
Di Rumah Kosong
Saat ini Ara sedang menyusun rencana agar bisa mengelabui mereka untuk mau berpihak padanya.
"Ayo Ala belpikil, kelualin otak licik kamu agal om jahat ini belpihak padamu, jika om jahat ini sudah belpihak padamu maka kamu pasti akan menang. Sedangkan olang yang menyuluh meleka menculik Ala pasti akan kalah," batin Ara dengan seringai liciknya.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Kenapa dari tadi kamu bilang ihhh, pucing pala Ala mulu?" tanya Joni dengan penasaran.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Solly om jahat. Ala ndak bisa hilangin kata-kata ini kalena waktu Ala masih bayi kata peltama yang Ala ucapkan adalah kata ini," ujar Ara.
Hahahaha
"Kamu lucu sekali bocah. Sejak kapan bayi bisa bicara seperti itu? Di mana-mana kalau bayi bicara palingan dia cuman bisa ucapkan ma... pa... ataupun perkataan yang tidak bisa kita mengerti," ujar Joni seraya tertawa terbahak-bahak.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Itu kalena Ala bukan bayi biasa, kalena Ala lebih pintal dali bayi lain." Ara berucap dengan bangganya.
"Ini bocah masih kecil tapi sudah sombong. Bagaimana kalau dia sudah besar nanti, pasti sifat sombongnya itu akan semakin besar," batin Mario.
"Umur berapa kamu di adopsi oleh orang tua angkat kamu itu?" tanya Mario dengan penasaran.
"Tenapa meleka bodoh sekali mau saja di bodohin cama Ala? Bukan na mencali tahu dulu apa benal Ala anak punut apa bukan," batin Ara.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Sejak Ala masih dalam pelut na mommy," sahut Ara yang keceplosan bicara.
"Apa?" teriak mereka yang terkejut saat mendengar perkataan Ara.
"Bukannya kata kamu tadi, kalau kamu itu cuman anak angkat di keluarga itu?" tanya Mario dengan penasaran.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Sebenal na Ala cuman pula-pula bicala cepelti itu cama kalian, bial kalian kasihan cama Ala. Dan ahlil na mau bebaskan Ala dali tempat jelek ini." Jelas Ara dengan wajah tanpa dosa.
"Bocah ini pandai sekali berakting. Lihat saja aktingnya tadi benar-benar seperti kenyataan. Bahkan aku sampai menangis saat mendengar perkataan anak ini tadi. Tapi kenyataannya dia justru menipu kami semua. Sungguh, bocah yang sangat licik," batin Mario dengan wajah kesal.
"Bagus dong jika benar kamu anak orang kaya. Jadi sekarang kami akan meminta uang tebusan dari orang tua kamu," sahut Joni dengan antusias saat tahu kalau anak kecil yang mereka culik ternyata anak orang kaya.
__ADS_1
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Siapa nama om?" tanya Ara pada Joni.
"Nama aku Joni. Kenapa kamu tanya nama om?" tanya Joni dengan penasaran.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Sebelum Ala bicala, apa kalian bisa lepaskan dulu tangan Ala yang kalian ikat ini? Kalena Ala kulang nyaman kalau bicala dengan tangan telikat cepelti ini?" tanya Ara yang merasakan kesakitan pada tangganya.
Mendengar perkataan Ara membuat mereka terdiam. Karena mereka sangat takut kalau sampai melepaskan tangan anak ini maka bisa saja dia kabur dari tempat ini. Yang ujung-ujungnya mereka yang kenak marah dari bosnya itu.
Ara yang tahu apa yang mereka pikirkan. Tidak kehilangan akal untuk membujuk mereka agar segera melepas tangannya yang di ikat oleh mereka.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tenapa kalian cuman diam saja dali tadi? Apa kalian takut Ala akan kabul dali tempat jelek ini? Dengal ya, om jahat. Ala janji ndak akan kabul dali tempat jelek ini jika kalian melepaskan tangan Ala. Lagian Ala ndak tahu bagaimana cala pulang na. Kalena ini bukan negala Ala sendili, melainkan negala olang lain," ujar Ara seraya meyakinkannya mereka agar mau melepaskan tangannya yang terikat.
Mendengar perkataan Ara membuat mereka saling tatap dan akhirnya di anggukan kepala oleh Mario tanda setuju untuk melepaskan tangan Ara yang terikat.
"Baiklah. Kami akan melepaskan tangan kamu. Tapi awas kalau sampai kamu kabur dari sini." Joni mengancam Ara dengan tegas seraya melepaskan tangan Ara.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Baguslah kalau kamu tidak ada niatan kabur dari tempat ini. Karena jika sampai kamu berani kabur dari sini, om pastikan kamu akan menyesal," ujar Joni seraya menakuti Ara.
"Beritahu kami, apa yang ingin kamu katakan tadi?" tanya Mario dengan penasaran.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Apa kalian mau belkelja cama dengan Ala? Jika kalian mau belkelja cama dengan Ala maka kalian akan mendapatkan uang yang jauh lebih banyak dali pada dengan bos bodoh kalian itu." Ara sengaja mempengaruhi mereka agar mau berpihak padanya dari pada dengan orang yang sudah menculik dia itu.
"Apa kamu yakin kita akan mendapatkan uang yang sangat banyak kalau mau berkerjasama dengan kamu itu?" tanya Joni dengan ragu.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Apa kalian pikil Ala belcanda? Ala selius mau mengajak kalian ikut belkelja cama dengan Ala dali pada kalian bekelja cama dengan bos jelek kalian itu yang ndak ada guna na. Itupun kalau kalian mau ikut dengan Ala, kalau ndak mau juga ndak masalah. Lagian Ala ndak ada lugi juga," ujar Ara yang sok cuek padahal dalam hati sedang takut kalau sampai mereka tidak mau berkerjasama dengan nya.
Setelah lama berpikir akhirnya mereka setuju bekerjasama dengan Ara walaupun masih ada keraguan sedikit. Tapi apa salah di coba, siapa tahu dengan bekerjasama dengan anak ini maka mereka bisa mendapatkan uang yang banyak.
"Bagaimana cara kita mendapatkan uang yang banyak?" tanya Joni dengan penasaran.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
__ADS_1
"Tentu saja dengan cala memelas uang na daddy." Ara menjawab dengan wajah tanpa dosa.
"Apa?" teriak mereka yang terkejut saat mendengar perkataan Ara.
"Apa anak ini sudah gila mau memeras uang orang tua kandung nya sendiri dan lebih parah lagi dia justru mau bekerjasama dengan penjahat seperti kami. Biasanya kalau anak kecil kalau di culik mereka bisanya menangis dan ketakutan tapi anak ini dari pertama di culik hingga sekarang tidak ada raut wajah ketakutan sedikitpun. Siapa sebenarnya anak ini? Kenapa dia bisa seberani ini, padahal dia masih sangat kecil," batin Mario dengan penasaran.
"Kamu yakin ini memeras uang orang tua kamu sendiri?" tanya Joni dengan penasaran.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tentu saja yakin om Joni." Ara menjawab dengan penuh keyakinan.
"Bagaimana cara memeras uang dari daddy kamu itu?" tanya Joni dengan penasaran.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Apa Ara bisa berhenti bicara ihhh, pucing pala Ala? Om sangat risih dengarnya," kata Joni dengan wajah kesal.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Jika om ndak suka Ala bicala begini. Om Joni bisa tutup telinga na, beles kan." Ara berucap dengan wajah tanpa dosa.
"Anak ini, kenapa dari tadi bikin aku kesal saja. Jika tidak ingat dia aset aku mendapatkan uang yang banyak. Sudah aku buang dia ke jurang, biar di makan binatang buas," batin Joni dengan wajah kesal.
"Apa yang harus om Joni lakukan agar bisa mendapatkan uang yang banyak?" tanya Joni lagi dengan penasaran.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Sabar Joni, sabar. Bukannya kamu ingin menjadi orang kaya, maka kamu hanya perlu bersabar menghadapi anak nakal ini," batin Joni.
Sementara Mario berusaha menahan tawanya agar tidak keluar. Dia tahu kalau temannya ini berusaha bersabar agar tidak emosi di depan anak ini. Dia juga tahu kalau temannya ini bersabar hanya untuk bisa mendapatkan uang dari anak ini, jika bukan karena uang.
Dia sangat yakin kalau temannya ini pasti akan membuang anak ini di karenakan tidak tahan menghadapi tingkah laku anak ini yang sejak tadi bikin dia emosi.
•
•
•
Bersambung....
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1