
Di Mansion Alexander Lemos
Saat ini Alex dan anaknya sedang sarapan pagi di meja makan. Sampai saat ini Alex belum juga menemukan keberadaan istrinya sehingga membuat dia frustasi dan dia justru melampiaskan kemarahannya pada karyawan yang ada di perusahaannya sendiri.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Daddy mau ke mana?" tanya Ara dengan penasaran.
"Daddy mau pergi ke kantor," balas Alex seraya duduk di meja makan.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Apa Ala boleh ikut?" tanya Ara dengan penuh harap.
"Lebih baik Ara tinggal di mansion saja sama aunty Dian," ujar Alex yang tidak mau membawa anaknya ke perusahaan dia.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Ala beljanji ndak akan menganggu kelja daddy di sana. Ala bosan di lumah telus kalena Ala ndak memiliki teman di sini," ujar Ara dengan wajah memelas.
"Apa Ara mau pergi sekolah? Jika mau daddy akan mendaftarkan Ara ke sekolah biar Ara ada teman di sana nanti," ujar Alex.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Ala ndak mau pelgi sekolah dulu tunggu umul Ala 5 tahun dulu balu Ala mau pelgi sekolah," ujar Ara.
"Terserah Ara saja," balas Alex dengan pasrah dia tidak mau memaksakan anaknya jika dia tidak mau pergi ke sekolah. Jika anaknya sudah siap pergi ke sekolah maka dengan senang hati dia mendaftarkan anaknya ke sekolah yang paling mahal di negara ini.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Boleh Ala ikut ke kantol cama daddy?" tanya Ara lagi dengan penasaran.
"Ara boleh ikut sama daddy tapi ingat, tidak boleh nakal apalagi menganggu pekerjaan daddy," ujar Alex seraya memperingati anaknya.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Oke daddy," jawab Ara dengan antusias.
"Sekarang Ara makan dulu setelah itu kita pergi ke kantor daddy," titah Alex dengan tegas yang di jawab anggukan kepala oleh Ara.
•
__ADS_1
•
•
Beberapa Jam Kemudian
Saat ini Alex dan anaknya sudah sampai di perusahaan Apple Inc milik Alexander Lemos. Saat sampai di lobby perusahaan para karyawan dan karyawati yang bekerja di sana langsung membungkukkan badannya sebagai tanda hormat pada atasan mereka.
Sementara Alex dan Ara hanya menganggukkan kepala nya saja setelah itu langsung saja mereka melangkah menuju ruangan Ceo Alexander Lemos.
"Itu anak tuan Alex ya? Aku tidak menyangka anak tuan Alex sangat cantik dan mirip sekali seperti tuan Alex," ujar si A saat melihat Ara yang datang ke perusahaan ayahnya.
"Itu nona Arrabella anak pertama tuan Alex dan saat ini tuan Alex sedang menanti kelahiran anak ke dua mereka," sahut si B.
"Jadi istri tuan Alex saat ini sedang hamil anak kedua?" tanya si A dengan penasaran.
"Iya, aku lihat sendiri saat nyonya Claudia berkunjung ke perusahaan ini dalam keadaan perut buncit. Tapi setelah hari itu sampai sekarang nyonya Claudia tidak pernah datang lagi ke perusahaan ini mungkin tuan Alex tidak mau istri dan calon anaknya kenapa-kenapa," jelas si B.
"Itu karena tuan Alex sangat mencintai istrinya makanya dia bersikap protektif seperti itu," sahut si A.
"Kamu benar juga. Tuan Alex hanya bersikap lembut hanya pada istrinya saja tapi jika pada karyawan nya malah bersikap ketus dan datar aku saja sangat takut jika harus berhadapan dengan tuan Alex," ujar si B.
"Dia sering marah-marah pada karyawan nya jika ada yang berbuat salah walaupun hanya kesalahan kecil bahkan tuan Alex langsung memecat karyawan nya tanpa perasaan sedikitpun," sahut si C seraya mengingatkan teman-temannya agar tidak menggosipkan atasan mereka lagi.
Mendengar perkataan temannya membuat yang lain langsung ketakutan jika mereka di pecat dari perusahaan ini. Karena tidak mudah untuk bisa masuk ke perusahaan raksasa ini apalagi ngaji yang mereka terima lebih besar dari pada ngaji di perusahaan lain.
Dan mereka juga sangat tahu jika mereka di pecat dari perusahaan ini itu artinya mereka akan susah mendapatkan pekerjaan di tempat lain.
"Ayo, kita kembali bekerja aku tidak mau di pecat dari perusahaan ini," ajak si A yang di jawab anggukan kepala oleh yang lain seraya pergi dari sana.
Di Ruangan Kerja Alexander Lemos
"Ara main saja sama aunty Dian karena daddy mau bekerja dulu," titah Alex seraya berjalan ke arah kursi kebesarannya.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Apa na yang halus Ala main olang di sini ndak ada apa-apa. Sehalus na daddy membuat tempat belmain buat Ala bial kalau Ala datang ke sini ndak akan bosan begini," ujar Ara dengan wajah kesal.
"Siapa yang menyuruh kamu datang ke kantor daddy? Bukannya kamu sendiri yang merengek agar daddy membawa kamu ke sini? Jadi kamu jangan banyak protes jika kamu tidak suka di sini lebih baik kamu pulang saja sama Dian," ujar Alex.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
__ADS_1
"Apa daddy sudah lupa siapa pemilik pelusahaan ini? Ingat dad, saat ini Ala yang belkuasa bukan lagi daddy. Jika Ala mau, maka saat ini juga daddy akan menjadi olang miskin," ujar Ara seraya mengancam ayahnya.
"Ya sudah. Mulai sekarang daddy akan mengundurkan diri dari perusahaan ini. Dan kamu bisa menggantikan daddy di perusahaan sekarang juga. Daddy tidak masalah jika tidak bekerja di sini karena daddy memiliki otak yang pintar pasti banyak orang di luar sana yang mau memperkerjakan daddy di perusahaan mereka," ujar Alex dengan seringai liciknya.
Dia sangat tahu bagaimana cara membungkam anaknya agar tidak lagi mengancam dirinya. Karena anaknya masih sangat kecil mana tahu dia cara mengelola perusahaan sebesar ini. Jika perusahaan ini di serahkan pada anaknya tanpa menunggu lama perusahaan ini akan langsung bangkrut.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Telnyata daddy sudah tahu kelemahan Ala. Daddy sangat tahu jika Ala ndak mungkin bisa mengulus pelusahaan ini sendili jangan kan mengelus pelusahaan. Mengulus dili sendili saja Ala ndak mampu. Ah... lebih baik Ala mengalah saja dali pada Ala jatuh miskin," batin Ara dengan wajah cemas.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Oke, Ala mengaku kalah cama daddy, Ala beljanji ndak akan mengancam daddy lagi. Telselah daddy mau melakukan apa tapi ingat, Ala ndak akan lela kalau daddy membelikan halta Ala cama siluman ulal itu. Jika itu teljadi, lebih baik Ala menjual pelusahaan ini dali pada halta Ala di nikmati cama siluman ulal itu," ujar Ara penuh penekanan.
Mendengar perkataan anaknya membuat Alex geleng-geleng kepala. Dia benar-benar pusing memikirkan kelakuan anaknya yang gila harta ini. Masih kecil tapi sudah pintar memanfaatkan ayahnya demi keuntungan dia sendiri.
"Sudah berapa kali daddy kasih tahu sama kamu kalau daddy tidak pernah selingkuh sama wanita ondel-ondel itu. Jadi mana mungkin daddy akan memberikan harta daddy untuk dia." Alex sangat kesal sama anaknya karena dari tadi selalu menuduh dia selingkuh sama perempuan ondel-ondel itu padahal dia sudah menjelaskan pada anaknya kalau dia tidak pernah selingkuh tapi anaknya masih saja curiga padanya.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Baguslah kalau daddy ndak selingkuh cama siluman ulal itu. Kalena sampai kapan pun Ala ndak akan mau menelima siluman ulal itu menjadi mommy na Ala," ujar Ara yang menolak keras keberadaan wanita itu.
"Siapa juga yang mau memiliki istri seperti wanita ondel-ondel itu. Bagi daddy hanya mommy kamu satu-satunya wanita yang daddy cintai. Walaupun mommy kamu lebih memilih menikah dengan laki-laki lain maka daddy akan memisahkan dia dari suaminya itu. Karena daddy tidak akan rela istri daddy di miliki oleh orang lain karena dia hanya boleh menjadi milik daddy," ujar Alex yang tidak akan membiarkan istrinya di miliki oleh laki-laki lain.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Beldoa saja agal mommy mau memaafkan daddy dan kalian bisa tinggal belcama lagi sepelti dulu," ujar Ara yang berharap orang tuanya bisa hidup bersama lagi.
Mendengar perkataan anaknya membuat Alex terkejut karena tidak biasanya anaknya bicara seperti itu. Biasanya anaknya selalu membuat dia kesal dan emosi. Tapi sekarang anaknya justru berharap kedua orang tuanya bisa hidup bersama.
"Kenapa Ara bisa berubah seperti ini? Ah... bukannya itu bagus. Jika Ara berubah seperti ini itu artinya dia tidak ingin orang tuanya hidup berpisah. Sekarang aku hanya perlu mencari keberadaan Claudia dan menyakinkan dia agar mau kembali padaku," batin Alex dengan wajah bahagia, dia berharap istrinya bisa di temukan segera. Dan mereka bisa berkumpul lagi seperti dulu.
•
•
•
Bersambung....
🌿🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌿
__ADS_1