
Di rumah Claudia
"Cucu Oma sudah pulang. Di antar sama siapa tadi sayang?" tanya Ariana dengan suara lembut.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tadi Ala... di antal cama om lian oma." Jelas Arrabella.
"Oh... sudah minta terima kasih belum sama om Ryan nya?" tanya Ariana.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tentu saja sudah oma," jawab Arrabella lagi.
"Wah... pintarnya cucu oma. Tapi kenapa itu wajahnya kok cemberut begitu?" tanya Ariana dengan penasaran.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Ala... lagi Kesal cama daddy. Kalena daddy lebih sayang cama nenek sihil itu dali pada Ala yang anak na cendili... Hiks... Hiks..."
"Tenapa semua olang selalu membuat hati Ala teltekan oma? Ala juga penen puna daddy. Tapi, nenek sihil itu sudah melebut daddy na Ala... Hiks... Hiks... Sakit sekali hatina Ala oma," ujar Ara seraya menepuk hatinya yang terasa sakit.
"Siapa nenek sihir yang sudah membuat Ara menangis seperti ini?" tanya Ariana dengan kening mengkerut.
"Itu oma, aunty Cika yang bekelja di pelusahaan daddy. Padahal Ala ndak salah sedikit pun cama aunty Cika. Ala cuman menuluh daddy masukan aunty Cika ke lumah belpagal. Tapi daddy malah malahin Ala. Dan daddy lebih membela aunty Cika dali pada Ala yang anakna cendili. Dimana Ala ndak sakit hati oma. Ala benci cama daddy... Hiks... Hiks..." Ara menjelaskan seraya terisak.
"Oh... sayang, jangan menangis lagi. Nanti Ara tidak cantik lagi. Sudah biarkan saja daddynya Ara tidak sayang sama Ara. Yang penting oma sama yang lain sayang sama Ara." Bujuk Ariana agar cucunya berhenti menangis.
"Benal juga kata oma. Tenapa Ala halus menangis hanya gala-gala nenek sihil itu? Ala ndak mau wajah Ala jadi jelek. Nanti Ala ndak bisa jadi model lagi. Mulai cekalang Ala ndak mau beltemu daddy lagi. Ala akan adukan ini cama mommy bial daddy di benci cama mommy," ujar Ara.
Ariana yang mendengar perkataan cucunya hanya bisa pasrah dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan cucunya yang suka membuat masalah itu.
*
*
Saat ini Claudia sedang berada di restoran tempat dia selama ini mencari nafkah untuk putri semata wayangnya.
Claudia yang dulu di kenal sebagai anak yang manja dan putri seorang pengusaha kaya raya tapi lihat sekarang. Keadaannya berbanding terbalik dengan kehidupan nya yang dulu.
Tetapi berkat kesabaran dan kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Hingga dia menjadi orang yang sangat sukses di usianya yang ke 23 tahun sekarang.
"Clau! Kamu tidak takut membiarkan Ara pergi bersama dengan kak Maxim?" tanya Alice.
Saat ini mereka berdua sedang berada di ruangan nya Claudia yang ada di restoran tersebut.
"Emangnya kenapa dengan kak Maxim?" tanya Claudia dengan kening mengkerut.
"Bukannya kita baru saja kenal dengan dia, tapi kamu sudah membiarkan Ara pergi bersama dengan nya," ujar Alice.
"Bagaimana kalau dia berbuat tidak baik sama Ara bahkan menculiknya atau bisa jadi lebih parah dari itu... dan..."
__ADS_1
"Stop... kak Al," potong Claudia.
"Kak Al... kalau mau bicara jangan aneh-aneh. Sebaiknya kak Al berpikir dengan logis. Jika dia ada rencana jahat dengan kita.
"Kenapa dia harus repot-repot mengobarkan nyawanya untuk menolong Ara. Coba kak Al berpikir jika kak Maxim ingin menculik Ara kenapa dia harus datang ke rumah kita.
"Seharusnya dia bisa menyuruh seseorang untuk menculik Ara tanpa sepengetahuan kita. Ini dia malah datang sendiri ke rumah kita untuk meminta izin mengajak Ara jalan-jalan," ujar Claudia panjang kali lebar.
"Aku tidak menyangka kalau kak Alice bisa berpikiran buruk terhadap kak maxim. Padahal sudah jelas sekali kalau dia tidak ada niatan jahat sama Ara. Bahkan kalau dilihat dari sikap nya justru dia sangat menyukai Ara," batin Claudia.
"Ya, kamu benar juga Clau! Kenapa aku bisa punya pikiran buruk terhadap kak Maxim. Padahal sudah jelas sekali kalau dia sangat menyukai Ara," ujar Alice.
Tak Lama Kemudian
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," sahut seseorang yang ada di dalam ruangan itu.
Cklek
Masuklah seorang karyawan wanita yang datang terburu-buru menghampiri Claudia dan Alice yang saat ini berada di dalam ruangan kerjanya.
"No... nona Clau... nona Alice... di... di luar ada," ujar karyawan tersebut dengan terbata-bata karena panik.
"Ada apa susan? Kenapa kamu datang-datang ngogosan kayak gitu?" tanya Claudia yang heran melihat karyawannya lari-lari seperti di kejar penjahat.
"Coba tarik nafas dulu, habis itu jelaskan dengan pelan-pelan biar kita tahu apa yang ingin kamu bicarakan," sambungnya lagi.
"Begini nona Clau! Di luar ada pelanggan yang membuat keributan di restoran nona," kata Susan orang kepercayaan Claudia dengan wajah panik.
"Bagaimana bisa ada pelanggan yang membuat kekacauan di restoran saya susan? Bukannya di luar ada satpam yang berjaga?" tanya Claudia dengan penasaran.
"Mereka tidak bisa mengatasi masalah ini karena orang itu memberontak dan mereka kuwalahan menghadapi orang ini. Bahkan orang itu malah marah-marah sama pelayan kita nona." Jelas Susan.
"Ayo Clau... kita lihat apa yang terjadi di luar sekarang," sahut Alice seraya pergi dari sana.
"Ada apa ini? Kenapa anda membuat masalah di restoran kami?" tanya Alice saat melihat orang itu masih memberontak saat mau diseret keluar oleh satpam.
"Siapa anda? Mana manager restoran ini?" tanya orang itu yang membuat keributan di restoran Maple & Co milik Claudia.
"Saya Alice manager restoran ini. Kenapa anda mencari saya?" tanya Alice.
"Oh... jadi anda manager restoran ini," ujar orang itu seraya melepaskan dirinya dari satpam tadi dan menghampiri Alice dan Claudia yang berada di depannya saat ini.
"Apa anda tahu nona, pelayan anda sudah membuat masalah besar. Saya sudah bilang sama dia kalau makanan yang dia bawa tadi bukanlah pesanan saya.
"Tapi tetep saja dia menyuruh saya memakannya. Kata pelayan itu, kalau makanan yang dia bawa tadi gratis dan tidak perlu membayarnya.
"Tapi waktu saya dan anak-anak saya mau keluar dari restoran ini. Pelayan itu malah mempermalukan saya dan menuduh saya pencuri karena saya tidak membayar makanan itu," kata orang itu yang tak terima di permalukan di depan semua orang.
"Dia bohong nona Alice... makanan itu emang makanan yang dia pesan tadi. Dan saya tidak pernah bilang kalau makanan itu gratis," sahut pelayan itu dengan cepat.
__ADS_1
"Dia yang bohong bukan saya. Enak saja kamu menuduh saya yang berbohong," sahut orang itu.
"Tapi saya bicara jujur nona Alice. Dia yang bersalah bukan saya," ujar pelayan itu tak terima di salahkan.
"Stop... berhenti berdebat," sahut Claudia yang dari tadi melihat mereka bertengkar dan tidak ada yang mengaku siapa yang bersalah.
"Billa apa benar ibu ini tidak memesan makanan yang kamu sajikan tadi untuk dia, dan karena kamu salah menyajikan makanan itu hingga kamu menyuruh ibu ini untuk tidak perlu membayarnya?" tanya Claudia pada Billa pelayan yang bekerja di restoran nya itu.
"Saya tidak salah menyajikan makanan itu nona Clau, apalagi bilang kalau makanan yang ibu itu makan gratis." Jelas Billa yang takut di pecat padahal dia tak bersalah sama sekali.
Claudia yang mendengar perkataan pelayanannya hanya menghela nafas. Sebenarnya dia sudah tahu dari tadi kalau Billa tidak mungkin berbohong.
Karena dia selalu memantau karyawannya dan melihat apa ada orang yang berkhianat dengan nya atau tidak.
Tapi tidak ada diantara mereka yang berkhianat kepada nya. Mereka selama ini berkerja dengan giat dan jujur.
"Aku curiga. Mungkin saja ibu ini yang berbohong di sini. Tapi untuk apa dia berbuat keributan di restoran aku ini. Dilihat dari pakaian yang dia pakai bukan seperti orang miskin," batin Claudia.
"Nama ibu siapa?" tanya Claudia dengan suara lembut.
"Saya Hasna. Dan siapa kamu?" tanya Hasna yang heran melihat Claudia.
"Saya Claudia Bu... pemilik restoran ini. Jadi begini ibu. Saya tahu sebenarnya yang bersalah di sini bukan karyawan saya.
"Karena saya mengenal karyawan saya dengan baik. Mereka tidak mungkin berbohong apalagi menipu ibu dengan mengatakan makanan yang ibu makan gratis.
"Karena itu tak ada gunanya untuk mereka. Jadi ibu bisa bicara dengan jujur. Kenapa ibu membuat keributan di restoran saya ini?" tanya Claudia.
"Kenapa anda malah ikut-ikutan menuduh saya berbohong? Sudah jelas pelayan anda yang bersalah disini. Sebaiknya anda pecat saja pelayan itu," kata Hasna seraya menunjuk ke arah Billa.
"Saya tidak bersalah nona Clau. Tolong jangan pecat saya dari sini. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini nona," shut Billa seraya mengatupkan kedua tangannya untuk memohon agar dia tidak di pecat dari sini.
Claudia yang melihat pelayannya yang memohon seperti itu merasa iba. Karena dia tahu bukan Billa yang berbohong melainkan ibu itu yang berbohong.
Sementara Hasna merasa senang karena berpikir kalau pelayan itu akan di pecat dari sini.
"Ibu Hasna. Saya tahu siapa yang jujur dan siapa yang berbohong disini. Jadi saya bertanya sekali lagi untuk apa ibu Hasna membuat keributan di restoran saya ini?"
"Jadi tolong jawab dengan jujur. Saya berjanji tidak akan membawa masalah ini ke kantor polisi. Tapi dengan syarat ibu harus bicara dengan jujur tak boleh berbohong lagi. Tapi jika ibu masih bersikeras berbohong, dengan terpaksa saya akan melaporkan ibu ke kantor polisi," ujar Claudia seraya mengancam ibu Hasna agar mau mengakui perbuatan nya itu.
Ibu Hasna yang mendengar perkataan Claudia merasa takut kalau sampai dia dipenjara. Karena jika seandainya dia di penjara bagaimana dengan nasib anak-anaknya nanti.
Sementara orang-orang yang berada di restoran tersebut merasa takjub dengan Claudia yang masih berlaku sopan dan bicara dengan lembut sama orang yang sudah membuat keributan di restoran nya.
Jika pemilik lain mungkin sudah melaporkan ibu itu ke polisi. Karena gara-gara ibu itu membuat masalah membuat pelanggan lain terganggu. Dan mengakibatkan kerugian besar jika pelanggan lain lebih memilih pergi dari restoran itu tanpa membayarnya sedikit pun.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung......
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁