
Di Mansion Alexander Lemos
Mansion yang sangat mewah nan megah siapapun yang melihat nya pasti akan terpana. Dengan interior yang sangat indah dan elegan.
"Dengarkan daddy baik-baik sampai mati pun daddy tidak akan pernah menikah dengan perempuan ondel-ondel itu. Karena cinta daddy sudah permanen jadi tidak akan ada satu perempuan pun yang dapat menghapus nama mommy kamu di hati daddy." Alex sangat kesal dengan anaknya yang menyuruh dia melupakan istrinya.
Padahal dia sangat mencintai istrinya itu apalagi Claudia adalah cinta pertama nya. Jadi mana mungkin dia melupakan cinta pertama nya demi wanita lain.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Jika daddy sudah mati untuk apalagi cinta. Emang cinta bisa di bawa mati?" Dengan polosnya Ara bertanya pada ayahnya tanpa tahu pertanyaan nya itu bisa bikin orang darah tinggi.
"Kau... Ah... kenapa aku memiliki anak yang tidak memiliki perasaan seperti kamu? Jika anak lain pasti akan simpati dan membujuk ayahnya agar tidak sedih lagi. Sedangkan kamu dari tadi selalu bikin daddy emosi." Alex benar-benar di bikin emosi oleh anaknya sendiri.
Dia pikir anaknya akan kasihan dengan nya karena baru saja di tinggal sama istri yang sangat dia cintai. Tapi ternyata anaknya bukannya kasihan padanya tapi malah membuat dia emosi dan darah tinggi.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Ala sepelti ini kalena tulunan daddy. Bukan na selama ini daddy juga ndak memiliki pelasaan cama olang lain? Bahkan daddy dengan tanpa pelasaan menghanculkan musuh daddy tanpa sisa." Tanpa perasaan Ara justru malah menyalahkan ayahnya. dia tidak mau di salahkan, itu sebabnya dia menyalahkan ayahnya sendiri walaupun dia juga ikutan salah.
( Ayah dan anak sama-sama keras kepala dan satu spesies.Tidak ada yang mau mengalah, Author saja pusing sama ayah dan anak ini hehehe )
Mendengar perkataan anaknya membuat Alex langsung terdiam seperti patung. Karena apa yang di katakan oleh anaknya semuanya benar. Apa ini karma karena dia dulu selalu menyiksa musuh nya tanpa perasaan? Sehingga anaknya malah mengikuti sifatnya yang terkenal licik dan kejam.
"Kenapa anak ini selalu menyalahkan orang lain? Padahal dia sendiri yang salah. Tapi malah tidak mau mengakui nya. Sabar Lex... tahan emosi kamu jangan sampai kamu melampiaskan pada anak kamu. Jika sampai kamu marahin anak ini takutnya dia malah kabur seperti ibunya. Sekarang aku harus mencari keberadaan Claudia, aku sangat yakin dia pasti masih di negara ini. Aku harus bertindak lebih cepat sebelum dia berhasil kabur dari negara ini," batin Alex seraya menelpon anak buahnya tanpa meladeni ocehan anaknya.
Dreet... Dreet... Dreet...
π "Hallo? Ada apa tuan?" tanya seseorang yang ada di sebrang sana.
__ADS_1
π "Cepat cari keberadaan istri ku di manapun dia berada. Cari tahu apa istri ku ada memesan tiket baik tiket pesawat ataupun tiket stasiun kereta. Jika ada, cegah kepergian nya. Setelah itu bawa dia ke sini dalam keadaan sehat. Jangan lukai istri ku sedikit pun jika aku tahu kalian melukai dia walau hanya seujung kuku pun. Maka jangan salahkan saya jika hidup kalian akan aku buat menjadi ngembel," titah Alex seraya mengancam anak buahnya agar jangan pernah berani melukai istrinya walaupun hanya tergores sedikitpun.
π "Baik tuan," balas orang itu seraya mematikan smartphone nya.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Untuk apa daddy mencali kebeladaan mommy kalena aku sangat yakin mommy pasti ndak akan mau kembali lagi cama daddy yang tukang selingkuh. Kalau ini teljadi pada Ala lebih baik Ala mencali laki-laki lain yang lebih kaya dan tampan dali pada daddy yang sudah miskin," ujar Ara dengan wajah tanpa dosa.
Jika ayahnya tidak melukai hati ibunya maka dia tidak akan pernah mengeluarkan kata-kata seperti itu pada ayahnya sendiri. Saat mengingat ibunya yang menangis tadi langsung membuat dia emosi.
Karena selama dia tinggal dengan ibunya dia tidak pernah melihat ibunya menangis kecuali pada saat dia mengalami kecelakaan dulu. Itupun hanya sekali, tapi sekarang dia bisa melihat bagaimana hancurnya hati ibunya gara-gara ulah ayah yang sangat dia sayangi.
"Bukannya kamu yang sudah merampok semua harta daddy? Kenapa sekarang kamu berkata seolah-olah tidak bersalah sedikitpun?" tanya Alex dengan wajah kesal saat mendengar perkataan anaknya.
"Mana bukti na jika Ala melampok halta daddy? Bukan na daddy sendili yang membelikan halta itu pada Ala? Dan daddy halus ingat Ala memiliki saksi mata yang dapat Ala pakai buat melawan daddy jika daddy macam-macam cama Ala," ujar Ara dengan seringai liciknya.
Glek
"Dasar bocah licik," umpat Alex dengan wajah kesal.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Jika Ala ndak licik maka tidak akan bisa menjadi olang kaya. Dan salan Ala daddy beldoa saja agal anak kedua daddy ndak memiliki sifat sepelti Ala." Setelah mengatakan itu Ara langsung pergi dari sana tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Ahhhh... Kenapa anak ini selalu bikin aku emosi?" teriak Alex seraya menahan emosi.
"Bi... Bibi," teriak Alex dengan suara keras.
"Iya tuan muda. Apa ada yang bisa bibi bantu?" tanya pembantu itu dengan sopan.
"Kamu ini bisanya bicara, maaf tuan apa yang bisa bibi bantu? Apa selain itu kamu tidak bisa bicara hah? Kenapa semua orang hari ini bikin aku emosi?" Alex yang sedang kesal dengan Ara malah melampiaskan pada orang lain. Sungguh, malang nasib pembantunya itu tidak salah apa-apa malah terkenak amarah Alexander.
__ADS_1
"Kenapa tuan malah marah sama aku? Emangnya apa salah aku?" Bukannya setiap hari aku selalu menjawab seperti itu jika tuan memanggil aku?" Banyak pertanyaan yang ingin pembantu itu tanyakan pada majikannya. Tapi dia tidak berani bertanya langsung pada majikannya sehingga dia hanya bisa membatin demi keselamatan nya sendiri.
"Maaf tuan jika bibi ada salah," ujar pembantu itu dengan sopan.
"Kenapa sedari tadi kamu meminta maaf terus menerus? Apa kamu sedang melakukan kesalahan besar sehingga kamu takut aku pecat dari sini?" tanya Alex dengan wajah tanpa dosa.
Padahal dia alasan pembantu itu meminta maaf. Tapi dia justru bertanya seolah-olah pembantu itu yang salah.
"Oh Tuhan... kenapa dari tadi aku selalu salah? Sabar bi... tahan emosi kamu jangan sampai keceplosan bicara. Bagaimana pun orang yang saat ini kamu hadapi singa yang sedang ngamuk jangan sampai kamu menjadi sasarannya," batin pembantu itu seraya menahan emosi agar tidak keluar.
"Tidak ada tuan," balas pembantu itu dengan sopan.
"Kalau tidak, kenapa kamu minta maaf?" tanya Alex dengan polos.
"Aku minta maaf karena tuan. Kenapa tuan malah jadi orang bodoh seperti ini?" batin pembantu itu.
"Ahh... sudahlah. Untuk apa aku bertanya pada orang bodoh seperti kamu. Lebih baik aku istirahat saja." Setelah mengatakan itu Alex langsung pergi dari sana dengan wajah tanpa dosa.
Mendengar perkataan majikannya membuat pembantu itu melongo dan juga heran. Tidak biasanya majikannya itu bersikap aneh seperti ini.
"Kenapa tuan hari ini sangat aneh? Apa ini ada hubungan nya dengan kepergian nyonya muda? Ahhh... dari pada aku mikirin masalah mereka lebih baik aku pergi dari sini," ujar pembantu itu seraya pergi dari sana.
β’
β’
β’
Bersambung....
πΏπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΏ
__ADS_1