Kultivasi Fana

Kultivasi Fana
Bab 266


__ADS_3

Bab 266


Karena semua murid yang Belum terbiasa melihat pembunuh itu, mau tak mau para panutua menghentikan acara pesta yang begitu meriah dengan berat hati.


“Nona Hua. Maafkan atas ketidaknyamanan Anda. secara yang semeriah ini akan berakhir kurang menyenangkan.” panutua itu berkata dengan wajah malu kepada Hua Ning Bing.


“Tidak apa-apa. Sepertinya sebagaian murid belum terbiasa akan masuk akal jika merasa muntah,” angguk Hua Ning Bing. Setelah itu, peri Xuanyi langsung membawa Hua Ning Bing ke tempat gubuk pribadi.


Gubuknya sungguh bagus dengan gaya Tiongkok kuno. Dengan dinding dicat menggunakan warna merah ada benda seperti lampion yang menggantung disetiap sudut gubuk itu.


“Ayo kita masuk. Kebetulan gubuk ku luas bisa menampung dua atau tiga orang,” kata Peri Xuanyi dengan lembut.


“Hmmm!” Hua Ning Bing mengangguk dan mengikuti Peri Xuanyi masuk ke dalam gubuknya.


Untuk Hua Ning Bing belum pergi dari Sekte Awan Melonjak. Karena keluarga Gongsun mungkin tidak tinggal diam. Akan tidak sopan juga setelah kamu diberikan hidangan makanan yang begitu meriah dan kamu terlibat dalam pembunuh Gongsun Wu. maka status sekte ini tidak baik-baik saja.


~


~


#Rumah Xian Guo!


Xiao Chen sekarang sudah memberikan sebuah cincin persimpangan dimensi kepada Xian Miaomiao. Sekarang setelah sudah beres semua, dan dia juga merasakan bahwa Ye Tian dan yang lain sedang mendekat, mungkin tidak apa-apa jika dirinya pergi untuk menjemput Hua Ning Bing.


Xiao Chen meminta izin untuk pergi dua hari dan mereka tidak mempertanyakan kepergian Xiao Chen. Setelah mendapatkan ijin, Xiao Chen terbang dan menggunakan jimat pelacak untuk mengetahui keberadaan Hua Ning Bing.


Wajahnya sungguh aneh, mungkin hanya dia saja yang terpencar paling jauh. Xiao Chen sengaja menyempaing agar tidak berpapasan dengan Beiming Youhuang maupun Wenren Wushuang. akan sangat merepotkan jika dua wanita itu ikut.


Apalagi Beiming Youhuang sudah satu bulan lebih belum dimanjakan tubuhnya. Tentu saja dia akan mengamuk dan akan membuka baju tanpa melihat disekitarnya.


Xiao Chen tidak ingin seperti itu, walaupun dirinya mengagumi kecantikan, tapi harus berpikir matang untuk melakukan sesuatu apalagi melakukan percintaan.


Ketika Xiao Chen sudah lama terbang dia melewati sebuah gurun salju, dan dia juga tahu bahwa guru salju ini mungkin saja perbatasan antara dua kekaisaran.


apalagi banyak orang-orang yang masih mencari sesuatu di perbukitan Gunung. Bahkan dia melihat berbagai darah yang masih segar tetapi membeku akibat efek dingin.


Menurut jimat pelacaknya tempat ini awal-awalnya adalah tempat di mana Wenren Wushuang terjatuh dan semedi di perbukitan ini selama kurang lebih satu minggu.


Kenapa dia bersemedi dirinya tidak tahu tetapi melihat dari satu kerumunan pada banyak para pendekar yang mencari sesuatu akhirnya Xiao Chen bertanya-tanya kepada diri sendiri apakah Wenren Wushuang mendapatkan harta karun? Kenapa saya tidak mendapatkan harta Karun seperti yang lain?


Mi Qiongqi mendapatkan kuali Abadi.


Yang Zhiqing mendapatkan warisan Pedang dari Sekte Dewa Perang. Untuk anggota yang lain, Xiao Chen tidak mengetahuinya.

__ADS_1


Xioa Chen mengabaikan kerumunan pendekar itu, dia melaju terbang sampai di tempat gurun salju yang sangat dingin tiba-tiba mendengarkan suara bayi yang menangis-nangis.


"Ada bayi?” Xiao Chen mengerutkan keningnya. Salju ini sangatlah dingin dan sangatlah tebal Bagaimana mungkin ada bayi yang menangis di tempat ini?


Xiao Chen langsung menukik ke bawah mencari sumber suara tangisan itu. Satu menit Xiao Chen berjalan mendekati suara itu yang sepertinya di sebuah balik batu besar.


Betapa terkejutnya, setelah Xiao Chen datang ke sumber suara bayi yang sedang menangis tetapi di sampingnya ada ibunya yang sedang memeluk sangat erat tetapi, sudah meninggal dalam keadaan beku.


Wajah wanita itu tetap cantik maupun tidak jelek tetapi masih enak dipandang.


“Memang. Kasih ibu tidak terbatas sampai akhir hayat. Ibu yang terkasih semoga kamu hidup bahagia di alam atas aku akan mengambil bayi ini dan merawatnya." Xiao Chen meraih dan menemukan bahwa tangan wanita itu memegang kalung berwarna merah dan bertuliskan Renfeng.


Xiao Chen mengangguk dan berkata: “Baiklah bayi kecil, kamu sekarang memiliki nama Xiao Renfeng.”


Begitu diucapkan, Xiao Renfeng entah kenapa tertawa sehingga Xiao Chen menganggap bahwa bayi itu sangat menyukai nama yang baru.


"Baik aku akan memberikan sebuah selimut agar kamu tidak dingin.” Xiao Chen mengeluarkan artefak serba guna hanya dengan pikirannya, artefak itu berubah menjadi jaket yang sangat hangat, bentuk jaket itu seperti ada pengikat ke pinggang Xiao Chen.


Xiao Chen mengikat dan kembali terbang untuk melanjutkan perjalanan lagi.


Semakin maju, Xiao Chen merasakan bahwa salju itu begitu sangat dingin. Xiao Chen juga melihat bahw Xiao Renfeng sepertinya sedang kelaparan.


Memasuki retakan ruang, Xiao Chen langsung mempersingkat waktu langsung melewati lembah bersalju yang sangat dingin.


Sebelum memasuki kota itu, Xiao Chen melihat ada sekawan domba dengan tinggi tiga meteran sedang memakan rumput.


“Hehhe!" Xiao Chen punya ide langsung mendekati domba itu langsung mencari domba betina tanpa pikir panjang langsung memerah susu itu.


Spalsh!


Air susunya cukup banyak sekali tekan dan kandungan susu di dunia pendekar lebih kaya karena dunia sekarang banyak mengandung aura.


Setelah Xiao Chen cukup banyak mengambil susu itu, dia membakar dan merebusnya.


Dengan kekuatannya, dia bisa mengeluarkan api. Setelah beberapa menit, ketika susu itu mendidih, Xiao Chen menggunakan jimat pendingin.


Hmmm!


Xiao Chen mengangguk dan mengambil kain bersih dan dicelupkan ke susu yang sudah dingin. Setelah itu, kain yang bersih ditekan sedikit sehingga air susu keluar dan menetes ke mulut Xiao Renfeng.


Xiao Renfeng meminum air itu sungguh sangat lahap dan Xiao Chen yang melihatnya juga terkejut dan mengangguk dengan lembut.


Xiao Chen sudah memberikan nutrisi kepada Xiao Renfeng, langsung meloncat ke arah kota itu.

__ADS_1


Seketika setelah pergi masuk kedalam kota Gaobao, banyak sepasang mata yang memandang ke arah Xiao Chen dengan tatapan luar biasa.


Wajah yang tampan dan cantik, rambut panjang dengan perpaduan putih hitam, apalagi jubah hitam itu membuat Xiao Chen terkesan seperti pria misterius.


Xiao Chen memasuki sebuah bar makanan dan memesan beberapa hidangan. Penampilan Xiao Chen membuat kagum para pekerja bar makanan itu. Sambil menunggu makanan tiba, Xiao Chen mengambil kalung liontin merah yang terpasang di Xiao Renfeng.


Liontin itu hanya liontin biasa dan didalamnya hanya ada corak rumput yang biasa. Tetapi karena itu peninggalan dari ibu Xiao Renfeng, maka Xiao Chen harus menyimpan dengan hati-hati.


Ketika hidangan itu sudah tiba, Xiao Chen juga melahap dengan tenang tanpa terburu-buru. Dalam bar makanan ini terdapat irama musik yang sangat merdu yang dilakukan oleh wanita bercadar.


Bahkan banyak tamu yang memberikan tips kepada wanita itu, untuk memainkan musik yang tamu sukai.


Tiba-tiba ada tiga pemuda yang cukup tidak baik, dia mendekati ke arah wanita bercadar. "Nona ini adalah sedikit tips buat kamu. Tapi bisakah aku meminta agar penutup wajah yang kamu gunakan busa dilepas?"


”Maaf saya tidak bisa melakukannya." Wanita bercadar itu menolak dengan sopan, tetapi pemuda itu sepertinya sungguh sangat arogan sehingga tidak pikir panjang meraih cadar itu hendak ingin melihat wajahnya.


Wanita itu mendur dan meraih Guqin dan menampar pipi itu hingga berdarah.


Pak!


“Kamu!” Dia muram dan mencoba menyerang wanita itu, tapi tiba-tiba langsung di tampar sangat keras hingga terlempar sejauh enam meteran dan menimpa meja penuh makanan.


Akibatnya, Xiao Chen yang sedang makan menjadi emosi karena Xiao Renfeng tiba-tiba bangung dan menangis.


Menghentikan makanannya, Xiao Chen berdiri dan menyelinap untuk memberi pelajaran kepada pemuda itu.


Pemuda itu sungguh sangat malau, dia maju sambil membawa dua temannya.


Wanita itu waspada dan untuk menyerang satu lawan tiga cukup merepotkan.


Akan tetapi, ada suara dingin yang terdengar.


"Kamu pengganggu! Sudah merusak ketenangan bayi kecil ku!"


Tangan yang putih dan ramping, seketika menampar ke-tiga orang itu hingga berdarah.


Plak!


Kemudian Xiao Chen menampar satunya dibagian leher, sehingga tulang leher patah.


Satu orang yang tersisa sungguh ketakutan dengan serangan Xiao Chen yang tiba-tiba, tapi dia terlambat.


"Jika kamu melarikan diri maka ini akibatnya!” Xiao Chen meraih sumpit dan menjentikkan sumpit itu sampai tembus ke kepala sampai orang itu meninggal.

__ADS_1


__ADS_2