
Bab 40 Fujiwara Takumi
Xiao Chen yang masih tersangkut di pepohonan, langsung terbang mendekati kelompok yang menyisakan empat saja.
Xiao Chen sudah tiba di hadapan mereka sambil menatap mengejek.
“Sungguh menyedihkan, kalian seorang orang gila heheh! Kalian kenapa menutupi burung apakah takut terbang? Hahaha!”
“Bocah jangan berbangga dahulu kami tidak apa yang kamu pikirkan, di belakang kami masih banyak kelompok yang senantiasa mengamati mu,” Satu pembunuh, berkata sengit.
Xiao Chen langsung berkata buru-buru, “Kalian ingin membunuhku, aku tidak pernah berurusan dengan mu, siapa yang membayar semua ini?”
“Humpp maaf bocah, sebagai privasi kita semua tidak akan membocorkan siapa yang memerintah kita, karena ini adalah peraturan,” jawab pembunuh tersebut.
Xaio Chen menyipit serius dan berkata: “Baiklah, maka kalian semua matilah.”
"Katsu!"
Xiao Chen berteriak, seketika ada ledakan yang sangat dahsyat langsung menghancurkan keempat pembunuh bayaran tersebut.
"Bam!"
“Walaupun aku tidak tahu yang menyuruh kalian membunuh ku, tapi aku mengerti sedikit. Mungkin ini ada hubungannya dengan keluarga Wang,” kata Xiao Chen matanya sangat jahat dan kedua tangannya mengepal sangat erat karena sudah tidak tahan untuk membunuh keluarga Wang sampai ke akar-akarnya.
Setelah membunuh kelima kelompok pembunuh bayaran, semut Rangrang yang bersembunyi di semak-semak dan ranting pohon, langsung keluar untuk mengerumuni cincangan daging manusia untuk di makan.
“Semakin hari, semakin banyak semut ku yang memecah koloni, dengan Ratu semut yang sudah sepenuhnya menjadi hewan peliharaan ku, maka di masa depan aku tidak perlu takut lagi ketika melawan. Hmm.” Xiao Chen berguman terus menerus, dia tidak bisa membayangkan jika seluruh hutan sudah terkontaminasi oleh semut Rangrang yang di kembangkan.
Setelah itu, Xiao Chen melihat semua Semut Rangrang telah menghabiskan daging pembunuh bayaran sampai darah-darah bersih tanpa tersisa hanya menyisakan tulang belulang.
Kemudian Xiao Chen mengumpulkan tulang-tulang tersebut dan di kubur sedalam dua hasta.
“Malam sudah tiba, saatnya bermpi di sebuah kasur yang keras.” Xiao Chen menggaruk kepalanya, dia sungguh tidak nyaman tidur dengan kasur yang tidak empuk seperti karung pasir.
Jika di rumah sebagai Tuan Muda, tentu saja memilih kamar yang bagus dan kasur yang empuk dan lembut, sayangnya di Sekte semua kualitas kasur sama rata.
Anehnya hanya beberapa nafas, Xiao Chen terlelap tidur dan dia sedang bermimpi melakukan hubungan intim dengan Hitomi Tanaka, di alam mimpi, Xiao Chen memegang gunung yang sangat besar dan memainkannya sehingga gunung 🗻 🗻 kembar itu bergelombang penuh takjub.
Xiao Chen di mimpi itu, sungguh sangat bersemangat dan Tintin yang tidak teralu kecil dan besar, memasuki goa surgawi Hitomi Tanaka yang penuh lendir dan Tintin itu menari di goa surgawi Hitomi Tanaka sungguh licin.
Akhirnya memasuki masa kritis, di mimpi itu, Xiao Chen memuntahkan air suci di dalam goa surgawi Hitomi Tanaka.
"Uhhhhh!"
Xiao Chen membuka matanya dan mendapati bahwa sudah pagi dan dia menemukan pakaian di bawahya sudah basah seperti ompol.
“Aku mimpi basah? Masuk akal juga, umur enam belas sampai dua puluh tahun sebagai laki-laki memiliki darah yang mendidih sangat bagus,” guman Xiao Chen dia mengingat ketika mimpi basah bersama Hitomi Tanaka sungguh ketagihan.
__ADS_1
“Hehehe!” Xiao Chen tersenyum sambil ngiler.
Satu batang dupa berlalu, Xiao Chen berniat pergi kesungai Air Terjun untuk berlatih teknik Penguatan Tubuh Kingkong sekaligus mencuci cairan lengket yang menempel di celananya.
Beberapa saat kemudian....
Xiao Chen sudah tiba di tempat pelatihannya dia memutuskan untuk tidak melatih angkat berat dia hanya melatih kulit agar lebih kencang dan kuat dengan memasuki air terjun untuk menimpa ke tubuhnya.
Berat serangan air terjun sungguh kuat bahkan jika kamu menaiki motor dan ketika hujan lupa membawa jass hujan akan merasakan sakit ketika rintikan hujan mengenai tubuhnya.
Sekarang itu hanyalah setetes air hujan. Namun, Xiao Chen menggunakan air terjun untuk melatih kulit agar lebih keras, jika itu kamu, tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya.
Xiao Chen langsung meluncur untuk mendekatinya air terjun, baru saja memasuki air terjun, tubuh Xiao Chen langung terpental dan hanyut lagi.
Xiao Chen mencoba lagi. Namun hasilnya sama, langsung terpental dan terbawa arus yang sangat deras.
Sepuluh kali melakukan percobaan, hanya satu kali yang berhasil, itupun hanya tahan sepuluh nafas saja.
Dari pagi sampai menjelang siang, Xiao Chen hanya bisa menahan terjangan air terjun selama dua puluh nafas.
Tepat dua puluh nafas, Xiao Chen memuntahkan satu teguk darah dari mulutnya langsung terbawa air yang sangat deras.
Ketika satu tegukan darah keluar, Xaio Chen sepertinya merasakan ada energi dari urat-urat langsung menyebar keseluruh tubuh seperti obat anestesi sehingga rasa sakit yang diakibatkan terjangan air terjun langsung mereda.
Xiao Chen sudah menduga bahwa sekarang walaupun bertatahan sebanyak dua puluh nafas, ketangkasan kulit sudah berhasil dan dia merasakan kekuatan yang menyelimutinya seluruh permukaan kulit.
Xiao Chen sudah melihat bahwa ada dua ikan sedikit besar langsung tersenyum bahagia.
“Hmmm makan pagi akan dimulai,” Xiao Chen tersenyum dan melepas semua baju langsung burungnya di tutupi menggunakan daun pisang yang melingkari seluruh pinggang.
Xiao Chen mengambil ikan tersebut, langsung tangannya di celupkan ke dalam air, seketika ada listrik yang keluar dari tangan sendiri sehingga seketika dua ikan itu mati.
Setelah menyetrum ikan, Xiao Chen meraihnya langsung di sayat, mengeluarkan jeroan.
Ranting pohon kecil sudah ada, kamu hanya meraih dan dikumpulkan untuk menjadi api unggun. Setalah itu, kamu hanya menggunakan api untuk membakar ikan tersebut.
Dua batang dupa berlalu, akhirnya kedua ikan itu sudah matang dan Xiao Chen langsung meraih mengunakan bilah kecil.
“Hmmm sangat harum,” guman Xiao Chen matanya berbinar-binar. Kemudian Xiao Chen memasukan daging ikan yang sangat lembut.
"Oahh! Oahh! Oahh! Vanas! vanas!" Xiao Chen kepanasan akan tetapi, di wajahnya memiliki jejak kegembiraan.
Suasana ini sungguh sangat nyaman, di hutan ini sungguh sepi hanya Sada suara air terjun yang menemani Xiao Chen.
Ketika sedang menikmati satu suap terakhir ikan, tiba-tiba ada pemandangan aneh yaitu, ada angin yang sangat besar sehingga menerjang dirinya dan kedua pakaiannya terhempas sangat jauh.
"Bajingan baju ku!"
__ADS_1
Xiao Chen melompat seperti Homo Sapiens karena hanya memiliki daun pisang yang melingkari pinggangnya.
Ketika Xiao Chen melompat angin itu bertambah kencang sehingga baju yang sedang di jempur, semakin jauh.
Xiao Chen masih bersikukuh, sampai pada akhirnya ketika dia mengejar tiba di suatu tempat yang memiliki hutan tidak terlalu lebat dan rimbun tapi, Xiao Chen sepertinya mendengarkan pertarungan.
Xiao Chen sama sekali tidak peduli dengan pertarungan mereka yang dia pedulikan adalah sebuah pakaian untuk menutupi seluruh badannya.
Sayangnya, ketika Xiao Chen sudah berpikir tidak akan mengurusi masalah pertarungan mereka apa yang ingin membuat muntah darah adalah, kedua baju itu tiba di samping orang yang sedang pertempuran.
“Hmmm sial, aku harus berhati-hati untuk mengambil bajuku,” gerutu Xiao Chen langsung bersembunyi-sembunyi lewat semak-semak agar tidak ketahuan.
Di pertempuran....
"Bom!"
Ledakan demi ledakan, dari kedua belah pihak sedang mengeluarkan jurus-jurus andalannya sehingga, ada kilatan cahaya berwarna-warni dari jurus tersebut mengenai satu sama lain.
”Serhkan inti binatang monster itu kepada ku, makan akan ku ampuni nyawa kalian,” pekik Pemuda yang memiliki rambut panjang dan berwarna biru kepada tiga kelompok yang salah satunya wanita.
“Kamu sungguh serakah, kita adalah sebuah tim yang berkelompok. Kenapa kamu menjadi berkhianat, bukankah jika ada inti monster kita akan dibagi sama rata, tapi kamu ingin memiliki semuanya! Itu tidak mungkin, karena itu tidak sebanding dengan tenaga yang kita lakukan!” Satu orang yang beranggotakan tiga kelompok, yang masih bertahan, berkata dengan terus terang kepada Pemuda yang memiliki rambut biru.
Pemuda yang memiliki rambut biru bernama Bai Xuan, dia adalah pemuda yang kekuatannya sudah pendekar level sembilan dan ketiga kelompok itu masih di bawahnya.
Karena memiliki keunggulan level, Bai Xuan menjadi arogan dan sombong.
Sekarang melihat ketiga kelompok masih bersikeras untuk mempertahankan inti dari monster tersebut akhirnya dirinya hanya menggelengkan kepala dan mengancam. “Ok jika kamu tidak patuh, maka kamu mati.”
”Teknik Pedang Mimi Peri!"
Tangan kanan Bai Xuan langsung mengayunkan pedang dan kecepatan pedang itu sungguh mengerikan sehingga ketiga kelompok itu menggunakan semua kekuatan untuk menghala.
"Bam!"
Ketiga orang masih selamat tapi semuanya mengalami luka yang cukup parah.
Begitu Bai Xuan melihat masih selamat langsung mencibir. “Kamu sungguh memiliki ketahanan dan kemauan hidup yang tinggi, namun sekarang aku akan membunuh mu hahaha!”
Sekali lagi, Bai Xuan langsung mengayunkan pedang, akan tetapi tiba-tiba matanya tertuju di semak-semak rimbun langsung pesan itu di ayaun kan ke semak-semak tersebut.
"Sring!"
‘Apa dia menemukan ku!’ Xiao Chen langsung menghindari dan melompat ke samping kiri sehingga keberadaannya sudah di temukan sangat mencolok.
Bai Xuan berkata: ”Kamu siapa? Jangan ikut campur Maslah ini jika tidak kamu tahu akibatnya,"
Xiao Chen menjawab, “Namaku Fujiwara Takumi, aku datang di sini, tidak ada hubungannya dengan kalian. Aku hanya ingin mengambil baju.”
__ADS_1