One Night Stand With Baby Sang Ceo

One Night Stand With Baby Sang Ceo
( Bagaimana Keadaan Anak Saya )


__ADS_3

Di Mansion Alexander Lemos


"Lex... Apa kamu sudah berhasil membujuk Ara agar mau memaafkan kalian dan juga mau menerima adiknya itu?" tanya Angelina dengan penasaran.


"Aku belum sempat bicara sama Ara, karena aku lagi mengurusi Claudia yang sejak kemarin sampai sekarang tidak berhenti muntah." Jelas Alex.


"Itu wajar terjadi pada wanita yang sedang hamil. Dulu waktu mama mengandung kamu juga mengalami seperti yang istri kamu rasakan. Kamu harus mengingatkan istri kamu agar jangan stres dan juga banyak pikiran. Karena itu tidak baik bagi kandungannya," ujar Angelina.


"Iya, ma," jawab Alex.


"Kapan kamu bisa masuk kerja lagi?" tanya Angelina dengan penasaran.


"Belum tahu ma. Aku tidak bisa meninggalkan Claudia dalam keadaan sakit seperti ini. Jika Claudia sudah bisa di tinggalkan sendiri baru aku akan kembali bekerja," ujar Alex.


"Sebaiknya jangan terlalu lama mengambil cuti kerja. Kasihan papa kamu jika harus mengantikan kamu terus di perusahaan. Apalagi papa kamu sudah tua, tidak seharusnya dia bekerja terlalu keras seperti ini, mama takut papa kamu akan jatuh sakit," ujar Angelina.


"Iya, ma. Besok aku akan bekerja kembali. Selama aku bekerja, tolong mama jaga Claudia sebentar. Jika ada apa-apa sama dia, mama harus segera hubungi aku," ujar Alex yang merasa enggan untuk meninggalkan istrinya yang sedang sakit seperti ini.


"Kamu tenang saja, mama akan menjaga istri kamu dengan baik," ujar Angelina.


"Permisi nyonya besar, tuan muda. Di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan nyonya muda," ujar pembantu itu dengan sopan.


"Siapa bi?" tanya Angelina dengan penasaran.


"Keluarga nyonya muda," ujar pembantu itu dengan sopan.


"Ya, sudah. Bibi bisa lanjutkan kerjanya," titah Angelina.


"Baik nyonya," jawab pembantu itu seraya pergi dari sana.


Di Ruang Tamu


"Ariana, Alice, kapan kalian datang?" tanya Angelina seraya duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Baru saja tante," ujar Alice.


"Apa kalian sudah tahu kalau Claudia sedang hamil sekarang?" tanya Angelina dengan penasaran.


"Sudah tante. Itu sebabnya kami ke sini mau bertemu Claudia," ujar Alice yang di tanggapi anggukan kepala oleh Angelina.


"Apa kami bisa bertemu dengan Claudia?" tanya Ariana.


"Maaf, ma. Bukannya aku melarang mama bertemu Claudia. Tapi, dia baru saja tidur setelah muntah-muntah tadi," sahut Alex.


"Ya, sudah tidak apa-apa. Kalau begitu, kami ingin melihat Ara saja, apa boleh?" tanya Ariana.


Sebelum mereka menjawab pertanyaan Ariana. Tiba-tiba...


"Tuan muda," panggil seseorang yang datang terburu-buru.


"Ada apa Dian?" tanya Alex dengan penasaran.


"I... itu, nona kecil pingsan tuan muda," ujar Dian seraya menjelaskan keadaan anak majikannya.


"Apa?" teriak mereka yang terkejut saat mendengar perkataan baby sister anaknya yang mengatakan keadaan Ara yang sedang pingsan.


Tanpa aba-aba langsung saja mereka pergi ke kamar Arrabella untuk melihat keadaan dia.

__ADS_1


Di Kamar Arrabella


"Ara, bangun sayang. Kamu bisa mendengar daddy?" tanya Alex seraya menepuk pipinya dengan lembut.


"Lex... telpon dokter sekarang juga," titah Angelina dengan penasaran khawatir.


"Baik ma," jawab Alex seraya menelpon dokter keluarga mereka.


Dreet... Dreet... Dreet...


๐Ÿ“ž "Hallo... Ada apa tuan muda?" tanya dokter itu dengan penasaran.


๐Ÿ“ž "Datang ke mansion aku sekarang juga," titah Alex dengan tegas.


๐Ÿ“ž "Siapa yang sakit tuan muda?" tanya dokter itu dengan penasaran.


๐Ÿ“ž "Jangan banyak tanya, cepat datang sekarang juga. Jika tidak ingin rumah sakit kamu saya hancurkan," ujar Alex seraya mengancam dokter itu.


๐Ÿ“ž "Baik tuan muda. Saya akan segera datang," ujar dokter itu seraya mematikan smartphone nya.


"Oh Tuhan... Kenapa laki-laki ini selalu mengancam orang yang berada di bawahnya. Apa dia tidak bisa bicara dengan baik-baik sama orang lain. Entah kenapa Claudia betah jadi istri laki-laki kejam ini. Jika aku memiliki suami seperti ini, sudah lama aku meninggalkan dia," batin Alice.


"Lex... Kenapa kamu mengancam dokter keluarga kita? Bagaimana kalau dia ketakutan, dan akhirnya malah kecelakaan karena buru-buru datang ke sini?" tanya Angelina dengan wajah kesal.


"Sudahlah ma. Aku yakin, dia akan baik-baik saja," ujar Alex.


Tak Lama Kemudian


Tok... Tok... Tok...


Cklek


"Maaf tuan muda. Dokter Marko sudah datang," ujar pembantu itu dengan sopan.


"Suruh dia masuk," titah Alex dengan tegas.


"Baik tuan muda," jawab pembantu itu seraya pergi dari sana.


Cklek


"Cepat periksa putri ku," titah Alex pada dokter Marko.


"Baik tuan muda," jawab dokter Marko seraya memeriksa keadaan Ara.


Beberapa Menit Kemudian


"Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Alex dengan perasaan cemas.


"Putri anda pingsan di sebabkan karena tidak ada asupan makanan apapun yang masuk ke dalam tubuhnya hingga daya tahan tubuhnya melemah akhirnya jatuh sakit akibat tidak bisa menahan lapar."


"Apalagi dia masih kecil. Jadi kalian harus pantau dia selalu agar jangan telat makan apalagi sampai tidak makan sama sekali seperti ini. Karena ini sangat berbahaya bagi kesehatan anak itu sendiri."


"Syukur lah anda segera menelpon saya untuk datang ke sini. Jika sampai telat sedikit saja maka bisa saja nyawa anak anda tidak bisa di selamatkan." Jelas Dokter Marko.


Deg


"Oh Tuhan... Kenapa ini bisa terjadi pada putri ku? Bagaimana kalau sampai Claudia tahu keadaan anak kami? Aku takut dia kepikiran dan akhirnya malah mengakibatkan keguguran," batin Alex.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan anak saya sekarang?" tanya Alex dengan perasaan khawatir.


"Tenang tuan. Anak anda tidak apa-apa sekarang. Karena saya sudah memberikan dia suntikan obat dan vitamin. Saya yakin sebentar lagi anak anda akan segera sadar dari pingsannya." Jelas dokter Marko.


Mendengar perkataan dokter Marko membuat mereka bisa menghela nafas lega. Sungguh, mereka sangat takut jika sampai terjadi sesuatu sama Ara. Walaupun dia anak yang sangat nakal sering membuat mereka emosi dan sakit kepala. Tetap saja, mereka sangat sayang padanya. Apalagi dia cucu pertama keluarga Lemos. Itu sebabnya mereka sangat takut kehilangan Ara.


"Syukurlah, Ara baik-baik saja," sahut Angelina dengan perasaan lega.


"Ini resep obat yang harus anda tebus nanti. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu," ujar dokter Marko seraya memberikan resep obat pada Angelina.


"Terima kasih Dok," ujar Angelina seraya menerima resep obat dari tangan dokter Marko.


"Sama-sama Nyonya besar," jawab dokter Marko seraya pergi dari sana.


"Bagaimana bisa anak saya tidak makan sejak kemarin? Bukannya itu sudah menjadi tugas kamu menjaga anak saya? Kenapa dia bisa sakit seperti ini?" tanya Alex dengan tatapan tajamnya.


Glek


"Maaf tuan muda. Saya sudah melakukan berbagai macam cara untuk membujuk nona kecil agar mau makan tapi dia tetap tidak mau makan," ujar Dian dengan wajah ketakutan.


"Kenapa kamu tidak bilang pada saya kalau dia tidak mau makan? Bukannya kamu punya mulut untuk bicara?" tanya Alex seraya menahan emosi.


"Saya di ancam sama nona kecil agar tidak mengatakan apapun pada kalian. Jika saya tetap nekat memberitahukan pada tuan maka saya akan di pecat dari pekerjaan saya." Jelas Dian.


"Dua kali kamu hampir menghilangkan nyawa anak saya. Saya rasa kamu cukup bekerja di sini, karena saya tidak mau anak saya di asuh oleh orang yang tidak becus seperti kamu. Mulai sekarang kamu di pecat," ujar Alex dengan tegas.


Mendengar perkataan majikannya membuat Dian langsung saja berlutut di bawah kaki Alex. Sungguh, dia sangat takut jika sampai di pecat dari sini itu tandanya dia akan susah mendapatkan pekerjaan di tempat lain.


"Saya mohon tuan muda, jangan pecat Saya dari sini. Saya benar-benar membutuhkan pekerjaan ini untuk menghidupi keluarga saya yang ada di kampung." Mohon Dian seraya berlutut di bawah kaki Alex.


"Lex... Biarkan Dian bekerja di sini. Mama rasa Dian tidak bersalah, karena kita sudah tahu bagaimana sifat Ara yang suka mengancam orang lain. Wajar kalau Dian takut sama ancaman Ara," ujar Angelina yang merasa kasihan pada Dian baby sister cucunya itu.


"Kenapa mama melarang aku untuk tidak memecat wanita ini. Padahal dia sudah dua kali melakukan kesalahan?" tanya Alex.


"Apa kamu lupa dia tulang punggung keluarga nya. Jika kamu memecat dia dari sini maka selamanya dia tidak akan mendapatkan pekerjaan di tempat lain," ujar Angelina.


"Kamu dengar itu. Sudah dua orang yang membela kamu. Kemarin saat saya mau memecat kamu, istri saya yang mencegahnya. Sekarang mama saya juga mencegah agar saya tidak memecat kamu."


"Ingat, ini terakhir kalinya saya memberikan kamu kesempatan, jika kamu melakukan kesalahan lagi. Suka tidak suka kamu harus meninggalkan mansion ini," ujar Alex dengan tegas.


"Terima kasih tuan muda. Saya janji tidak akan melakukan kesalahan lagi," ujar Dian dengan perasaan lega. Sementara Alex sudah emosi sejak tadi.


"Kurang ajar. Jika bukan karena mama dan Claudia sudah lama aku bunuh wanita ini. Gara-gara wanita bodoh ini, putri ku hampir saja meninggal dunia," batin Alex dengan emosi tertahan.


"Lebih baik kamu pergi dulu dari sini. Nanti, jika kami memerlukan kamu, kami akan memanggil kamu lagi," ujar Angelina seraya menyuruh Dian agar pergi dari sini. Dia takut, Alex akan melakukan sesuatu pada Dian saat melihat wajah anaknya yang sedang emosi.


"Baik nyonya besar," jawab Dian seraya pergi dari sana.


โ€ข


โ€ข


โ€ข


Bersambung....


โœงโ‹„โ‹†โ‹…โ‹†โ‹„โœงโ‹„โ‹†โ‹…โ‹†โ‹„โœงโ‹„โ‹†โ‹…โ‹†โ‹„โœงโ‹„โ‹†โ‹…โ‹†โ‹„โœง

__ADS_1


__ADS_2