
DI Ruangan CEO Alexander
Claudia yang sejak tadi melihat anaknya ada di dalam pangkuan Alexander sangat kesal. Dia tidak menyangka anaknya bisa langsung akrab dengan Alex, padahal mereka baru saja kenal hari ini. Apa ini yang dinamakan ikatan batin antara ayah dan anak.
Sungguh, Claudia merasakan perasaan takut jika seandainya Alex merebut anaknya dari tangan nya. Bagaimana pun kekuatan Alex lebih besar dari pada dirinya. Tentu saja dia akan kalah jika sampai masalah ini dibawa ke jalur hukum.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.
Cklek
"Maaf tuan, saya mau mengantar makanan pesanan tuan," ujar OB itu dengan sopan, seraya menaruh makanan pesanan Alexander setelah melihat anggukkan kepala dari atasannya itu.
"Saya permisi dulu tuan," ujarnya lagi setelah dia sudah selesai meletakkan makanan itu di atas meja yang ada di depan mereka.
"Terima kasih. Kamu bisa pergi sekarang." Bukan Alex yang ucapkan melainkan Andre asisten pribadinya Alexander.
Karena dia tahu, Alex bukan orang yang suka basi-basi ataupun mengucapkan kata minta maaf dan kata Terima kasih sama orang yang ada di bawahnya, kecuali keluarga yang dia cintai. Sungguh, dia benar-benar atasan yang sangat angkuh dan sombong.
"Sama-sama tuan Andre. Saya permisi," ucap dia lagi seraya pergi dari sana yang di jawab anggukan kepala oleh mereka.
"Ayo Ara. Kamu makan dulu. Daddy tidak mau sampai kamu sakit nantik," titah Alex dengan tegas.
"Oke. Daddy." Ara menjawab dengan cepat seraya makan makanan pesanan Alex tadi.
"Kamu juga makan sayang. Aku tidak mau, calon istri aku sampai sakit nanti," pintanya seraya menyuruh Claudia untuk makan.
"Aku tidak lapar," ujar Claudia dengan cepat.
"Kenapa kamu sangat keras kepala sekali? Aku tahu kamu pasti sedang lapar saat ini. Tapi karena gengsi, kamu malah berusaha menahan lapar. Apa kamu tidak takut sampai pingsan disini gara-gara tidak kuat menahan lapar?" tanya Alex dengan tatapan tajamnya.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Sudahlah mom. Jangan sepelti anak kecil yang sedang ngambek gala-gala ndak dibeli Es klim cama daddy na. Kalena itu ndak cocok cama mommy yang sudah tua," ujar Ara yang sangat kesal dengan ibunya yang keras kepala itu.
Claudia yang mendengar perkataan anaknya yang menyebut dirinya sudah tua. Ingin sekali memasukkan cabai ke dalam mulut anaknya. Sungguh, dia sangat kesal dengan anaknya yang tidak berperasaan itu. Sementara Alex dan Andre berusaha menahan tawanya agar tidak keluar suara.
Kerena tidak mau berdebat dengan anaknya, dia terpaksa memakan makanan yang sudah di pesan oleh Alex. Bagaimanapun dia sudah sangat lapar sejak tadi.
__ADS_1
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Kata na ndak lapal. Tapi, mommy hampil menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja. Apa ini yang di sebut ndak lapal?" tanya Ara seraya mengejek ibunya yang makan dengan sangat lahap.
Hahahaha
Pecah juga tawanya Alex dan Andre yang sejak tadi mereka tahan. Mereka tidak menyangka Ara bisa mengeluarkan perkataan seperti itu. Padahal jelas-jelas dia yang memaksa ibunya untuk makan.Tapi, giliran dia sudah makan, malah di ejek.
Berbeda dengan Claudia yang sudah sangat malu saat melihat mereka menertawakan dia atas ucapan anaknya itu yang tidak berperasaan. Hingga membuat dia nggak nafsu untuk makan lagi.
"Tenapa mommy belhenti makan?" tanya Ara dengan wajah tanpa dosa.
"Mommy sudah kenyang. Sekarang Ara turun dari pangkuan tuan Alex. Karena kita harus pulang sekarang juga," titah Claudia dengan wajah kesal.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tenapa mommy menuluh Ala pulang? Padahal Ala balu beltemu cama daddy asli na Ala?" tanya Ara yang kesal dengan ibunya.
"Berhenti menyebut dia daddynya kamu. Karena daddy kandung kamu sudah lama meninggal," ujar Claudia seraya menahan emosi.
"Cukup. Beraninya kamu membohongi anak aku tentang daddynya yang sudah meninggal. Apa kamu tidak bisa melihat kemiripan antara aku dan Ara.
"Jika kamu masih ragu dengan ucapan aku. Lihat berkas ini, dan baca dengan teliti hasil dari Tes DNA itu. Agar kamu bisa tahu kalau aku memang daddy kandung nya," ujar Alex seraya melempar berkas itu di pangkuan Claudia dengan wajah emosi.
Dengan tangan gemetar dan raut wajah ketakutan Claudia terpaksa melihat berkas yang di lempar oleh Alex tepat berada di atas pangkuan nya.
Deg
"I... Ini tidak mungkin. Ka... kamu pasti bohong kan... pasti ini ulah kamu menyogok dokter agar menukar tes DNA asli dengan yang palsu." Claudia berucap seraya terbata-bata.
"Apa kamu pikir aku laki-laki bodoh yang akan mengakui anak orang lain menjadi anak aku sendiri. Jika kamu tidak percaya dengan Tes DNA yang aku lakukan. Bagaimana kalau kita melakukan sekali lagi. Biar kamu bisa tahu sendiri, Ara anak kandung aku atau bukan." Alex menantang Claudia untuk melakukan tes DNA ulang. Sehingga menyebabkan Claudia semakin ketakutan.
"Apa yang tuan inginkan?" tanya Claudia setelah dia bisa menguasai dirinya agar terlihat berani di depan Alex.
"Menikahlah dengan ku." Alex berucap tanpa basi-basi.
"Apa?" teriak Claudia yang terkejut saat mendengar perkataan Alex. Dia pikir Alex akan merebut anaknya dari tangannya tanpa perasaan. Tapi dia justru malah mengajak dia untuk menikah.
"Apa pendengaran ku lagi bermasalah. Tidak mungkin laki-laki brengsek ini mengajak aku menikah kan," batin Claudia.
__ADS_1
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Apa yang sedang mommy dan daddy bicalakan sejak tadi. Ala pucing dengalin kalian beltengkal yang tak ada habis na," sahut Ara dengan cepat yang membuat mereka terkejut saat baru menyadari kalau Ara masih ada di antara mereka sejak tadi.
"Tidak apa-apa sayang. Daddy sedang membujuk mommy nya Ara agar mau tinggal bersama dengan daddy. Ara mau tinggal di mansion daddy?" tanya Alex seraya mempengaruhi anaknya agar dia mau ikut dengan nya.
"Jangan mau sayang. Ara tinggal di rumah mommy saja. Bukannya selama ini Ara sudah nyaman tidur di kamar Ara sendiri," sahut Claudia dengan cepat agar anaknya tidak terpengaruh oleh Alex.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tenapa kalian malah membuat pala Ala tambah pucing sih. Helan deuh Ala cama kalian beldua. Sudah tua juga masih suka belantem. Bukan na mengajali Ala agal menjadi anak yang baik dan ndak nakal. Ini kalian malah mencotohkan sifat buluk cama Ala," ujar Ara dengan wajah kesal hingga menyebabkan mereka berdua malu saat mendengar perkataan anaknya.
Hahahaha
Mendengar tawa Andre. Membuat Alex dan Claudia menatap nya dengan tatapan yang sangat tajam. Sehingga menyebabkan Andre menelan Saliva nya sendiri karena merasa takut dengan mereka.
"Maaf Ara sayang. Daddy sama mommy tidak berantem seperti yang Ara pikirkan. Daddy hanya ingin Ara sama mommy bisa tinggal di mansion nya daddy. Karena selama ini Ara sudah tinggal di rumah mommy. Jadi, sekarang giliran Ara yang harus tinggal bersama dengan daddy." Jelas Alex dengan penuh keyakinan agar anaknya bisa percaya dengan perkataan nya itu.
"Apa benal yang daddy bicalakan mom?" tanya Ara yang masih curiga dengan orang tuanya.
"Sial. Apa maksud laki-laki brengsek ini bicara seperti itu sama Ara. Ini sama saja membuat aku masuk perangkap dari laki-laki ini. Jika aku tidak menjawab bisa habis aku sama Ara. Sekarang apa yang harus aku harus jawab," batin Claudia dengan raut wajah kesal.
"Kenak kamu sayang. Aku sangat yakin kamu tidak punya pilihan lain selain mengiyakan perkataan ku," batin Alex dengan seringai liciknya.
"Mommy sih tidak masalah kalau harus tinggal di rumah daddy. Asal Ara betah tinggal di rumah daddy yang kecil dan sempit seperti itu. Bahkan setahu mommy di rumah daddy banyak sekali binatang menjijikkan seperti tikus," ujar Claudia seraya menjelekkan tempat tinggal Alex agar anaknya tak memaksanya ikut tinggal dengan Alex.
Alex yang mendengar perkataan calon istrinya yang menjelekkan tempat tinggalnya hanya bisa melongo. Sungguh, dia tidak menyangka dengan calon istrinya itu. Hanya karena dia tidak ingin tinggal dengannya, dia malah mempengaruhi anaknya agar tidak mau ikut dengan nya.
Sementara Andre yang mendengar perkataan Claudia berusaha menahan tawanya agar tidak keluar. Cuman Claudia yang berani bicara seperti itu dengan atasannya. Jika orang lain, pasti sudah berkeringat saat menghadapi atasannya itu.
"Sepertinya kucing liar ku belum tahu siapa aku sebenarnya. Makanya dia berani menjatuhkan aku di depan anak kandung aku sendiri. Dia pasti sengaja mengatakan itu agar Ara tidak mau ikut tinggal bersama dengan ku. Ternyata kamu licik juga sayang. Kita lihat saja, siapa di antara kita yang akan kalah.
"Kamu belum tahu saja, bagaimana sifat asli aku sayang. Jika kamu sudah tahu, aku yakin sekali kamu pasti tidak akan berani mencari masalah dengan ku. Sungguh, kamu sangat menarik sekali sayang. Tidak salah aku menunggu kamu selama ini. Hanya kamu wanita yang layak menjadi calon istri Alexander lemos," batin Alex dengan seringai liciknya.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung....
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁