One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Meremehkan Arrabella )


__ADS_3

Di Ruangan Kerja Alexander


Saat ini mereka masih berada di dalam ruangan kerja Alexander.


"Ya, sudah daddy sebutkan saja uang na. Bial Ala bisa pilih nanti," ujar Ara dengan penuh keyakinan kalau dia pasti bisa menebaknya.


"Ok. Apa Ara sudah siap?" tanya Alex seraya meremehkan Arrabella.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Ala sudah siap daddy." Ara menjawab dengan penuh keyakinan.


"Kenapa kelakuan ayah dan anak ini tidak bisa di tebak? Tadi saat sama musuhnya tuan Alex bagaikan singa yang siap menerkam buruan nya. Kenapa sekarang tuan malah seperti anak kecil? Jika tuan ingin memberikan uang pada Laura kenapa harus melakukan lomba aneh seperti ini. Sungguh, pasangan ayah dan anak, sama-sama gila," batin Andre seraya menggelengkan kepala.


"Ok. Daddy mulai sekarang. 1. Seratus perak, 2. Seratus ribu, atau 3. Seratus juta. Ara mau pilih yang mana satu, dua, atau tiga?" tanya Alex seraya mengejek anaknya karena dia sangat yakin kalau anaknya ini pasti tidak akan tahu uang yang paling banyak diantara ketiga pilihan yang dia berikan.


"Aduh. Apa yang halus Ala pilihkan. Tenapa daddy membelikan peltanyaan dengan angka selatus semua? Kalau begini, Ala bingung mau pilih yang mana," batin Ara dengan wajah cemas.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


Cukup lama Ara berpikir mana jawaban yang menurutnya benar dan tepat. Seraya menarik nafas, akhirnya dia memilih....


"Ala pilih no 3 saja, yaitu selatus juta." Ara menjawab dengan penuh keyakinan.


"Apa? teriak Alex yang merasa terkejut, saat mendengar anaknya memilih no 3 yang sudah dipastikan itu adalah jawaban yang benar dan tepat.


Begitupun yang lain yang ikut terkejut saat mendengar jawaban dari Ara yang sangat benar dan tepat. Hingga membuat mereka menjadi penasaran bagaimana mungkin anak sekecil Ara bisa tahu nominal uang sebanyak itu.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tenapa daddy teliak cepelti itu? Bikin telinga Ala sakit saja. Apa jawaban Ala benal apa ndak?" tanya Ara dengan penasaran.


"Jawaban Ara tepat sekali sayang. Tapi, Bagaimana Ara bisa tahu no 3 yang paling banyak dari pada yang lain?" tanya Alex dengan penasaran.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tentu saja dengan cala menghitung angka 1-100. Sedangkan pilihan daddy cuman tiga. Itu belalti Ala hanya pelu menghitung dali angka satu, dua, dan telahil angka tiga. Belalti yang paling banyak pasti angka tiga."


"Apa jawaban Ala benal dad?" tanya Ara dengan penasaran.


Plok

__ADS_1


Plok


Plok


"Wah... Kamu hebat sekali sayang. Daddy bangga sama kamu.Ternyata anak daddy sangat pintar," ujar Alex dengan wajah bangga.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Sekalang saja daddy memuji Ala kalena jawaban Ala benal. Tadi saja daddy melemehkan Ala. Apa daddy pikil Ala ndak tahu kalau sejak tadi daddy sengaja membelikan peltanyaan dengan angka selatus semua bial Ala ndak bisa menebak na kan?" tanya Ara dengan tatapan tajamnya.


Glek


"Kenapa Ara menuduh daddy seperti itu. mana mungkin daddy punya pemikiran seperti itu?" tanya Alex seraya mengelak dari tuduhan anaknya itu.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Sudahlah dad. Jangan banak alasan. Dali wajah daddy sudah membuktikan kalau daddy sengaja mau mengeljai Ala agal kalah tadi. Tapi, daddy sudah salah memilih lawan na. Kalena Ala ini bukan lawan yang mudah daddy kalahkan," ujar Ara dengan angkuh.


Mendengar perkataan anaknya membuat Alex menepuk jidat nya sendiri. Sungguh, anaknya ini sudah seperti orang dewasa saja. Padahal umurnya baru empat tahun.


"Ok. Daddy minta maaf karena tadi sudah meremehkan Ara," ujar Alex yang lebih mengakui kesalahannya. Lagian untuk apa dia menyembunyikan hal ini karena anaknya juga sudah tahu.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Baiklah. Ndre... transfer uang sebesar 100 juta ke rekening Laura sekarang," titah Alex dengan tegas.


"Baik tuan." Andre menjawab dengan cepat.


"Untuk apa kamu uang sebanyak itu? Apa tadi kamu sengaja memanfaatkan anak saya agar dia meminta uang pada saya untuk di berikan pada kamu?" tanya Alex dengan tatapan tajamnya.


"Tidak tuan. Saya bersumpah tidak ada niatan untuk memanfaatkan nona kecil tuan." Laura menjawab dengan wajah ketakutan saat melihat tatapan tajam atasannya itu.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Daddy ini lucu sekali. Sejak kapan ada olang yang belani menipu Ala yang memiliki otak licik ini. Sehalus na daddy membelikan peltanyaan itu untuk Ala. Kalena Ala lah yang tadi belniat memanpaatkan Aunty Lala. Tapi, kalena aunty Lala ndak ada uang gala-gala membayal uang opelasi ibu na. Hingga Ala menjadi sedih dan iba cama dia." Jelas Ara dengan cepat sebelum Alex memecat Laura yang tidak ada salah sedikitpun.


"Apa benar yang dikatakan oleh Ara kalau ibu kamu sedang sakit? Dan kamu lagi butuh uang buat operasi ibu kamu itu?" tanya Alex dengan penasaran.


"Benar tuan. Saya baru membayar setengah nya, sementara setengah lagi saya lagi usaha meminjam sama teman saya. Tapi sampai saat ini belum ada kabar dari mereka." Laura menjawab dengan wajah sendu.


"Kenapa kamu tidak meminjam uang dari perusahaan? Bukannya setiap karyawan di sini berhak meminjam uang disaat keadaan mendesak seperti ini?" tanya Alex yang masih belum percaya sepenuhnya dengan cerita Laura.

__ADS_1


"Masalah nya saya sudah meminjam uang dari perusahaan ini dengan syarat uang ngaji saya setiap sebulan sekali akan di potong untuk melunasi hutang pinjaman saya di perusahaan ini tuan!" jawab Laura.


"Ndre... kirim 500 juta lagi buat dia sekarang," titah Alex dengan tegas.


"Baik tuan." Andre menjawab dengan cepat.


"Tu... tuan... itu terlalu banyak untuk saya. Uang sisanya hanya 50 juta saja, sedangkan tuan tadi sudah memberikan saya 100 juta jika saya membayar biaya operasi ibu saya masih tersisa 50 juta lagi. Bagi saya itu sudah cukup tuan," ujar Laura seraya terbata-bata.


"Apa kamu sudah siap meninggalkan perusahaan ini," ancam Alex dengan tatapan tajamnya.


"Tidak tuan," jawab Laura seraya menundukkan kepalanya dengan wajah ketakutan.


"Baguslah. Kamu tahu saya paling benci ada orang yang membantah perkataan saya. Jadi, kamu ikuti perintah saya apa kamu paham," titah Alex dengan tegas.


"Baik tuan," Laura menjawab dengan cepat.


"Sekarang kamu bisa lanjutkan pekerjaan kamu itu," titah Alex dengan tegas.


"Baik tuan. Saya permisi," ujar Laura seraya pergi dari sana yang di jawab anggukkan kepada oleh mereka.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Tenapa daddy suka sekali mengancam olang lain cepelti ini? Apa daddy ndak bisa bicala lembut sedikit saja cama olang lain?" tanya Ara dengan wajah kesal.


"Bagaimana dengan Ara sendiri? Bukannya tadi Ara juga ingin memanfaatkan uang Laura buat kepentingan Ara sendiri?" tanya Alex seraya membalikkan pertanyaan pada Ara.


"Ihhh, pucing pala Ala..."


"Itu kalena Ala belum tahu kalau aunty Lala sedang kesusahan, kalau sudah tahu Ala ndak mungkin meminta uang pada layak miskin," ujar Ara yang tak mau di salahkan.


Mendengar perkataan anaknya membuat Alex menghela nafas pasrah. Percuma dia berdebat dengan anaknya ini yang pasti dia yang akan kalah.


"Kenapa Anak ini pintar sekali, menjawab setiap perkataan yang aku ucapkan? Dia juga suka sekali menyalahkan orang lain. Padahal sudah jelas kalau dia juga bersalah di sini. Tapi dia malah tidak mau mengakui nya. Bikin aku kesal saja, untung anak sendiri, kalau tidak. Sudah aku buang dia ke kandang harimau peliharaan aku," batin Alex dengan wajah kesal.





Bersambung....

__ADS_1


💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥


__ADS_2