
Bab 298 Jalan Tidak Selalu Mulus
Meong!!
Pada saat ini, ada raungan serigala yang melengking terdengar, dan pada saat yang sama, iblis serigala berdarah tinggi mengembun menjadi bentuk dan menatap ke arah Xiao Chen.
Mata Xiao Chen berkedip, dan sudut mulutnya sedikit terangkat. Tampaknya setiap kali monster dikalahkan, monster yang lebih kuat akan terkondensasi.
"Ayo serigala jelek!” Xiao Chen berteriak sambil mengepalkan gagang pedangnya, dengan niat bertarung di matanya, dan membunuh serigala yang haus darah dihadapannya.
Masih menggunakan satu pedang, Xiao Chen mengalahkan serigala haus darah itu, sambil menyerap esensi jiwa dan darah serigala iblis, dan bergerak maju selangkah demi selangkah.
Sring!
Sring!
Semakin Xiao Chen membunuh monster serigala iblis, semakin kelompok serigala itu datang dan mencoba menerkam kehidupannya.
Serigala iblis memiliki bentuk yang aneh di atas punggungnya memiliki cangkang layaknya kura-kura yang selalu menutupi tubuhnya dengan terik matahari.
Bahkan dia juga memiliki ekor yang keras!
Empat kaki memiliki cakar yang sangat tajam, tentunya bisa menggali gurun yang sangat tandus dan hanya sekejap saja untuk menyamar.
Xiao Chen berlari menghampiri Serigala iblis itu, sambil memutar-mutarkan pedang usangnya dan memotong sekawan Serigala iblis begitu sangat mudah seperti memotong kertas.
Bahkan Xiao Chen menggunakan Tinju Gajah Prajna Gong dan meninju beberapa kali berturut-turut, akhirnya mengalahkan serigala iblis.
Setelah memukul berturut-turut, pedang usangnya langsung ditancapkan ke perut Serigala iblis dan menyerap darah dan esensi kehidupannya.
Tanpa sudah satu jam berlalu Xiao Chen monster di gurun Daning, menyerap lusinan monster yang tak terhingga sehingga tubuhnya merasa ada sedikit peningkatan ranah pendekar.
Bomm!
Jiwa pendekar level empat puluh satu!
Benar saja Xiao Chen menerobos satu tingkatan lagi sehingga menjadi sangat semangat.
Gulu! Gulu!
Dia merasakan bahwa jiwa api hitam juga semakin kuat, dan jiwa kehancuran sepertinya juga sedikit meningkat kekuatannya.
Xiao Chen menyadari bahwa jiwa pendekar naik lima tingkatan, maka jiwa yang lain akan naik satu kali. Alhasil Xiao Chen menunggu empat tingkatan agar jiwa pendekar api dan kehancuran ikut naik satu level.
Xiao Chen mengangguk dan melompat untuk menghampiri Xiao Yun.
Meraih pergelangan tangannya langsung melarikan diri untuk menjauh dari gurun Daning. Xiao Chen percaya jika dia selalu terus-menerus meladeni monster yang ada di gurun ini, dia tidak akan selesai-selesai.
Jimat pelompat digunakan seketika Xiao Chen melompat begitu sangat jauh sambil membawa Xiao Yun.
Sekumpulan monster keluar dari gurun tandus dan meraung marah karena mangsanya sudah tiada, ingin mengejar tapi tidak bisa terbang.
__ADS_1
Alhasil mereka semua kembali membenamkan tubuhnya di balik gurun yang panas.
Lokasinya saat ini sekitar lebih dari keluarga Xiao jauhnya sekitar satu mil, jika dia melakukan perjalanan dengan kecepatan penuh, itu hanya akan memakan waktu kurang dari satu jam.
Tentu saja perjalanan tidak semulus, nyatanya tidak mungkin, pasti akan ada kendala dalam perjalanannya.
Karena suatu ketika Xiao Chen sedang terbang melewati hutan, dia tiba-tiba mendengar suara pertarungan sengit.
Xiao Chen menatap Xiao Yun beberapa saat awalnya, Xiao Chen tidak bermaksud ikut campur dalam urusan orang lain, tetapi pada saat ini, Xiao Yun yang dalam pelukannya tiba-tiba beteriak.
"Xiao Chen itu adalah keluarga ku, kamu harus membantu!”
Apa boleh buat, Xiao Chen sudah melarikan diri dari gurun yang sangat tandus langsung menukik ke bawah untuk menolong orang berkelahi.
"kamu di sini saja, tidak ikut pertempuran. Aku tahu kamu akan menjadi beban." Xiao Chen berkata tanpa basa-basi.
Begitu kata-kata Xiao Chen diucapkan, Xiao Yun cemberut tidak suka. Dia adalah kepercayaan Xu Xuan, dan daerah Daning tentunya tidak tahu siapa Xiao Yun. Tapi entah kenapa dia tidak bahagia jika dikatakan beban oleh Xiao Chen.
Menggertakan giginya, dia berjalan menjauh sambil menginjak-injak tanah sungguh sangat keras, dan selalu mengutuk Xiao Chen di dalam hatinya.
Xiao Chen tidak punya pilihan untuk menolak, akhirnya mendekati ke pertempuran itu. Dia akhirnya melihat secara gamblang.
Total ada tiga orang, dua pria dan satu wanita, mengenakan jubah hitam legam, dengan beberapa luka di sekujur tubuh mereka, dan mereka melarikan diri ke arah Xiao Chen.
“Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri!”
Tiba-tiba, sebuah teriakan keras datang dari belakang.
Dari ketiga orang, salah satunya adalah pemuda kurus langsung berhenti dan membalikkan tubuhnya langsung menghadang orang yang sedang mengejar.
Dia bersujud dan berkata: ”Tidak! Jangan bunuh kami!”
"Apakah kamu bercanda? Kamu sudah mencuri harta telur api, dan kamu juga menjatuhkan telur itu hingga pecah! Jika kamu memberikan telur itu dalam keadaan utuh, kamu semua akan secara baik-baik selamat dari pengejaran kita semua!” Orang itu marah, bahkan setiap kata-katanya mencipratkan air liur yang sangat bau.
"Tidak kakak! Itu salah ku!" Wanita itu berteriak sambil wajahnya pucat, lalu menatap pria berbadan kekar dan melanjutkan perkataannya lagi, "Bunuh aku jika kamu mau.‘’
"Hmph, kamu cukup berani. Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkanmu mati seperti ini. Perjalanan ini, terlalu membosankan. Aku perlu bersenang-senang denganmu, hahaha. " Seorang pemuda botak tersenyum jahat, bahwa mata itu memandang lekuk tubuh wanita yang langsing.
“Tak tahu malu, dasar binatang buas!”
Wanita itu mengepalkan tangannya dengan marah, tanpa sengaja menyebabkan luka, dan mengerutkan kening.
“Haha, gadis kecil, sebaiknya kamu menyerah saja,” kata pemuda botak itu menyeringai dan hendak mengambil tindakan.
"Permisi, um, ada yang ingin saya tanyakan."
Tiba-tiba, sebuah suara datang, dan mata semua orang segera mengikuti suara tersebut.
Mereka melihat seorang pemuda tampan mengenakan jubah hitam berjalan mendekat.
“Nak, dari mana asalmu?” Pemuda botak itu menyipitkan matanya dan merasa sedikit waspada. Pengalaman bertarung selama bertahun-tahun memberitahunya untuk tidak meremehkan siapa pun.
__ADS_1
"Asalku dari negri Konoha!” Tanpa pikir panjang, tangan Xiao Chen berubah menjadi cakar dan diliputi aura gelap langsung menampar pipi orang botak itu.
Plak!
Akibatnya pipi orang dengan kepala botak, langsung lebam merah dan ada sedikit gigi yang copot dia menatap ke arah Xiao Chen.
"Bajingan kecil, aku akan mengambil nyawamu!” Pemuda botak itu berteriak dengan marah, kemudian mengeluarkan pedang merah lalu, tiba-tiba menebas, dan cahaya pedang berwarna merah darah melesat ke udara, seolah-olah ruang itu akan dibelah.
Sring!
Cakar hitam itu sangat menakjubkan, seketika pedang merah ditangkap menggunakan tangan kosong. Xiao Chen menatap ke arah pemuda botak dan tersenyum sinis.
Bang!
Sambil meraung, pedang pemuda botak itu langsung roboh, dan tangan Xiao Chen satunya memukul perut pemuda botak sehingga seluruh tubuhnya terbang keluar seperti kantong sampah yang robek.
Bom! Bom! Bom!
Dia mematahkan lima atau enam pohon besar satu demi satu, dan berguling-guling di tanah beberapa kali sebelum akhirnya berhenti.
“Sialan, bunuh binatang kecil ini!”
Para pemuda lainnya sangat marah, aura mereka meledak, dan dalam sekejap, serangan dahsyat menyelimuti Xiao Chen.
Wusshh!
Xiao Chen masih tenang, kemudian di bawah kekuatan pendekar peringkat tiga puluh enam, telapak tangannya begitu sangat menakjubkan!
Dia menampar selusin orang!
Alhasil mereka terjatuh ke tanah, satu demi satu berjatuhan di sekitar pemuda botak itu dan sambil meringis kesakitan.
“Sialan kau binatang kecil!”
Pemuda botak itu berjuang untuk bangun, terlihat sangat malu.
Wushh!
Tiba-tiba, sesosok bayangan hitam, lewat dan menginjak kepala pemuda botak itu.
Bom!
Kepala pemuda botak itu langsung membentur tanah, dia tersentak kesakitan dan terus meratap.
Ahhh!
Xiao Chen menginjak kepala botak itu sangat keras sampai suara pemuda botak yang tadinya keras semakin lirih dan pada akhirnya dia meminta belas kasih.
“Aku salah, tolong ampuni aku,” ucap pemuda botak itu yang dia hidung sudah mengeluarkan darah cukup banyak.
Para pemuda lainnya juga berdiri dengan susah payah, dan butuh banyak usaha untuk menarik pemuda botak yang menyusup di tanah, setelah itu mereka melarikan diri.
__ADS_1
Setelah sandiwara, Xiao Chen pergi meninggalkan mereka dan berniat menemui tiga orang itu, hanya saja dia melihat ada Xiao Yun yang sedang mengingat ketiga orang tersebut.