga Aburame di serial Naruto.


Hanya membutuhkan dua batang dupa, akhirnya berapa jimat sudah dipasang seluruh kepala dan wajah para penjaga. Bahkan tidak dipungkiri pelayan wanita atau laki-laki dari keluarga Wang tidak pernah luput dari serangan pembantaian.

__ADS_1


”Hahahah!” Xiao Chen tertawa terbahak-bahak kemudian mengangkat tangannya, setelah itu ketika kedua jari dijentikan, seketika banyak ledakan manusia yang kepalanya meledak.


"Bom!"


"Bom!"


Bahkan, beberapa penjaga yang belum meledak dan melihat keberadaan Xiao Chen hendak menyerang, seketika meledak kepalanya dan menciprat ke seluruh bajunya.


”Hahah! Mati semuanya, ini akibat berurusan dengan keluarga Xiao ku," kata Xiao Chen sambil berjalan disetiap lorong dalam rumah untuk mendekati ke arah Wang Xiang.


Wang Xiang mungkin dekat dengan patriak Wang. Namun, sebelum itu dia melihat ada keluarga Wang yang masih kecil seumuran 6 sampai 8 tahun sambil menangis melihat ayah dan ibu meninggal dengan kepala meledak, hanya menggelengkan kepalanya.


Anak itu tidak menyadari kedatangan Xiao Chen, sehingga tanpa berbasa-basi, Xiao Chen memenggal kepala anak itu dari belakang.


"Sring!"


Kepala anak itu menggelinding sambil melihat kearah dirinya dengan tatapan polos tetapi ada sedikit ketakutan. Namun pada akhirnya tidak membutuhkan beberapa saat langsung menutup mata selamanya.


Xiao Chen menghela nafas, ”Kamu anak yang lucu dan menggemaskan. Sayangnya kamu berasal dari keluarga Wang heheh maka maafkan aku jika membunuh mu nak, itung-itung kamu akan melihat kedua orang tuamu di neraka Yama hahaha!”


Xiao Chen kemudian langsung berjalan lagi untuk menuju ke ruangan yang terdalam untuk menemui Patriak Wang dan Wang Xiang.


Ketika sedang berjalan, Xiao Chen menemukan ada kamar yang berisikan suami istri. Namun di pihak istri itu, sedang memeluk bayi dengan sangat erat.


“Aku...” Wanita itu, terbata-bata. Ketika hendak berdiri, seketika ada rasa yang menyayat sehingga langsung terjatuh.


Xiao Chen tahu bahwa dia masih masa persalinan, kemudian tangannya langsung menyentuh tubuh wanita itu dan seketika rasa sakit di bagian vitalnya sembuh.


Tanpa berbasa-basi, wanita itu mengambil bayinya dan pergi dengan lari sangat cepat.


Setelah melihat wanita itu melarikan diri, Xiao Chen langsung berjalan lagi. Semua keluarga Wang sudah meledak kepalanya. Bahkan hanya mengisahkan patriak Wang dan Wang Xiang.


Sampai beberapa waktu lamanya, akhirnya Xiao Chen sampai di tempat istana yang sangat megah. Di sana banyak tetua-tetua yang sudah mati kepalanya meledak.


Pada saat itu, Patriak Wang sedang tertawa terbahak-bahak. Tetapi, ada mata air yang mengalir sangat deras.


“Hahah keluarga Wang ku musnah, keluarga Wang tempat aku lahir, sekarang menjadi nama hanya menyisakan aku saja! Hahaha!” Di samping Patriak Wang, ada Wang Xiang yang sedang berlutut sambil terengah-engah seseolah tidak mempercayai apa yang sedang dilihat.


Dia berpikir bahwa keluarga Wang tidak pernah memprovokasi keberadaan yang sangat menakutkan, tetapi kenapa keluarga sendiri terkena pembantaian?

__ADS_1


“Sebenarnya apa yang terjadi!” Wang Xiang bergumam.


Akan tetapi, tiba-tiba ada suara yang mencibir dan itu, suara yang sungguh serak dan berat.


“Hmmm sekarang hanya menyisakan kalian berdua yang belum mati.” Xiao Chen memandang kedua orang itu dengan penuh minat sambil duduk di atas meja.


Patrick Wang menoleh ke sumber suara itu. Kemudian melihat ada sosok berpakaian gelap menggunakan topeng. Kemudian dia berteriak ke arah Xiao Chen dengan kebencian yang sangat mendalam.


“Bajingan kamu! Siapa kamu berani sekali membunuh keluarga Wang ku!”


"Ahhhh tidak akan aku maafkan!” Ayah Wang seketika berubah menjadi gila dan melesat untuk menyerang Xiao Chen.


Xiao Chen tidak bergeming dia menggunakan tinju Gajah Prajna Gong yang sudah menerobos ke tahap Ruh. Dengan tinju yang sudah disempurnaka otak jenius, seketika tinju itu memiliki empat kali lipat dari tinju lapisan Ruh pada umunya.


"Bang!"


Xiao Chen menghindari dengan sedikit berjongkok, seketika setelah berjongkok langsung meninju dada ayah Wang.


Sehingga dada itu, tulangnya langsung patah dan organ semuanya ingin rontok.


"Engah!" Ayah Wang terpental keatas sambil memuncratkan darah sangat banyak.


Kemudian, Xiao Chen menggunakan pedang untuk membelah ayah Wang di udara.


"Sring!"


Patriak Wang terbeleah tubuhnya, dan terjatuh seseolah tidak mempercayainya. Wang Xiang sungguh putus asa, dia mendengar dari ayahnya berteriak sebelum pedang itu membelah kepala bahwa menyuruh untuk lari.


Tanpa berbasa-basi, Wang Xiang melarikan diri. Dia berlari sangat cepat sambil menangis karena melihat keluarga dirinya sudah tergeletak tanpa kepala karena meledak.


Xiao Chen melirik seketika seluruh tubuhnya diselimuti Aura jahat merah dan sosoknya menghilang sekejap dan sudah tiba di hadapan Wang Xiang.


Tanpa berbasa-basi Xiao Chen menyelinap langsung mencekik leher Wang Xiang.


“Kamu tidak diijinkan melarikan diri! Hahaha!" Seketika tanganya menyerap jiwa pendekar Wang Xiang. Sehingga pada saat itu, Wang Xiang ingin berteriak tetapi mengalahkan kesulitan.


“Kamu iblis!” Wang Xiang meratapi kehidupannya dia meronta-ronta akan tetapi harapan sia-sia sehingga pada saat itu, dia mendengar suara yang familiar.


“Sampah mati kamu!” Suara itu, dirinya ingat karena suara itu adalah suara milik seseorang yang dirinya suka menghina dan menyiksa. Benar suara itu ada suara Xiao Chen yang sering dijuluki sampah.

__ADS_1


Tatapi dirinya tidak menyangka bahwa sampah itu sekarang berubah menjadi iblis yang membantai seluruh keluarganya.


Jika waktu bisa diputar, dia tidak akan segan untuk melakukan hal bodoh seperti itu.


__ADS_2